Polusi Suara

Kamis, April 02, 2020
Musik, sebagaimana kodrat yang seringkali kita pahami, merupakat alat hibur yang luar biasa kuat menancap pada kehidupan semua penghuni bumi. Paling-paling orang hanya berbeda soal genre yang disenangi. Selebihnya, seseorang bisa menikmati musik sebagai bunyi dengan caranya sendiri.

Ketika dulu desa belum didatangi televisi, manusianya menikmati radio di waktu rehat sembari mengebulkan asap rokok terwe ala mereka sendiri. Pun orang pernah berada di era rela membeli mp3 demi mendengar musik. Ketika masa VCD dulu pun orang paling hanya dua pilihan, film atau musik.

Itu semua hanya bukti saja bahwa musik begitu melekat pada kehidupan tiap personal manusia. Toh fasilitas saat ini juga melimpah untuk mengisi kehidupan dengan berbagai merdu suara yang disukai. Untuk menjadikan hidup menjadi nikmat, musik menunjangnya dengan luar biasa kuat. Acara apa yang tidak menyuguhkan musik? Sunatan ada musiknya, nikahan juga ada. Sound-sound besar dipasang untuk mengumandangkan lagu dengan lantang. Bahkan ngaji saja seringkali diseling dengan berdendang agar tak bosan. Nah, dari sini kan jelas, betapa sentralnya musik dan lagu dalam banyak hal.

Jika kemudian ditelisik lebih jauh, kadar dan kualitas musik menentukan penghayatan pendengarnya. Semakin merdu, semakin punya kans bisa dinikmati. Komposisi lirik dan nada lagunya menentukan seberapa lama lagu itu kuat bertahan. Sebab ada lagu senang didengar orang, tapi cepat lenyap dari peredaran. Ada yang lagu berpuluh tahun masih setia didengar bak tak lapuk oleh jaman.

Tapi selain menjadi sesuatu yang bisa menentramkan. Lagu juga bisa menjadi senjata menyakitkan di mulut orang yang salah. Misalnya, ketika ada orang yang berlagu ria dengan suara keras, tapi suaranya benar-benar tidak enak. Bukan hanya tidak enak, tapi benar-benar jelek. Na’asnya, mereka tidak sadar suara buruk sekali.

Kesadaran macam ini penting sekalipun bernyanyi. Sebab selain menjadikan orang senang, musik atau lagu bisa menjadikan hubungan bertetangga jadi renggang. Bagaimana tidak, orang dengan suara yang jelas-jelas tak bagus (lebih dekat ke jelek) dengan percaya diri yang tinggi memegang mic dan menyandungkan lagu bak suaranya adalah suara vokalis band ternama. Padahal, ya Alloh, sulit rasanya telinga ini menerima.  

Toh Aziz Jamrud telah mencontohkan, menyanyi tidak hanya bisa membuat hubungan tetangga renggang, tapi juga bisa menjadikan “pak RW datang bawa polisi”. Padahal menyanyi di dalam kamar mandi, lo.

Senikmat-nikmat lagu, di pita suara orang yang salah, akan menjengkelkan juga. Bahkan untuk lagu solawat teradem sekalipun. Semangat baiknya bisa kita terima, tapi tentu tidak dengan suaranya.

Saya senantiasa berharap dan meminta kepada Alloh, agar orang-orang semacam ini diberikan porsi kesadaran lebih banyak dari orang pada umumnya, untuk dialokasikan pada hal-hal semacam ini.

Masalahnya, saya tidak sendiri. Banyak orang yang merasakan hal yang sama. Dan masalahnya lagi, itu malah jadi bahan gerutuan yang menjurus gunjingan.

“Suara begitu kok sok-sokan nyanyi segala. Merusak telinga!!!”.

Nah, kan. Bahayanya jadi makin laten nan kental. Maka, tolong jaga kesadaran Anda dan jangan sekali-kali tergoda dengan semlohainya microfon. Jangan sampai Anda jadi korban gunjingan berikutnya dan menjerumuskan teman, kolega, dan tetangga ke medan rasan-rasan.




Ahmad Yusuf Tamami Founder percik.id. Penulis rubrik suluh Majalah MAYAra, Surabaya. Anggota Komunitas Belajar Waskita Islamiyah. 



Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.