Polusi Suara
Musik, sebagaimana kodrat yang seringkali
kita pahami, merupakat alat hibur yang luar biasa kuat menancap pada kehidupan
semua penghuni bumi. Paling-paling orang hanya berbeda soal genre yang
disenangi. Selebihnya, seseorang bisa menikmati musik sebagai bunyi dengan
caranya sendiri.
Ketika dulu desa belum didatangi televisi,
manusianya menikmati radio di waktu rehat sembari mengebulkan asap rokok terwe ala
mereka sendiri. Pun orang pernah berada di era rela membeli mp3 demi mendengar
musik. Ketika masa VCD dulu pun orang paling hanya dua pilihan, film atau musik.
Itu semua hanya bukti saja bahwa musik begitu
melekat pada kehidupan tiap personal manusia. Toh fasilitas saat ini juga
melimpah untuk mengisi kehidupan dengan berbagai merdu suara yang disukai.
Untuk menjadikan hidup menjadi nikmat, musik menunjangnya dengan luar biasa
kuat. Acara apa yang tidak menyuguhkan musik? Sunatan ada musiknya, nikahan
juga ada. Sound-sound besar dipasang untuk mengumandangkan lagu dengan lantang.
Bahkan ngaji saja seringkali diseling dengan berdendang agar tak bosan. Nah,
dari sini kan jelas, betapa sentralnya musik dan lagu dalam banyak hal.
Jika kemudian ditelisik lebih jauh, kadar dan
kualitas musik menentukan penghayatan pendengarnya. Semakin merdu, semakin
punya kans bisa dinikmati. Komposisi lirik dan nada lagunya menentukan seberapa
lama lagu itu kuat bertahan. Sebab ada lagu senang didengar orang, tapi cepat
lenyap dari peredaran. Ada yang lagu berpuluh tahun masih setia didengar bak
tak lapuk oleh jaman.
Tapi selain menjadi sesuatu yang bisa
menentramkan. Lagu juga bisa menjadi senjata menyakitkan di mulut orang yang
salah. Misalnya, ketika ada orang yang berlagu ria dengan suara keras, tapi
suaranya benar-benar tidak enak. Bukan hanya tidak enak, tapi benar-benar
jelek. Na’asnya, mereka tidak sadar suara buruk sekali.
Kesadaran macam ini penting sekalipun
bernyanyi. Sebab selain menjadikan orang senang, musik atau lagu bisa
menjadikan hubungan bertetangga jadi renggang. Bagaimana tidak, orang dengan
suara yang jelas-jelas tak bagus (lebih dekat ke jelek) dengan percaya diri
yang tinggi memegang mic dan menyandungkan lagu bak suaranya adalah suara
vokalis band ternama. Padahal, ya Alloh, sulit rasanya telinga ini menerima.
Toh Aziz Jamrud telah mencontohkan, menyanyi
tidak hanya bisa membuat hubungan tetangga renggang, tapi juga bisa menjadikan
“pak RW datang bawa polisi”. Padahal menyanyi di dalam kamar mandi, lo.
Senikmat-nikmat lagu, di pita suara orang
yang salah, akan menjengkelkan juga. Bahkan untuk lagu solawat teradem
sekalipun. Semangat baiknya bisa kita terima, tapi tentu tidak dengan suaranya.
Saya senantiasa berharap dan meminta kepada
Alloh, agar orang-orang semacam ini diberikan porsi kesadaran lebih banyak dari
orang pada umumnya, untuk dialokasikan pada hal-hal semacam ini.
Masalahnya, saya tidak sendiri. Banyak orang
yang merasakan hal yang sama. Dan masalahnya lagi, itu malah jadi bahan
gerutuan yang menjurus gunjingan.
“Suara begitu kok sok-sokan nyanyi segala.
Merusak telinga!!!”.
Nah, kan. Bahayanya jadi makin laten nan
kental. Maka, tolong jaga kesadaran Anda dan jangan sekali-kali tergoda dengan
semlohainya microfon. Jangan sampai Anda jadi korban gunjingan berikutnya dan
menjerumuskan teman, kolega, dan tetangga ke medan rasan-rasan.

Ahmad Yusuf Tamami Founder percik.id. Penulis
rubrik suluh Majalah MAYAra, Surabaya. Anggota Komunitas Belajar Waskita
Islamiyah.

Tidak ada komentar: