Asbak Tolak Balak
Sesekali
ia menata kembali beberapa tanaman yang berserakan setelah banjir menggenangi
kampung beberapa hari sebelumnya. Nampak beberapa puntung rokok yang tertancap
di pot bunga kamboja yang menghiasi teras depan pondok. Dalam hati ia bergumam,
siapa yang seenak udel menjejali pot itu dengan puntung rokok???
Tak
lama kemudian, Fikri datang dari arah belakang membawa glangsing berisi sampah
membantunya.
“Kang,
kok tumben ada puntung rokok di sini?”, tanya Fikri.
“Ndak
tahu Fik, biasanya juga gak pernah ada. Baru kali ini”, jawabnya.
Mereka
berdua memutuskan untuk segera menyelesaikan tugasnya karena hari semakin
siang. Sudah waktunya melanjutkan aktifitas pondok melanjutkan taklim.
Ba’da
taklim terlihat beberapa santri gayeng dengan asap tebal yang silih berganti
terbang dari hidung mereka. Nampaknya mereka asyik berdebat layaknya sidang DPR
yang ngotot beradu argumen.
“Sudah
karuan rokok itu halal kok masih ada yang melarang. Memangnya ada dalil pakem dari
al-qur’an tentang haramnya rokok???”, Kang Wakidun menjawab pertanyaan Kang
Rosyid.
“Memang
di al-quran ada dalil yang pakem tentang halalnya rokok!!!”, sergah Kang Rosyid
sambil nyruput kopi.
“Sesama
perokok dilarang saling mendahului, Kang?”, Si Udin datang sambil membawa
cemilan.
Lama
terjadi obrolan khas pondokan, membuat suasana teras menjadi semakin riuh. “Brrrrrakkk!!!.”Sesekali
meja bundar di teras itu menjadi korban pukulan tangan mereka. Seakan menjadi
jurus pamungkas setelah melempar argumen mereka masing-masing.
Akhirnya
mereka mendapati tiga kaidah hukum tentang rokok dalam kitab Irsyad
al-Ikhwan li bayani fi syurb al-qohwah wa ad-dukhon karya Mbah Yai Ihsan
Muhammad Dahlan atau akrab dengan sebutan Mbah Ihsan Jampes, Kediri. Yaitu
Haram, Makruh dan Mubah. Tergantung pisau analisis dan sudut pandang dari
masing-masing pemilik argumen. Yang jelas diantara mereka yang mulutnya masih “nyepur”
dan “ngebul” memilih kaidah hukum
makruh atau mubah atas rokok dan kopinya.
Suasana
riuh mendadak sunyi setelah Yai keluar dari ndalemnya yang berada tak jauh dari
teras tersebut. Lantas bertanya kepada Zaidun.
“Dun,
asbaknya mana???”
“Asbak
yang mana Yai?”, jawab Zaidun.
“ASBAK
TOLAK BALAK, kemarin saya taruh di teras depan sebelah pot bunga. Sekarang kok
tidak ada?”.
Spontan
seluruh santri di teras tersebut semburat mencari keberadaan ASBAK TOLAK BALAK
tersebut. Semuanya sibuk meniti dengan seksama, kira-kira dimana ujung batang
asbak milik yai.
Lama
mencari, tak satu pun dari mereka yang menemukan asbak. Santri satu per satu
merapat ke teras kembali. Yai pun bergumam di depan mereka,
“Eh
lha iyo, barang asbak saja dicari kok susah amat? Apa ndak tau ya kalau
dari asbak itu kita bisa mengusir balak?”
“BALAK
apa to, Yai?”, ujar Kang Rosyid.
“Itu, anjing
milik tetangga sebelah, namanya BALAK. Kata pemiliknya, ia fans berat mantan
pemain chelsea, Michael Ballack. Kalau “Si BALAK” anjing kudisan itu mengejar
kucing cucuku tak lempar saja asbak itu ke kepala BALAK.
“Oalah...Tak
kira BALAK virus Corona Yai...Yai!!!”, serempak santri menyahutnya.
“Kalau
tolak Corona (baca pakai huruf ‘Ce’) gampang, suruh keluar dulu si Corona. Kita
hajar ramai-ramai. Itu digorong-gorong banyak”, lanjut Sang Kiai.
“Itu
bukan Corona virus Yai..Tapi Coronang...Coro lanang (kecoa jantan). Kalau
Corodok..Coro wedok (kecoa betina)”. Sergah Zaidun
“Sudah,
sudah. Ayo lanjutkan kegiatan lain kalian. Gak usah dicari ASBAK TOLAK BALAK.
Nanti ketemu sendiri”, perintah Sang Kiai.
Dalam
hati Zaidun berkata, ‘Oalahhh... Tak pikir Tolak Balak beneran. Ternyata anjing
kudisan...???’.


Tidak ada komentar: