Dijadikan Corona Agar Manusia Mengingat Alloh

Minggu, Maret 29, 2020
“Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilanglah siapa yang kamu seru kecuali DIA, Maka tatkala DIA menyelamatkan kamu ke daratan, kamu berpaling. Dan manusia itu adalah selalu tidak berterima kasih.” [Qs. Al-Isro’: 67]


Dalam firmanNYA yang lain;

“Maka apabila mereka naik kapal mereka menyeru kepada Alloh dengan memurnikan ketaatan kepadaNYA; maka tatkala Alloh menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka [kembali] mempersekutukanNYA.” [Qs. Al-Ankabut: 65]

Dua ayat di atas menegaskan bahwa kebanyakan manusia untuk mengingat Alloh, mereka “harus dipaksa” masuk ke dalam zona terjepit dan takut akan bahaya. Meskipun manusia itu mbegedutnya kelewat batas, menurut informasi ayat di atas; ketika mereka berada dalam kondisi yang serba tidak menentu. Naluri kehambaannya akan segera muncul dan ingat kepada Alloh swt. Namun ketika merasa aman dan lebih disebabkan mbelgedesnya itu mereka segera lupa kepada DIA. Yang telah menolongnya.

Demikianlah watak kebanyakan manusia sejak dahulu kala hingga hari ini mereka  mempunyai kecenderungan besar untuk meremehkan Alloh. DIA seringkali “tidak dianggep”. Kena Corona tidak merasa bersalah, tidak lantas berintrospeksi diri apa sih kesalahan kita. Tidak ingat bahwa Alloh bersifat “ala kulli syai`in Qodir”, DIA berkuasa atas segala sesuatu. Dan terjadinya coronavirus ialah mutlak takdirNYA. DIA teramat sayang terhadap manusia. Sehingga menjadikan ketakutan dan kekhawatiran agar manusia mengingatNYA.

Dan kalau kemudian Alloh memperkenankan seorang pasien Coronavirus sembuh dan pulih, juga tidak ada suasana syukur, “wakana insanu kafuron” tidak ada sujud syukur, tidak ada “brokhoan dan bancaan” atau bentuk apapun yang mencerminkan ada hubungan antara manusia dengan Alloh swt.

Benar-benar tidak masuk akal. Sungguh sukar dipahami bahwa manusia benar-benar makhluk berakal, berlogika dan memiliki cara berpikir. Jika ternyata tidak tahu berterimakasih. Baik terhadap dokter yang telah membantunya, terlebih kepada Alloh swt.?

Tuhan dimarjinalkan, bahkan mungkin ditiadakan dalam ingatan dan peta akal manusia. Juga tidak cukup terasa bahwa di dalam jiwa Pancasila ini ada implementasi Ketuhanan Yang Maha Esa. Tuhan bukan baris teratas dalam daftar skala prioritas manusia di dunia. Tuhan sangat dilecehkan. Alloh telah lama tidak dijadikan nomor satu. Dan sumber dari segala petaka ialah ketika DIA dilupakan.

Karenanya wallohu a’lam; adanya virus corona yang mengguncang jagat raya ini adalah merupakan teguran, adzab, atau justru rohmatNYA. Mutlaq hanya DIA yang Mahamengetahui.

Sebagai orang mukmin, menurut Guru kami, hendaknya kita berhusnudhon kepadaNYA bahwa apapun yang ditakdirkanNYA pasti; baik, benar dan berfaidah.

Yakinlah bahwa virus corona adalah sebuah kebenaran yang didatangkan dari KekuasaanNYA yang pasti mengandung banyak kebaikan dan faedah. Asalkan kita termasuk orang-orang yang muttaqin. Sebab DIA berfirman; akan memberikan jalan keluar dalam setiap permasalahan bagi orang yang bertaqwa dan jugawayarzuqhu min haitsu layahtasib” artinya Alloh menginformasikan “barangsiapa fokus mengabdi hanya kepadaNYA, atau siapa bertaqwa kepada DIA, pasti DIA memberi penyelesaian segala kerupekan kehidupan dan rezeki yang tak terduga. Dalam artian tak terduga ialah tidak bisa diperhitungkan oleh pengetahuan dan ilmu manusia; wujudnya apa, seberapa besar, datangnya dari mana, dan dengan cara apa. Mutlak tidak bisa diperhitungkan. Dan hanya DIA. Yang Mahamengetahui.

Dan mafhum mukholafahnya “Barangsiapa fokus hidupnya tidak kepada Alloh, barang siapa bertaqwa kepada yang selain DIA, maka DIA menyiapkan adzab [kebalikannya rezeki] “min haitsu la yahtasib” yang tidak dapat dinyana-nyana kerawuhannya.

Sama persis dengan Coronavirus yang keberadaannya tidak dapat dideteksi; sedang merasuki siapa, sedang diangkut oleh siapa, di mana, kapan, tak ada manusia yang tahu. Cekak kenthese tidak ada seorang manusiapun yang merdeka dari hukum Alloh “min haitsu la yahtasib”. Ia bisa menjakiti siapa saja yang dikehendaki oleh DIA. Boleh tukang maksiat, boleh jadi orang taat, siapapun saja, tidak merdeka dari aturan langit “min haitsu la yahtasib”, baik dalam wujud rohmat ataupun adzab.

Hanya saja kita sebagai orang yang beriman wajib mengambil hikmah adanya virus corona. Bahwa DIA menyayangi kita dan hendak mananting kita ke dalam RohmatNYA. Agar senantiasa memurnikan ketaatan kepada-NYA. Dalam setiap keadaan terlebih dalam keadaan terhimpit dan ketakutan. Dan ketika dalam keadaan aman pun tetap gondelan denganNYA.

Dan jika ini adalah murni adzabNYA maka tidak ada perisai terbaik selain bersholawat kepada KekasihNYA Rosululloh saw. Dalam setiap kesempatan dan mohon ampun istighfar kepada DIA. Dengan penuh penyesalan. Terlebih disepertiga akhir setiap malam.

Dua hai inilah yang seyugjanya kita hidupkan di rumah kita masing-masing. Dalam kesendirian kita masing-masing. Dan senantiasa meyeru DIA dengan doa-doa yang telah diajarkan Kanjeng Nabi saw, diantaranya ialah membaca;

Dari Sahabat Utsman Bin Affan r.hu ia berkata; Rosululloh saw  bersabda: "Barangsiapa di permulaan siang atau permulaan malamnya membaca; dengan nama Alloh, dengan namaNYA tidak akan berbahaya sesuatu yang ada di bumi maupun yang ada di langit, dan DIA Mahamendengar lagi Mahamengetahui. Sebanyak tiga kali, maka tidak akan ada sesuatupun yang membahayakannya pada hari atau malam itu." [Hr. Imam Ahmad]

Mukhtarom Arsalan Pengasuh Ribath Ibadurrohman el-Luthfy, Benowo. Pernah menjadi mukimer Pondok Pesantren Tambak Bening



Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.