Dijadikan Corona Agar Manusia Mengingat Alloh
“Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilanglah siapa
yang kamu seru kecuali DIA, Maka tatkala DIA menyelamatkan kamu ke daratan,
kamu berpaling. Dan manusia itu adalah selalu tidak berterima kasih.” [Qs.
Al-Isro’: 67]
Dalam firmanNYA yang lain;
“Maka apabila mereka naik kapal mereka menyeru kepada Alloh
dengan memurnikan ketaatan kepadaNYA; maka tatkala Alloh menyelamatkan mereka
sampai ke darat, tiba-tiba mereka [kembali] mempersekutukanNYA.” [Qs.
Al-Ankabut: 65]
Dua ayat di atas menegaskan bahwa kebanyakan manusia untuk mengingat
Alloh, mereka “harus dipaksa” masuk ke dalam zona terjepit dan takut akan
bahaya. Meskipun manusia itu mbegedutnya kelewat batas, menurut
informasi ayat di atas; ketika mereka berada dalam kondisi yang serba tidak
menentu. Naluri kehambaannya akan segera muncul dan ingat kepada Alloh swt. Namun
ketika merasa aman dan lebih disebabkan mbelgedesnya itu mereka segera
lupa kepada DIA. Yang telah menolongnya.
Demikianlah watak kebanyakan
manusia sejak dahulu kala hingga hari ini mereka mempunyai kecenderungan besar untuk meremehkan
Alloh. DIA seringkali “tidak dianggep”. Kena Corona tidak merasa
bersalah, tidak lantas berintrospeksi diri apa sih kesalahan kita. Tidak ingat
bahwa Alloh bersifat “ala
kulli syai`in Qodir”, DIA berkuasa atas segala sesuatu. Dan
terjadinya coronavirus ialah mutlak takdirNYA. DIA teramat sayang terhadap
manusia. Sehingga menjadikan ketakutan dan kekhawatiran agar manusia
mengingatNYA.
Dan kalau kemudian Alloh
memperkenankan seorang pasien Coronavirus sembuh dan pulih, juga tidak ada
suasana syukur, “wakana insanu kafuron” tidak ada sujud syukur, tidak
ada “brokhoan dan bancaan” atau bentuk apapun yang mencerminkan ada
hubungan antara manusia dengan Alloh swt.
Benar-benar tidak masuk akal.
Sungguh sukar dipahami bahwa manusia benar-benar makhluk berakal, berlogika dan
memiliki cara berpikir. Jika ternyata tidak tahu berterimakasih. Baik terhadap
dokter yang telah membantunya, terlebih kepada Alloh swt.?
Tuhan dimarjinalkan, bahkan
mungkin ditiadakan dalam ingatan dan peta akal manusia. Juga tidak cukup terasa
bahwa di dalam jiwa Pancasila ini ada implementasi Ketuhanan Yang Maha Esa.
Tuhan bukan baris teratas dalam daftar skala prioritas manusia di dunia. Tuhan
sangat dilecehkan. Alloh telah lama tidak dijadikan nomor satu. Dan sumber dari
segala petaka ialah ketika DIA dilupakan.
Karenanya wallohu a’lam;
adanya virus corona yang mengguncang jagat raya ini adalah merupakan teguran,
adzab, atau justru rohmatNYA. Mutlaq hanya DIA yang Mahamengetahui.
Sebagai orang mukmin, menurut Guru
kami, hendaknya kita berhusnudhon kepadaNYA bahwa apapun yang ditakdirkanNYA
pasti; baik, benar dan berfaidah.
Yakinlah bahwa virus corona
adalah sebuah kebenaran yang didatangkan dari KekuasaanNYA yang pasti
mengandung banyak kebaikan dan faedah. Asalkan kita termasuk orang-orang yang
muttaqin. Sebab DIA berfirman; akan memberikan jalan keluar dalam setiap
permasalahan bagi orang yang bertaqwa dan juga “wayarzuqhu
min haitsu layahtasib” artinya Alloh menginformasikan
“barangsiapa fokus mengabdi hanya kepadaNYA, atau siapa bertaqwa kepada DIA, pasti
DIA memberi penyelesaian segala kerupekan kehidupan dan rezeki yang tak
terduga. Dalam artian tak terduga ialah tidak bisa diperhitungkan oleh
pengetahuan dan ilmu manusia; wujudnya apa, seberapa besar, datangnya dari
mana, dan dengan cara apa. Mutlak
tidak bisa diperhitungkan. Dan hanya DIA. Yang Mahamengetahui.
Dan mafhum mukholafahnya “Barangsiapa fokus hidupnya tidak kepada Alloh,
barang siapa bertaqwa kepada yang selain DIA, maka DIA menyiapkan adzab [kebalikannya
rezeki] “min haitsu la
yahtasib” yang tidak dapat dinyana-nyana kerawuhannya.
Sama persis dengan Coronavirus yang
keberadaannya tidak dapat dideteksi; sedang merasuki siapa, sedang diangkut
oleh siapa, di mana, kapan, tak ada manusia yang tahu. Cekak kenthese tidak ada
seorang manusiapun yang merdeka dari hukum Alloh “min haitsu la yahtasib”. Ia bisa menjakiti siapa
saja yang dikehendaki oleh DIA. Boleh tukang maksiat, boleh jadi orang taat,
siapapun saja, tidak merdeka dari aturan langit “min haitsu la yahtasib”, baik dalam wujud
rohmat ataupun adzab.
Hanya saja kita sebagai orang
yang beriman wajib mengambil hikmah adanya virus corona. Bahwa DIA menyayangi
kita dan hendak mananting kita ke dalam RohmatNYA. Agar senantiasa memurnikan
ketaatan kepada-NYA. Dalam setiap keadaan terlebih dalam keadaan terhimpit dan
ketakutan. Dan ketika dalam keadaan aman pun tetap gondelan denganNYA.
Dan jika ini adalah murni adzabNYA maka tidak ada perisai
terbaik selain bersholawat kepada KekasihNYA Rosululloh saw. Dalam setiap
kesempatan dan mohon ampun istighfar kepada DIA. Dengan penuh penyesalan. Terlebih
disepertiga akhir setiap malam.
Dua hai inilah yang seyugjanya kita hidupkan di rumah kita
masing-masing. Dalam kesendirian kita masing-masing. Dan senantiasa meyeru DIA
dengan doa-doa yang telah diajarkan Kanjeng Nabi saw, diantaranya ialah membaca;
Dari Sahabat Utsman Bin Affan r.hu ia berkata; Rosululloh
saw bersabda: "Barangsiapa di
permulaan siang atau permulaan malamnya membaca; dengan nama Alloh, dengan
namaNYA tidak akan berbahaya sesuatu yang ada di bumi maupun yang ada di
langit, dan DIA Mahamendengar lagi Mahamengetahui. Sebanyak tiga kali, maka
tidak akan ada sesuatupun yang membahayakannya pada hari atau malam itu."
[Hr. Imam Ahmad]
Mukhtarom Arsalan Pengasuh Ribath Ibadurrohman el-Luthfy, Benowo. Pernah menjadi mukimer Pondok Pesantren Tambak Bening

Tidak ada komentar: