Dari Abu Bakroh r.hu, sesungguhnya
Rosululloh saw. bersabda, “Inilah doa-doa orang yang tertimpa malapetaka, “Ya
Alloh, rohmatMU-lah yang kuharapkan. Janganlah Engkau serahkan (urusanku)
atas diriku sendiri walau sekejap mata, dan perbaguslah segala urusanku, tiada
sesembahan yang berhak disembah selain Engkau”.” (Hr.Abu Dawud dan
Ahmad)
Da’watul makrûbi artinya, doa orang yang tertimpa
malapetaka. Kata al-makrûb dapat bermakna al-maghmûm dan al-mahzûn yakni orang yang tetimpa rasa
penyesalan dan kesedihan.
Allohumma rohmataka arjû artinya,
ya Alloh, RohmatMU yang kuharapkan. Dalam kalimat ini maf’ul bih-nya
didahulukan dari Fi’il-nya, rohmataka (maf’ul bih) dan arjû (fi’il
madhi). Hal itu menunjukkan kekhususan dalam pengharapan rohmat hanya kepada
Alloh swt. Sebab hanya Alloh-lah yang dapat memberi Rohmat.
Falâ
takilnî ilâ nafsî artinya,
maka jangan Engkau serahkan (urusanku) atas diriku. Setiap manusia memiliki
hawa nafsu. Rosululloh saw. juga pernah mengatakan bahwa jihad terbesar adalah
melawan hawa nafsu. Siapapun tidak bisa melawan hawa nafsunya sendiri karena
sangatnya kefakiran dalam diri manusia, syaddatul iftiqor. Maka
mintalah perlindungan kepada Alloh agar dapat mengendalikan nafsu syahwat secara
terus-menerus sehingga dapat mengendalikannya.
Thorfata ’ain artinya, sekejap mata. Ingatlah kepada
Alloh di setiap waktu, setiap detik atau setiap detak jantung. Jangan pernah
kita melupakan Alloh dan jangan lupa pula meminta perlindungan kepadaNYA barang
sekejappun.
Wa ashlih lî
sya`nî kullah artinya,
dan perbaguslah segala urusanku. Atau juga bermakan al-ahwâl (segala hal atau kondisi)
dan al-umûr (setiap perkara). Yakni setiap kondisi, urusan dan
perkara yang dilalui oleh seorang manusia dalam menapaki rangkaian kehidupan,
baik di dunia maupun setelah kematian.
Lâ
ilâha illa anta artinya, tiada sesembahan yang berhak disembah selain
Engkau. Kalimat tauhid ini sangat luas maknanya, di antaranya adalah al-iqrôr ( perjanjian atau
persetujuan), al-idz’ân (kepatuhan) dan isyhâdun
bil-wahdâniyati al-haqqoti (persaksian atas ke-esa-an Alloh
dan kebenarannya.
Jika
Anda pernah mendengar, melihat atau membaca pendapat dari orang-orang yang
seolah-olah mengandung motivasi, semisal, “mengapa kita tidak percaya pada
kemampuan diri sendiri? Sedikit-sedikit mengadu, sedikit-sedikit memohon.”
Atau sesuatu pemikiran yang mengarah pada hal-hal semacam
itu, maka tinggalkanlah! Hal itu dapat menjebak cara berpikir dan
pola pikir umat beragama dan berkeyakinan. Pendapat semacam itu memang
seolah-olah benar. Tetapi sebagai seorang yang beriman dan berkeyakinan
terhadap Alloh dan hari akhir, Anda harus yakin bahwa Alloh Mahakuasa, sedang
manusia lemah dan faqir (syaddatul iftiqor / sangat butuh kepada Alloh).
Jadi, mengadu kepada Alloh swt. dan berdoa kepadanya merupakan sesuatu yang
sangat penting.
Doa
tidak hanya sekadar terkait dengan permohonan atau pengaduan belaka. Secara
bahasa, doa adalah bentuk masdar, yaituدعاء (du’â`un) atau دعوة (da’watun) dan bentuk jamaknya adalah أدعياء & أدعية (ad’iyâ`u & ad’iyatun) yang berarti menyeru, memanggil atau memohon. Dalam
al-Qur’an, doa memiliki banyak arti, di antaranya sebagai, ibadah, pujian atau
sanjungan, seruan atau an-Nida’, permohonan (ath-tholab /
as-su`âl), percakapan
atau dialog (al-Qoul), meminta pertolongan (al-isti’ânah
/ al-Istighotsah),
motivasi untuk melakukan sesuatu (Al-Hats-tsu ‘alasy-syai`i) dan lain
sebagainya.
Alloh
swt. Berfirman, “Dan apabila hamba-hambaKU bertanya kepadamu tentang
AKU, maka (jawablah), bahwa AKU sangat dekat. AKU mengabulkan permohonan orang
yang berdoa apabila ia memohon kepadaKU, maka hendaklah mereka itu memenuhi
(panggilan / perintah)KU dan hendaklah mereka beriman kepadaKU agar mereka
selalu berada dalam kebenaran (al-Baqarah 2:186)
Rosululloh
saw. telah mengajarkan dan meneladankan kepada umat manusia, bahwa di setiap
kondisi apapun senantia menyeru dan mengadu kepada Alloh Azza wa-Jalla dengan
untaian doa-doa yang diucapkan oleh Beliau saw. setiap melakukan apapun, tidak
hanya sebatas ketika beribadah saja. Dalam laku keseharian Rosululloh saw.
selalu dihiasi dengan doa dan penyampaian segala sebagai bentuk ta’addubiyah
dan penghormatan sesuatu kepadaNYA.
Setiap
laku keseharian ini, marilah kita niatkan hanya untuk beribadah kepada Alloh
swt. Agar meskipun kita beramal dunia, tetap ternilai ibadah. Serta jangan
pernah meninggalkan doa, sebab Rosulloh saw. pernah bersabda bawha doa
merupakan inti daripada ibadah. Dari bangun tidur, beraktifitas sehabis tidur,
dan sampai tidur kembali ada tuntunan doa yang telah Rosululloh ajarkan. Untuk
itu, teruslah berdoa di setiap waktu apapun. Haturkan sembah sungkem kepadaNYA
tanpa keraguan apakah Alloh mendengar atau tidak, Alloh melihat atau tidak. Wa-llôhu
samî’un
bashîrun.
Seperti dalam
hadis di atas, Rosululloh mengajarkan kepada kita untuk tetap berpegang teguh
kepada Alloh Robbul ‘alamin walaupun dalam situasi dan kondisi yang tidak
menyenangkan sebab kita tertimpa musibah atau malapetaka. Kuatkan kesabaran dan keyakinan bahwa
Alloh tidak akan menguji hambanya melebihi batas kemampuannya. Serta terus
menerus menyukuri nikmat yang telah Alloh tetapkan kepada kita. Yakinlah dalam
setiap musibah yang datang akan menjadikan dan pasti membawa kebaikan dariNYA.
Tidak ada komentar: