Do'a Ketika Tertimpa Malapetaka

Kamis, Juli 07, 2016
عن أبي بكرةرضي الله عنه أنّ رسولَ الله صلى الله عليه وسلم قال: ﴿دَعْوَاتُ الْمَكْرُوْبِ: اللهم رَحْمَتَكَ أَرْجُوا، فَلاَ تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِى طَرْفَةَ عَيْنٍ، وَأَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ﴾ رواه ابو دود و أحمد

Dari Abu Bakroh r.hu, sesungguhnya Rosululloh saw. bersabda, “Inilah doa-doa orang yang tertimpa malapetaka, “Ya Alloh, rohmatMU-lah yang  kuharapkan. Janganlah Engkau serahkan (urusanku) atas diriku sendiri walau sekejap mata, dan perbaguslah segala urusanku, tiada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau”.”  (Hr.Abu Dawud dan Ahmad)

Pemahaman Hadis
Da’watul makrûbi artinya, doa orang yang tertimpa malapetaka. Kata al-makrûb dapat bermakna al-maghmûm dan al-mahzûn yakni orang yang tetimpa rasa penyesalan dan kesedihan.

Allohumma rohmataka arjû artinya, ya Alloh, RohmatMU yang kuharapkan. Dalam kalimat ini maf’ul bih-nya didahulukan dari Fi’il-nya, rohmataka (maf’ul bih) dan arjû (fi’il madhi). Hal itu menunjukkan kekhususan dalam pengharapan rohmat hanya kepada Alloh swt. Sebab hanya Alloh-lah yang dapat memberi Rohmat.

Falâ takilnî ilâ nafsî artinya, maka jangan Engkau serahkan (urusanku) atas diriku. Setiap manusia memiliki hawa nafsu. Rosululloh saw. juga pernah mengatakan bahwa jihad terbesar adalah melawan hawa nafsu. Siapapun tidak bisa melawan hawa nafsunya sendiri karena sangatnya kefakiran dalam diri manusia, syaddatul iftiqor. Maka mintalah perlindungan kepada Alloh agar dapat mengendalikan nafsu syahwat secara terus-menerus sehingga dapat mengendalikannya.

Thorfata  ’ain artinya, sekejap mata. Ingatlah kepada Alloh di setiap waktu, setiap detik atau setiap detak jantung. Jangan pernah kita melupakan Alloh dan jangan lupa pula meminta perlindungan kepadaNYA barang sekejappun.

Wa ashlih lî sya`nî kullah artinya, dan perbaguslah segala urusanku. Atau juga bermakan al-ahwâl (segala hal atau kondisi) dan al-umûr (setiap perkara). Yakni setiap kondisi, urusan dan perkara yang dilalui oleh seorang manusia dalam menapaki rangkaian kehidupan, baik di dunia maupun setelah kematian.

Lâ ilâha illa anta artinya, tiada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Kalimat tauhid ini sangat luas maknanya, di antaranya adalah al-iqrôr ( perjanjian atau persetujuan), al-idz’ân (kepatuhan) dan isyhâdun bil-wahdâniyati al-haqqoti (persaksian atas ke-esa-an Alloh dan kebenarannya.

Risalah Luthfiyah
Jika Anda pernah mendengar, melihat atau membaca pendapat dari orang-orang yang seolah-olah mengandung motivasi, semisal, “mengapa kita tidak percaya pada kemampuan diri sendiri? Sedikit-sedikit mengadu, sedikit-sedikit memohon.” Atau sesuatu pemikiran yang mengarah pada hal-hal semacam itu, maka tinggalkanlah! Hal itu dapat menjebak cara berpikir dan pola pikir umat beragama dan berkeyakinan. Pendapat semacam itu memang seolah-olah benar. Tetapi sebagai seorang yang beriman dan berkeyakinan terhadap Alloh dan hari akhir, Anda harus yakin bahwa Alloh Mahakuasa, sedang manusia lemah dan faqir (syaddatul iftiqor / sangat butuh kepada Alloh). Jadi, mengadu kepada Alloh swt. dan berdoa kepadanya merupakan sesuatu yang sangat penting.

Doa tidak hanya sekadar terkait dengan permohonan atau pengaduan belaka. Secara bahasa, doa adalah bentuk masdar, yaituدعاء (du’â`un) atau دعوة (da’watun) dan bentuk jamaknya adalah أدعياء &  أدعية (ad’iyâ`u & adiyatun) yang berarti menyeru, memanggil atau memohon. Dalam al-Qur’an, doa memiliki banyak arti, di antaranya sebagai, ibadah, pujian atau sanjungan, seruan atau an-Nida’, permohonan (ath-tholab / as-su`âl), percakapan atau dialog (al-Qoul), meminta pertolongan (al-isti’ânah / al-Istighotsah), motivasi untuk melakukan sesuatu (Al-Hats-tsu ‘alasy-syai`i) dan lain sebagainya.

Alloh swt. Berfirman, “Dan apabila hamba-hambaKU bertanya kepadamu tentang AKU, maka (jawablah), bahwa AKU sangat dekat. AKU mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepadaKU, maka hendaklah mereka itu memenuhi (panggilan / perintah)KU dan hendaklah mereka beriman kepadaKU agar mereka selalu berada dalam kebenaran (al-Baqarah 2:186)

Rosululloh saw. telah mengajarkan dan meneladankan kepada umat manusia, bahwa di setiap kondisi apapun senantia menyeru dan mengadu kepada Alloh Azza wa-Jalla dengan untaian doa-doa yang diucapkan oleh Beliau saw. setiap melakukan apapun, tidak hanya sebatas ketika beribadah saja. Dalam laku keseharian Rosululloh saw. selalu dihiasi dengan doa dan penyampaian segala sebagai bentuk ta’addubiyah dan penghormatan sesuatu kepadaNYA.

Setiap laku keseharian ini, marilah kita niatkan hanya untuk beribadah kepada Alloh swt. Agar meskipun kita beramal dunia, tetap ternilai ibadah. Serta jangan pernah meninggalkan doa, sebab Rosulloh saw. pernah bersabda bawha doa merupakan inti daripada ibadah. Dari bangun tidur, beraktifitas sehabis tidur, dan sampai tidur kembali ada tuntunan doa yang telah Rosululloh ajarkan. Untuk itu, teruslah berdoa di setiap waktu apapun. Haturkan sembah sungkem kepadaNYA tanpa keraguan apakah Alloh mendengar atau tidak, Alloh melihat atau tidak. Wa-llôhu samîun bashîrun.


Seperti dalam hadis di atas, Rosululloh mengajarkan kepada kita untuk tetap berpegang teguh kepada Alloh Robbul ‘alamin walaupun dalam situasi dan kondisi yang tidak menyenangkan sebab kita tertimpa musibah atau malapetaka. Kuatkan kesabaran dan keyakinan bahwa Alloh tidak akan menguji hambanya melebihi batas kemampuannya. Serta terus menerus menyukuri nikmat yang telah Alloh tetapkan kepada kita. Yakinlah dalam setiap musibah yang datang akan menjadikan dan pasti membawa kebaikan dariNYA.
v     أبو داود، كتاب الأدب، باب ما يقول إذا أصبح، برقم 5090، وأحمد 34/ 75 برقم 20430، وحسنه الألباني في صحيح أبي داود 3/ 250، وفي صحيح الأدب المفرد 260، وقد حسن إسناده أيضاً العلامة ابن باز في تحفة الأخيار، ص 24



Fery Fadly Jauhari Penyair asal Sumenep. Kini tinggal di Surabaya. Buku Puisinya akan terbit dalam waktu dekat.  



Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.