Menjadi Pasif yang Benar
Semoga doa selama bulan Ramadhan kemarin diijabah oleh
Alloh Swt.” Sepintas kalimat tersebut sah-sah saja dan tidak ada yang salah.
Akan tetapi, jika kita cermati lagi ada kesalahan yang fatal namun samar.
Semakin berkembangnya gaya tulisan kontemporer yang tidak memperhatikan kaidah
bahasa sepertinya semakin marak dan terasa lebih nyaman dinikmati. Perubahan
itu memang lumrah dan tidak ada salahnya, namun tepat guna sebuah diksi,
gramatikal, istilah dalam sebuah karya tulis adalah hal yang tidak boleh
dikesampingkan terlebih tulisan ilmiah.
Contoh kalimat di atas akan terasa lebih
tidak apa-apa lagi jika diucapkan secara verbal, namun tetap saja kurang tepat.
Kalimat-kalimat pasif dengan subyek orang pertama tunggal seringkali tidak
tepat penggunaannya. “Tiga sisir pisang di meja makan dimakan lahap oleh
Rosyid.” Sekali lagi, sepertinya tidak ada yang salah, tetapi pembentukan
kalimat pasif di atas adalah contoh kalimat yang tidak tepat.
Kaidah penulisan kalimat pasif adalah
mengubah kata kerja dengan imbuhan me- menjadi di-. Membuat berubah menjadi
dibuat, memberi berubah menjadi diberi, melaksanakan berubah menjadi
dilaksanakan, kemudian mendapatkan tambahan kata oleh. Subyek berubah
posisinya, ia berada dibelakang kata oleh setelah kata kerja seperti pada
contoh berikut, “Tugas kantor yang begitu banyak berhasil dikerjakan oleh
mereka dengan baik.”
Akan tetapi, berbeda aturan ketika subyeknya
adalah orang pertama tunggal seperti saya, aku, dia, nama orang (tunggal), kamu,
dan beliau. Sebuah contoh kalimat aktif berikut akan saya ubah menjadi kalimat
pasif. “Di Bulan Syawal ini beliau mengingatkan saudara-saudaranya
agar tetap bergiat-giat dalam beribadah seperti bulan Ramadhan.” Maka, kalimat
pasif yang tepat dengan subyek beliau seperti kalimat di atas adalah “Di Bulan
Syawal ini saudara-saudaranya beliau ingatkan agar
tetap bergiat-giat dalam beribadah seperti bulan Ramadhan.” Posisi subyek tetap
berada di depan kata kerja yang telah dihilangkan imbuhan me- nya (kata kerja
perintah) dan berada di belakang obyek. Contoh kalimat lain yang lebih
sederhana, “Semoga Alloh Swt. mengabulkan doa kita semua,” akan berubah menjadi
kalimat pasif sebagai berikut “Semoga doa kita semua Alloh Swt. kabulkan.”
Menulis dengan berbagai gaya, kaidah, dan
aturan adalah seni tiap-tiap penulisnya. Akan tetapi, ada baiknya jika
tiap-tiap penulis memiliki ilmu tentang menulis walaupun hanya sedikit.
Improvisasi dalam tiap gaya penulisan atau pidato adalah hak tiap pelakunya.
Nyaman dibaca, didengar, dinikmati, dan terpenting dirasakan manfaat dan
berkahnya adalah kekuatan daya ikat emosional penulis dalam menyebarkan
informasinya.
Selamat
menulis!
Pandu T. Amukti Doktor Hewan lulusan Universitas Airlangga yang kini mempraktikkan ilmunya di Kabupaten Bondowoso. Co-Founder KURMAfoundation


Tidak ada komentar: