Menjadi Pasif yang Benar

Sabtu, Juli 09, 2016
Semoga doa selama bulan Ramadhan kemarin diijabah oleh Alloh Swt.” Sepintas kalimat tersebut sah-sah saja dan tidak ada yang salah. Akan tetapi, jika kita cermati lagi ada kesalahan yang fatal namun samar. Semakin berkembangnya gaya tulisan kontemporer yang tidak memperhatikan kaidah bahasa sepertinya semakin marak dan terasa lebih nyaman dinikmati. Perubahan itu memang lumrah dan tidak ada salahnya, namun tepat guna sebuah diksi, gramatikal, istilah dalam sebuah karya tulis adalah hal yang tidak boleh dikesampingkan terlebih tulisan ilmiah.

Contoh kalimat di atas akan terasa lebih tidak apa-apa lagi jika diucapkan secara verbal, namun tetap saja kurang tepat. Kalimat-kalimat pasif dengan subyek orang pertama tunggal seringkali tidak tepat penggunaannya. “Tiga sisir pisang di meja makan dimakan lahap oleh Rosyid.” Sekali lagi, sepertinya tidak ada yang salah, tetapi pembentukan kalimat pasif di atas adalah contoh kalimat yang tidak tepat.


Kaidah penulisan kalimat pasif adalah mengubah kata kerja dengan imbuhan me- menjadi di-. Membuat berubah menjadi dibuat, memberi berubah menjadi diberi, melaksanakan berubah menjadi dilaksanakan, kemudian mendapatkan tambahan kata oleh. Subyek berubah posisinya, ia berada dibelakang kata oleh setelah kata kerja seperti pada contoh berikut, “Tugas kantor yang begitu banyak berhasil dikerjakan oleh mereka dengan baik.”


Akan tetapi, berbeda aturan ketika subyeknya adalah orang pertama tunggal seperti saya, aku, dia, nama orang (tunggal), kamu, dan beliau. Sebuah contoh kalimat aktif berikut akan saya ubah menjadi kalimat pasif. “Di Bulan Syawal ini beliau mengingatkan saudara-saudaranya agar tetap bergiat-giat dalam beribadah seperti bulan Ramadhan.” Maka, kalimat pasif yang tepat dengan subyek beliau seperti kalimat di atas adalah “Di Bulan Syawal ini saudara-saudaranya beliau ingatkan agar tetap bergiat-giat dalam beribadah seperti bulan Ramadhan.” Posisi subyek tetap berada di depan kata kerja yang telah dihilangkan imbuhan me- nya (kata kerja perintah) dan berada di belakang obyek. Contoh kalimat lain yang lebih sederhana, “Semoga Alloh Swt. mengabulkan doa kita semua,” akan berubah menjadi kalimat pasif sebagai berikut “Semoga doa kita semua Alloh Swt. kabulkan.”


Menulis dengan berbagai gaya, kaidah, dan aturan adalah seni tiap-tiap penulisnya. Akan tetapi, ada baiknya jika tiap-tiap penulis memiliki ilmu tentang menulis walaupun hanya sedikit. Improvisasi dalam tiap gaya penulisan atau pidato adalah hak tiap pelakunya. Nyaman dibaca, didengar, dinikmati, dan terpenting dirasakan manfaat dan berkahnya adalah kekuatan daya ikat emosional penulis dalam menyebarkan informasinya.


Selamat menulis!

Pandu T. Amukti Doktor Hewan lulusan Universitas Airlangga yang kini mempraktikkan ilmunya di Kabupaten Bondowoso. Co-Founder KURMAfoundation 



Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.