Di Balik Ramainya Warung Berharga Mahal
"Terima
kasih sudah berbelanja di tempat kami," kata seorang mbak pramuniaga di
sebuah minimarket. Sungguh, budaya menghormati pembeli semakin dikedepankan
oleh mereka yang berbisnis modern. Memberikan pelayanan kepada customer rupanya
lebih dijunjung padahal belum tentu mereka memahami bagaimana Islam mengajarkan
kaidah memperlakukan orang lain dengan super santun. Memang orang-orang zaman
sekarang sepertinya memiliki pola pikir yang terbolak-balik. Pengaku Islam
lebih cenderung mengagumi modernisasi, pelaku modernisasi mulai mempraktikkan
hal fundamental yang dipelajari muslim-mukmin. Allohuakbar!
Suatu
pagi di Bulan Syawal saya cukup tertegun dengan apa yang Alloh takdirkan kala
itu. Ini perihal yang benar, ini yang seharusnya walaupun terlihat cukup
minoritas. Warung, sebuah warung yang saya kunjungi untuk menyantap sarapan
adalah warung yang cukup lama membuat saya penasaran. Selalu ramai, tak pernah
sepi pengunjung. Ada rasa ingin tahu seperti apa olahan makanan yang disajikan
hingga mengundang tamu untuk membeli porsi-porsi menu yang ditawarkan.
Rp
20.000/porsi adalah rata-rata harga yang tercantum di papan menu warung
tersebut. Menurut saya, cukup mahal untuk harga satu porsi nasi rawon, nasi
campur, nasi petis, nasi soto, dan nasi osek. Terlebih, ini Bangkalan, Madura.
Penawaran harga yang mahal sekali menurut saya.
Saya
coba menu nasi campur tanpa jerohan karena saya sangat tidak mau dengannya. Rp
20.000 untuk satu porsi nasi campur ternyata worth it bagi
saya. Apa yang disajikan cukup sepadan dengan harganya. Bukan soal kuantitas
tapi kualitasnya. Nasi campur khas Madura ini terdiri dari separuh telur rebus
dan dua iris daging berdiameter kurang lebih 5 cm dimasak santan, dua daging
empal yang cukup besar, sedikit kuah rawon asal basah, dan sambal buje
cabbih / uyah lombok. Rasanya? sopan di lidah dan tidak enek, pas. Saya
berpikir, mungkin ini yang membuat orang-orang tertarik untuk makan di warung
ini. Walaupun cukup mahal tetapi rasanya sesuai dengan harapan.
"Alhamdulillah,"
saya menutup dengan tegukan es jeruk yang saya pesan. Rp 27.000 untuk satu
porsi nasi campur a la Madura, es jeruk, dan sebungkus kerupuk siap saya bayar
saat bapak kasir menjawab pertanyaan saya berapa pak. Saya bayar dengan
perasaan syukur dan puas atas sajiannya, namun ketika saya menerima uang
kembalian sebesar Rp 3.000 ada hal yang sepertinya sudah sangat jarang saya
temukan, bahkan mungkin sudah ditinggalkan.
Bapak
kasir dengan halus mengucapkan, "Mator sakalangkong gih Mas, mugeh a
belih pole, Barokallohulakum (terima kasih ya Mas, semoga kembali
kesini lagi, Barokallohulakum).
Sejenak
saya berpura-pura membetulkan resleting tas saya, sembari nguping apa
saya salah dengar atau bapak kasir ini hanya mendoakan saya tapi tidak pada
pengunjung lainnya? Ternyata tidak, bapak kasir ini berulang kali mengucapkan
doa barokalloh kepada setiap tamu yang membayar hidangannya. Masya Alloh, masih
ada kok pelaku bisnis muslim yang tidak lupa dengan tradisi Islaminya, yang
memperlakukan tamu sesuai anjuran ad-diennya.
Anda
bisa membandingkan warung nasi campur di sekitar Bangkalan yang mungkin lebih
murah, lebih banyak menawarkan menu yang maknyus, lebih terlihat
menarik dari gaya bangunan, luasnya tempat parkir, meja dan kursi makan yang
lebih wah tetapi rupanya tidak seramai warung ini. Warung ini tidak memiliki
bangunan yang elegan, tidak memiliki lahan parkir khusus yang luas, meja
kursinya apa adanya, tapi bagi saya, ramainya pengunjung yang hendak makan di
warung ini bukan hanya karena hidangannya yang nikmat tapi lebih kepada guyuran
keberkahan yang Alloh turunkan untuk pelaku usahanya. Insya Alloh.
Anda
ke Bangkalan? Mampirlah kesini, Warung Amboina yang memiliki motto
"Kekeluargaan, tradisi, dan barokah." Lokasinya di sebelah barat
alun-alun dan bersebelahan dengan Masjid Agung Kabupaten Bangkalan. Perut
kenyang dan dapat doa gratis lagi tulus.
Pandu T. Amukti Doktor Hewan lulusan Universitas Airlangga yang kini mempraktikkan ilmunya di Kabupaten Bondowoso. Co-Founder KURMAfoundation

Tidak ada komentar: