Di Balik Ramainya Warung Berharga Mahal

Senin, Juli 11, 2016
"Terima kasih sudah berbelanja di tempat kami," kata seorang mbak pramuniaga di sebuah minimarket. Sungguh, budaya menghormati pembeli semakin dikedepankan oleh mereka yang berbisnis modern. Memberikan pelayanan kepada customer rupanya lebih dijunjung padahal belum tentu mereka memahami bagaimana Islam mengajarkan kaidah memperlakukan orang lain dengan super santun. Memang orang-orang zaman sekarang sepertinya memiliki pola pikir yang terbolak-balik. Pengaku Islam lebih cenderung mengagumi modernisasi, pelaku modernisasi mulai mempraktikkan hal fundamental yang dipelajari muslim-mukmin. Allohuakbar!

Suatu pagi di Bulan Syawal saya cukup tertegun dengan apa yang Alloh takdirkan kala itu. Ini perihal yang benar, ini yang seharusnya walaupun terlihat cukup minoritas. Warung, sebuah warung yang saya kunjungi untuk menyantap sarapan adalah warung yang cukup lama membuat saya penasaran. Selalu ramai, tak pernah sepi pengunjung. Ada rasa ingin tahu seperti apa olahan makanan yang disajikan hingga mengundang tamu untuk membeli porsi-porsi menu yang ditawarkan.

Rp 20.000/porsi adalah rata-rata harga yang tercantum di papan menu warung tersebut. Menurut saya, cukup mahal untuk harga satu porsi nasi rawon, nasi campur, nasi petis, nasi soto, dan nasi osek. Terlebih, ini Bangkalan, Madura. Penawaran harga yang mahal sekali menurut saya.

Saya coba menu nasi campur tanpa jerohan karena saya sangat tidak mau dengannya. Rp 20.000 untuk satu porsi nasi campur ternyata worth it bagi saya. Apa yang disajikan cukup sepadan dengan harganya. Bukan soal kuantitas tapi kualitasnya. Nasi campur khas Madura ini terdiri dari separuh telur rebus dan dua iris daging berdiameter kurang lebih 5 cm dimasak santan, dua daging empal yang cukup besar, sedikit kuah rawon asal basah, dan sambal buje cabbih / uyah lombok. Rasanya? sopan di lidah dan tidak enek, pas. Saya berpikir, mungkin ini yang membuat orang-orang tertarik untuk makan di warung ini. Walaupun cukup mahal tetapi rasanya sesuai dengan harapan.

"Alhamdulillah," saya menutup dengan tegukan es jeruk yang saya pesan. Rp 27.000 untuk satu porsi nasi campur a la Madura, es jeruk, dan sebungkus kerupuk siap saya bayar saat bapak kasir menjawab pertanyaan saya berapa pak. Saya bayar dengan perasaan syukur dan puas atas sajiannya, namun ketika saya menerima uang kembalian sebesar Rp 3.000 ada hal yang sepertinya sudah sangat jarang saya temukan, bahkan mungkin sudah ditinggalkan.

Bapak kasir dengan halus mengucapkan, "Mator sakalangkong gih Mas, mugeh a belih pole, Barokallohulakum (terima kasih ya Mas, semoga kembali kesini lagi, Barokallohulakum).

Sejenak saya berpura-pura membetulkan resleting tas saya, sembari nguping apa saya salah dengar atau bapak kasir ini hanya mendoakan saya tapi tidak pada pengunjung lainnya? Ternyata tidak, bapak kasir ini berulang kali mengucapkan doa barokalloh kepada setiap tamu yang membayar hidangannya. Masya Alloh, masih ada kok pelaku bisnis muslim yang tidak lupa dengan tradisi Islaminya, yang memperlakukan tamu sesuai anjuran ad-diennya.

Anda bisa membandingkan warung nasi campur di sekitar Bangkalan yang mungkin lebih murah, lebih banyak menawarkan menu yang maknyus, lebih terlihat menarik dari gaya bangunan, luasnya tempat parkir, meja dan kursi makan yang lebih wah tetapi rupanya tidak seramai warung ini. Warung ini tidak memiliki bangunan yang elegan, tidak memiliki lahan parkir khusus yang luas, meja kursinya apa adanya, tapi bagi saya, ramainya pengunjung yang hendak makan di warung ini bukan hanya karena hidangannya yang nikmat tapi lebih kepada guyuran keberkahan yang Alloh turunkan untuk pelaku usahanya. Insya Alloh.

Anda ke Bangkalan? Mampirlah kesini, Warung Amboina yang memiliki motto "Kekeluargaan, tradisi, dan barokah." Lokasinya di sebelah barat alun-alun dan bersebelahan dengan Masjid Agung Kabupaten Bangkalan. Perut kenyang dan dapat doa gratis lagi tulus.


Pandu T. Amukti Doktor Hewan lulusan Universitas Airlangga yang kini mempraktikkan ilmunya di Kabupaten Bondowoso. Co-Founder KURMAfoundation 



Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.