Salam, Tanda Sikap Andap Asor dan Welas Asih

Senin, Juli 11, 2016

Salam adalah hal yang sangat umum, salam merupakan cara atau tindakan menyapa seseorang yang dengan sengaja untuk mengomunikasikan atau memberitahukan akan kedatangan ataupun adanya orang lain. Ucapan salam dalam agama Islam menrupakan doa, doa bagi yang diberi salam dan yang dijawab salamnya.

Ucapan salam sangat berpengaruh dalam kehidupan sosial bermasyarakat dan beragama. Dengan mengucap salam kita dapat menjalin persaudaraan, kasih sayang serta saling mendo’akan. Maka dari itulah agama Islam mengajarkan bagi pemeluknya untuk Afsus Salam “menyebarkan salam”.

Namun lebih dari itu, harus kita pahami bahwa salam bukan sekedar ajaran agama. Salam memiliki kekuatan, memiliki energi, memiliki aura dan memiliki kecerdasan. Karena dengan mengucap salam “dengan ucapan”, tidak di dalam hati, dengan berfikir secara filosofis akan menumbuhkan pakulinan-pakulinan yang baik.

Kata-kata yang baik, fikiran yang baik, sikap yang baik, serta tindakan yang baik itu akan mengeluarkan akumulasi kecerdasan.  Maka dengan hal yang sangat sedehana ini saja, dinul islam telah mengungkit akan adanya kebaikan antara mahkuk satu dengan yang lain.

Salah satu “Kegagalan” pendidikan disebabkan tidak mampunya menyuguhkan  salam menjadi suatu titik sadar bahwa “ini saya lakukan untuk membangun paseduluran”. Karena selama ini salam hanya dipahami dari pendekatan fiqh. Memang itu tidak salah, tapi mestinya harus dikembangkan kepada pengetahuan yang lebih luas lagi bahwa dalam menjalankan syariat islam, output dari orang berislam itu adalah ahlakul karimah. Jadi antara orang yang salam dan yang menjawab salam, semua terukur secara personal dia andap asor, dan secara publik dia welas asih.

Misalkan orang yang mengucapkan salam, tidak semua orang mau untuk mendahului salam, maka orang yang mau mendahului salam, itu merupakan ciri bahwa orang tersebut mempunyai sifat andap asor, begitupun sebaliknya. Memang di dalam beberapa kitab diterangkan tentang adab-adab salam, diantaranya anak-anak kepada orang dewasa, orang yang sedikit kepada orang yang banyak, namun tetap saja, maksud dari semua itu adalah berebut salam. Maka prinsipnya ada di dalam berebut salam tersebut. 

Jika kita lihat energi, potensi, quotient dan power yang terkandung  dalam berebut salam, maka kita tidak lagi melihat besar dan kecilnya, banyak atau sedikitnya, seperti yang telah diterangkan dalam adab-adab bersalam, namun adab-adab seperti itupun tidaklah salah, karena itu merupakan adab atau tatakrama. Akan tetapi akan menjadi lebih prograsif dan produktif apabila kita saling berebut salam. Karena dalam titik sadar kita telah berkeyakinan “dengan salam itu kita membangun paseduluran”. Dari situ tersimbol bahwa orang yang mendahului salam itu secara personal dia mempunyai sifat andap asor.

Dengan mengucap salam hipotalmus akan bekerja, jika itu sudah kerja, karna itu berada di dalam nekleus atau inti sel dan nekleus berada dalam DNA, maka DNA akan memancarkan sinyal, simbol, atau isyarah yang dapat ditangkap oleh RNA. Maka dari itu, jika kita rebutan salam itu kita niati supaya diri kita masing-masing dikrunia oleh Alloh dapat terus menerus  menjadi orang yang andap asor dan welas asih.

Maka orang yang mengucap dan menjawab salam harus sadar dan terucap dalam alam bawah sadarnya bahwa “ya Alloh aku ingin jadi orang yang andap asor”, dan karena kita bagian dari makhluk sosial “ya Alloh kita ingin jadi welas asih”.

Sadar ketika mengucap assalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh, titik sadarnya adalah hanya ingin menjadi orang yang andap asor dan welas asih, tanpa ada kesombongan. Maka harus kita buang sifat-sifat sombong, pamer, ujub, dan ingin populer, karena semua itu dapat menghncurkan.

Maka setiap melakukan apa pun kita harus sadar benar, dengan sikap andap asor dan welas asih, kita tidak malu untuk mendahului mengucap salam, tidak malu untuk menjawab salam, walaupun salam dari orang yang tidak dikenal, di pinggir jalan, anak kecil, orang miskin, atau siapapun. Kita tidak malu karena kita punya sifat tawadluk atau andap asor dan welas asih.

Titik sadar itu yang harus kita rawat dan kita jaga. Jadi sebab kecenderungan berfikir. Yang tidak mungkin bisa menjadi mungkin, sebab salam.

Muhammad Nurhadi CEO Zainmart. Anggota Komunitas Belajar Waskita Islamiyah 



Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.