Salam, Tanda Sikap Andap Asor dan Welas Asih
Salam
adalah hal yang sangat umum, salam merupakan cara atau tindakan menyapa
seseorang yang dengan sengaja untuk mengomunikasikan atau memberitahukan
akan kedatangan ataupun adanya orang lain. Ucapan salam dalam agama
Islam menrupakan doa, doa bagi yang diberi salam dan yang dijawab
salamnya.
Ucapan
salam sangat berpengaruh dalam kehidupan sosial bermasyarakat dan beragama.
Dengan mengucap salam kita dapat menjalin persaudaraan, kasih sayang serta
saling mendo’akan. Maka dari itulah agama Islam mengajarkan bagi pemeluknya
untuk Afsus Salam “menyebarkan salam”.
Namun
lebih dari itu, harus kita pahami bahwa salam bukan sekedar ajaran agama. Salam
memiliki kekuatan, memiliki energi, memiliki aura dan memiliki kecerdasan.
Karena dengan mengucap salam “dengan ucapan”, tidak di dalam hati, dengan
berfikir secara filosofis akan menumbuhkan pakulinan-pakulinan yang baik.
Kata-kata
yang baik, fikiran yang baik, sikap yang baik, serta tindakan yang baik itu
akan mengeluarkan akumulasi kecerdasan. Maka dengan hal yang sangat
sedehana ini saja, dinul islam telah mengungkit akan adanya kebaikan antara
mahkuk satu dengan yang lain.
Salah
satu “Kegagalan” pendidikan disebabkan tidak mampunya
menyuguhkan salam menjadi suatu titik sadar bahwa “ini saya lakukan
untuk membangun paseduluran”. Karena selama ini salam hanya dipahami dari
pendekatan fiqh. Memang itu tidak salah, tapi mestinya harus dikembangkan
kepada pengetahuan yang lebih luas lagi bahwa dalam menjalankan syariat islam,
output dari orang berislam itu adalah ahlakul karimah. Jadi antara orang yang
salam dan yang menjawab salam, semua terukur secara personal dia andap asor,
dan secara publik dia welas asih.
Misalkan
orang yang mengucapkan salam, tidak semua orang mau untuk mendahului salam,
maka orang yang mau mendahului salam, itu merupakan ciri bahwa orang tersebut
mempunyai sifat andap asor, begitupun sebaliknya. Memang di dalam beberapa
kitab diterangkan tentang adab-adab salam, diantaranya anak-anak kepada orang
dewasa, orang yang sedikit kepada orang yang banyak, namun tetap saja, maksud
dari semua itu adalah berebut salam. Maka prinsipnya ada di dalam berebut
salam tersebut.
Jika
kita lihat energi, potensi, quotient dan power yang terkandung dalam
berebut salam, maka kita tidak lagi melihat besar dan kecilnya, banyak atau
sedikitnya, seperti yang telah diterangkan dalam adab-adab bersalam, namun
adab-adab seperti itupun tidaklah salah, karena itu merupakan adab atau
tatakrama. Akan tetapi akan menjadi lebih prograsif dan produktif apabila kita
saling berebut salam. Karena dalam titik sadar kita telah berkeyakinan “dengan
salam itu kita membangun paseduluran”. Dari situ tersimbol bahwa orang yang
mendahului salam itu secara personal dia mempunyai sifat andap asor.
Dengan
mengucap salam hipotalmus akan bekerja, jika itu sudah kerja, karna itu berada
di dalam nekleus atau inti sel dan nekleus berada dalam DNA, maka DNA akan
memancarkan sinyal, simbol, atau isyarah yang dapat ditangkap oleh RNA. Maka
dari itu, jika kita rebutan salam itu kita niati supaya diri kita masing-masing
dikrunia oleh Alloh dapat terus menerus menjadi orang yang andap
asor dan welas asih.
Maka
orang yang mengucap dan menjawab salam harus sadar dan terucap dalam alam bawah
sadarnya bahwa “ya Alloh aku ingin jadi orang yang andap asor”, dan karena kita
bagian dari makhluk sosial “ya Alloh kita ingin jadi welas asih”.
Sadar
ketika mengucap assalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh, titik sadarnya
adalah hanya ingin menjadi orang yang andap asor dan welas asih, tanpa ada
kesombongan. Maka harus kita buang sifat-sifat sombong, pamer, ujub, dan ingin
populer, karena semua itu dapat menghncurkan.
Maka
setiap melakukan apa pun kita harus sadar benar, dengan sikap andap asor dan
welas asih, kita tidak malu untuk mendahului mengucap salam, tidak malu untuk
menjawab salam, walaupun salam dari orang yang tidak dikenal, di pinggir jalan,
anak kecil, orang miskin, atau siapapun. Kita tidak malu karena kita punya
sifat tawadluk atau andap asor dan welas asih.
Titik
sadar itu yang harus kita rawat dan kita jaga. Jadi sebab kecenderungan
berfikir. Yang tidak mungkin bisa menjadi mungkin, sebab salam.


Tidak ada komentar: