Abang Becak yang Galau

Kamis, Juli 21, 2016

Kemarin petang, sepulang dari kampung halaman, aku naik bus jurusan Sumenep-Surabaya jam 14:00, dan sampai Surabaya jam 17:47, tepatnya aku turun di daerah Kedinding, sebelah selatan jembatan Suramadu. Aku menepi bersama beberapa orang yang turun di sana. Beberapa tukang becak menghampiri kami untuk menawarkan jasa. Tetapi di antara kami yang turun dari bus tidak ada yang berminat naik becak. Mungkin mereka sudah ada jemputan dari keluarga atau koleganya. Lain hal-nya denganku, aku sendiri tidak menanggapi tukang becak itu bukan karena tidak berniat naik becak meskipun tadi aku mengisyaratkan dengan menunjukkan telapak tangan pertanda “tidak”. Tetapi aku mau istirahat dulu sejenak dan menelpon orang tua yang menunggu kabar di rumah. Aku telpon dan memberi kabar bahwa aku sudah turun dari bus.

Posisiku agak jauh ke selatan dari gerombolan tukang yang mangkal di dekat halte. Setelah aku menghubungi orang tua, aku mencoba melambai-lambaikan tangan kepada gerombolan tukang becak itu, tetapi tidak ada yang melihat ke arahku berdiri. Aku mengambil HP dan mencoba mencari nama teman-temanku di pondok untuk minta di jemput. Namun ku-urungkan niat itu sebab aku tahu bahwa itu mengganggagu kegiatan di pondok. Lagian sudah waktunya solat maghrib dan pasti teman-teman sedang wadzifahan ba’da maghrib seperti biasanya. Aku mencoba memanggil becak lagi, namun hasilnya tetap sama, tidak ada yang mendengar dan melihat ke arahku.

Sudah sekitar sepuluh menitan aku berdiam di tepi jalan, lalu dari arah selatan ada seorang tukang becak yang sedang mengayuh becaknya. Bukan dari gerombolan becak yang mangkal di daerah sana, entah dari pangkalan mana becak tiu. Yang pasti setelah tepat berada di depanku berdiri, aku memanggilnya dan dia berhenti.
Pundi, Mas? Tukang becak itu bertanya.

“Tambak Bening, Pak.”

“Pundi niku, daerah Kapasan nggeh?”

“O, bukan pak, di Tambak Rejo.” Diam sejenak menunggu tanggapan tukang becak, tapi seakan-akan dia masih belum tahu. “Rumah Sakit dr. Soewandi itu lho, Pak!”

“O, nggeh-nggeh.” Dia mengangguk-angguk.

Aku lebih memperjelas bahwa saya turun di pondok tambak bening yang berada di belakang rumah sakit. Seketika aku dikagetkan oleh si abang becak itu. Tanpa terduga dia bertanya sesuatu yang aku pikir selama ini hal semacam itu tak pernah ada di pikiran abang-abang becak. Sebelum bertanya dia meminta ma’af terlebih dahulu.

“Amit nggeh, Mas! Amit sewu.”

“Nggeh, wonten nopo, Pak?” Aku penasaran.

“Niku pondok aliran nopo?” Deg, aku kaget. Apa maksud tukang becak ini bertanya tentang aliran. Lalu dengan tegas aku menjawab,

“o, kalau pondok ini tidak beraliran, Pak? Bukan NU, bukan Muhammadiyah, bukan pula Syiah atau Wahabi dan lain-lainnya. Kami hanya Islam.”

Abang becak malah tertawa mendengar jawabanku. Dia percaya atau tidak dengan ucapanku, entahlah. Terus saja kutanya-tanya ada apa dengan aliran-alirang yang dimaksud si abang becak tadi. Ternyata Abang becak ini sangat-sangat tidak setuju dengan adanya aliran-aliran islam yang tersebar akhir-akhir ini, khususnya di negeri ini. Jika dia anak muda jaman sekarang, mungkin dia akan bilang “galau” memikirkan umat islam akhir-akhir ini. Aliran ini menfitnah yang itu, yang itu menfitnah yang ini. Semuanya serba fitnah-menfitnah. Saling membenarkan pendapatnya sendiri dan menyalahkan orang lain. Bahkan sampai-sampai ada yang tega menuduh aliran lain dengan tuduhan bid’ah, kafir dan lain sebagainya.

Katanya pernah ada rekan sesama tukang becak yang mengecamnya sebagai ahli bid’ah, gara-garanya dia mengingatkan satu rekannya yang suka makan di warung nasi yang dia rasa kurang pas. Pasalnya si penjual nasi itu non muslim dan masakannya pun tidak jelas halal-haramnya meskipun satu porsi makan harganya jauh di bawah harga rata-rata. Dia sebagai rekan seperjuangan mengingatkan agar berhati-hati, jangan hanya karena murah lalu diterus-teruskan. Akan tetapi satu rekannya yang lain menyanggah dan mengatakan dia ahli bid’ah karena melarang membeli makanan dari warung itu. Katanya sih rekannya itu lulusan pesantren, tapi entah pesantren mana. Rekannya itu hanya bilang tahu mondok ketika mengatakan ahli bid’ah.

Tetapi abang becak yang kutumpangi itu tidak kalah akal, dia meminta agar rekannya tadi menjelaskan apa yang dimaksud bid’ah. Tetapi jawaban yang ditunggu tidak menemukan titik temu. Jawabannya mbulet tak sampai pada apa yang dimaksud bid’ah yang sebenarnya. Lalu dia bilang pada rekannya itu, “nek awakmu ora iso njelasno opo iku bid’ah, lan kowe dewe ora ero opo iku bid’ah, mending meneng wae.”

Keberislaman orang-orang muslim sekarang ini, katanya, sudah tak karu-karuan. Hanya memegang satu dalil sudah berani menyalahkan yang lain. Ngalor ngidul ndalil. Ono opo ndalil. Ono iku ndalil. Pokoknya semuanya seakan-akan hanya dicekoki dengan dalil, padahal dalilnya saja ora njangkep. Terkadang malah dipotong-potong. Aku jadi berpikir, abang becak ini kok tahu tentang dalil-dalil yang dipotong-potong. Wah, ini pasti tidak hanya mendengar-dengar saja. Pasti dia suka membaca. Aku mencoba membuka suara dengan berkata, “Guruku penulis buku, Pak.” Langsung saja tanggapannya begitu antusias. Dia bilang pernah membaca buku karangan Syaikh Subakir, entah judulnya apa aku lupa. Dia juga sering ke JL. Sasak untuk membeli buku. Kegalauannya masih belum selesai melihat umat islam bercerai-berai.

Dia ingin melihat umat islam rukun satu dengan yang lainnya. Janganlah saling menyalahkan. Sebagai seorang tukang becak, dia tak punya banyak andil dalam merukunkan umat islam. Hanya doa dan harapan yang dia haturkan kepada yang Kuasa. Dan, terakhir yang dia harapkan kepada para penulis buku, dia ingin kitab-kitab fiqih yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia secara baik dan benar tanpa ada tendensi terselubung. Setelah itu, becak yang kutumpangi sudah sampai di depan pondokku. Aku tanya berapa yang harus ku bayar atas jasanya telah mengantarkanku. Dia bilang terserah sampeyan saja. Aku beri seperti biasanya setahun yang lalu aku naik becak dari Kedinding – Tambak Bening. Dan saya tambahkan hadiah buku yang ditulis guruku, judulnya “Indahnya Perbeda’an”. Dai sempat mengingatkan bahwa kita harus hati-hati dalam menerima informasi, jangan sampai terpegaruh dengan sesuatu yang tidak jelas.

Begitulah perjalananku naik becak kemarin, terima kasih Abang becak. Ilmu tidak hanya berada di tempat-tempat tertentu. Di semua tempat dan semua lini kehidupan, banyak sekali ilmu yang bisa digali dan dipetik, bahkan dirangkul. Wa-llôhu a’lam bish-sowâb.    


Fery Fadly Jauhari Penyair asal Sumenep. Kini tinggal di Surabaya. Buku Puisinya akan terbit dalam waktu dekat.  



Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.