Abang Becak yang Galau
Kemarin
petang, sepulang dari kampung halaman, aku naik bus jurusan Sumenep-Surabaya
jam 14:00, dan sampai Surabaya jam 17:47, tepatnya aku turun di daerah
Kedinding, sebelah selatan jembatan Suramadu. Aku menepi bersama beberapa orang
yang turun di sana. Beberapa tukang becak menghampiri kami untuk menawarkan
jasa. Tetapi di antara kami yang turun dari bus tidak ada yang berminat naik
becak. Mungkin mereka sudah ada jemputan dari keluarga atau koleganya. Lain
hal-nya denganku, aku sendiri tidak menanggapi tukang becak itu bukan karena
tidak berniat naik becak meskipun tadi aku mengisyaratkan dengan menunjukkan
telapak tangan pertanda “tidak”. Tetapi aku mau istirahat dulu sejenak dan
menelpon orang tua yang menunggu kabar di rumah. Aku telpon dan memberi kabar
bahwa aku sudah turun dari bus.
Posisiku
agak jauh ke selatan dari gerombolan tukang yang mangkal di dekat halte.
Setelah aku menghubungi orang tua, aku mencoba melambai-lambaikan tangan kepada
gerombolan tukang becak itu, tetapi tidak ada yang melihat ke arahku berdiri.
Aku mengambil HP dan mencoba mencari nama teman-temanku di pondok untuk minta
di jemput. Namun ku-urungkan niat itu sebab aku tahu bahwa itu mengganggagu
kegiatan di pondok. Lagian sudah waktunya solat maghrib dan pasti teman-teman
sedang wadzifahan ba’da maghrib seperti biasanya. Aku mencoba memanggil becak
lagi, namun hasilnya tetap sama, tidak ada yang mendengar dan melihat ke
arahku.
Sudah
sekitar sepuluh menitan aku berdiam di tepi jalan, lalu dari arah selatan ada
seorang tukang becak yang sedang mengayuh becaknya. Bukan dari gerombolan becak
yang mangkal di daerah sana, entah dari pangkalan mana becak tiu. Yang pasti
setelah tepat berada di depanku berdiri, aku memanggilnya dan dia berhenti.
Pundi,
Mas? Tukang
becak itu bertanya.
“Tambak
Bening, Pak.”
“Pundi
niku, daerah Kapasan nggeh?”
“O,
bukan pak, di Tambak Rejo.” Diam sejenak menunggu tanggapan tukang becak, tapi
seakan-akan dia masih belum tahu. “Rumah Sakit dr. Soewandi itu lho, Pak!”
“O,
nggeh-nggeh.” Dia
mengangguk-angguk.
Aku
lebih memperjelas bahwa saya turun di pondok tambak bening yang berada di
belakang rumah sakit. Seketika aku dikagetkan oleh si abang becak itu. Tanpa
terduga dia bertanya sesuatu yang aku pikir selama ini hal semacam itu tak
pernah ada di pikiran abang-abang becak. Sebelum bertanya dia meminta ma’af
terlebih dahulu.
“Amit
nggeh, Mas! Amit sewu.”
“Nggeh,
wonten nopo, Pak?” Aku
penasaran.
“Niku
pondok aliran nopo?” Deg,
aku kaget. Apa maksud tukang becak ini bertanya tentang aliran. Lalu dengan
tegas aku menjawab,
“o,
kalau pondok ini tidak beraliran, Pak? Bukan NU, bukan Muhammadiyah, bukan pula
Syiah atau Wahabi dan lain-lainnya. Kami hanya Islam.”
Abang
becak malah tertawa mendengar jawabanku. Dia percaya atau tidak dengan
ucapanku, entahlah. Terus saja kutanya-tanya ada apa dengan aliran-alirang yang
dimaksud si abang becak tadi. Ternyata Abang becak ini sangat-sangat tidak
setuju dengan adanya aliran-aliran islam yang tersebar akhir-akhir ini,
khususnya di negeri ini. Jika dia anak muda jaman sekarang, mungkin dia akan
bilang “galau” memikirkan umat islam akhir-akhir ini. Aliran ini menfitnah yang
itu, yang itu menfitnah yang ini. Semuanya serba fitnah-menfitnah. Saling
membenarkan pendapatnya sendiri dan menyalahkan orang lain. Bahkan
sampai-sampai ada yang tega menuduh aliran lain dengan tuduhan bid’ah, kafir
dan lain sebagainya.
Katanya
pernah ada rekan sesama tukang becak yang mengecamnya sebagai ahli bid’ah,
gara-garanya dia mengingatkan satu rekannya yang suka makan di warung nasi yang
dia rasa kurang pas. Pasalnya si penjual nasi itu non muslim dan masakannya pun
tidak jelas halal-haramnya meskipun satu porsi makan harganya jauh di bawah
harga rata-rata. Dia sebagai rekan seperjuangan mengingatkan agar berhati-hati,
jangan hanya karena murah lalu diterus-teruskan. Akan tetapi satu rekannya yang
lain menyanggah dan mengatakan dia ahli bid’ah karena melarang membeli makanan
dari warung itu. Katanya sih rekannya itu lulusan pesantren, tapi entah
pesantren mana. Rekannya itu hanya bilang tahu mondok ketika mengatakan ahli
bid’ah.
Tetapi
abang becak yang kutumpangi itu tidak kalah akal, dia meminta agar rekannya
tadi menjelaskan apa yang dimaksud bid’ah. Tetapi jawaban yang ditunggu tidak
menemukan titik temu. Jawabannya mbulet tak sampai pada apa
yang dimaksud bid’ah yang sebenarnya. Lalu dia bilang pada rekannya itu, “nek
awakmu ora iso njelasno opo iku bid’ah, lan kowe dewe ora ero opo iku bid’ah,
mending meneng wae.”
Keberislaman
orang-orang muslim sekarang ini, katanya, sudah tak karu-karuan. Hanya memegang
satu dalil sudah berani menyalahkan yang lain. Ngalor ngidul ndalil.
Ono opo ndalil. Ono iku ndalil. Pokoknya semuanya seakan-akan hanya
dicekoki dengan dalil, padahal dalilnya saja ora njangkep. Terkadang
malah dipotong-potong. Aku jadi berpikir, abang becak ini kok tahu tentang
dalil-dalil yang dipotong-potong. Wah, ini pasti tidak hanya mendengar-dengar
saja. Pasti dia suka membaca. Aku mencoba membuka suara dengan berkata, “Guruku
penulis buku, Pak.” Langsung saja tanggapannya begitu antusias. Dia bilang
pernah membaca buku karangan Syaikh Subakir, entah judulnya apa aku lupa. Dia
juga sering ke JL. Sasak untuk membeli buku. Kegalauannya masih belum selesai
melihat umat islam bercerai-berai.
Dia
ingin melihat umat islam rukun satu dengan yang lainnya. Janganlah saling
menyalahkan. Sebagai seorang tukang becak, dia tak punya banyak andil dalam
merukunkan umat islam. Hanya doa dan harapan yang dia haturkan kepada yang
Kuasa. Dan, terakhir yang dia harapkan kepada para penulis buku, dia ingin
kitab-kitab fiqih yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia secara baik dan
benar tanpa ada tendensi terselubung. Setelah itu, becak yang kutumpangi sudah sampai
di depan pondokku. Aku tanya berapa yang harus ku bayar atas jasanya telah
mengantarkanku. Dia bilang terserah sampeyan saja. Aku beri seperti biasanya
setahun yang lalu aku naik becak dari Kedinding – Tambak Bening. Dan saya
tambahkan hadiah buku yang ditulis guruku, judulnya “Indahnya Perbeda’an”. Dai
sempat mengingatkan bahwa kita harus hati-hati dalam menerima informasi, jangan
sampai terpegaruh dengan sesuatu yang tidak jelas.
Begitulah
perjalananku naik becak kemarin, terima kasih Abang becak. Ilmu tidak hanya
berada di tempat-tempat tertentu. Di semua tempat dan semua lini kehidupan,
banyak sekali ilmu yang bisa digali dan dipetik, bahkan dirangkul. Wa-llôhu
a’lam bish-sowâb.
Fery Fadly Jauhari Penyair asal Sumenep. Kini tinggal di Surabaya. Buku Puisinya akan terbit dalam waktu dekat.

Tidak ada komentar: