Membaca “Anak-anak Pangaro” dari Polo
Sudah
hampir setahun aku membeli buku ini, tetapi baru kamis 21/7/16 kemarin aku
membacanya. Dulu sewaktu aku mau pulang ke rumah, dengan niatan membawakan
hadiah buku kepada adikku, aku membeli buku ini. Namun ketika aku mampir di
rumah kemarin, ternyata buku ini masih dalam kondisi seperti semula, terbungkus
rapi. Tanpa pikir panjang ketika aku mau kembali ke Surabaya, aku masukkan buku
ini ke dalam tas. Lagian tas tidak ada isinya, hanya dua kaos oblong dan
beberapa kitab. Masih muat kalau hanya satu eksemplar buku. Untuk itu, kubawa
buku ini, siapa tahu nanti ada kesempatan dan bisa membaca di dalam bus.
Wal-hashil,
ternyata aku ketinggalan bus yang biasa kutumpangi, maksudnya adalah bus dengan
nama perusahaan yang seperti biasanya. Sementara itu ada sebuah bus yang juga
mau berangkat, bus semacam itu belum pernah kulihat sebelumnya mangkal dan
mengangkut penumpang di terminal Sumenep. Aku buru-buru naik karena bus
itu sudah menyalakan mesin dan siap berangkat. Setelah aku masuk, ternyata di
dalamnya cukup mewah, tidak seperti bus-bus yang biasa mengangkut penumpang di
daerah ini. Kalau biasanya busnya tidak pakai AC—jangankan AC, mesinnya
saja terkadang kasar—bus yang kutumpangi kali ini ber-AC dan dilengkapi dengan
toilet. “Alhamdulillah, dari Sumenep ke Surabaya busnya tidak yang
itu-itu saja”, pikirku.
Untuk
itu, aku mencoba membuka-buka tas dan aku ingat bahwa dalam tas ada buku
“Anak-Anak Pangaro”. Aku buka sampulnya dan mencoba membaca pengantarnya. Eh,
kok ada beberapa nama yang disebutkan di dalam pengantar itu, dan nama-nama itu
yang aku tahu adalah beberapa nama tokoh di Sumenep. Lalu aku berhenti membaca
pengantar buku dan mencari profil penulis di bagian akhir buku. Ternyata
penulis yang namanya begitu asing di telingaku adalah orang madura asli. Atau
bahkan madura tulen barangkali. Tetapi coba perhatikan nama ini
secara seksama, “Nun Urnoto el Banbary” tidak ada bau-bau maduranya kan? hehe,
itu menurutku.
Tetapi
memang benar, nama itu belum pernah aku tahu sebelumnya. Mungkin karena aku
jarang baca buku kali ya, hehe. Sungguhpun begitu, aku bangga, ternyata buku
yang baru sempat kubaca sekarang ini ditulis oleh taretan thibi’ deri
madhure polo atau kepulauan. Isinya pun sarat dengan pesan-pesan
moral, utamanya agar mencintai alam dan lingkungan. Dalam hal
ini, dilakukan oleh anak-anak sekolahan dalam upaya pemulihan, penghijauan
dan penyelematan pulau dari kebobrokan moral, kekeringan dan merevolusi budaya.
Mator sakalangkong kak Nun Urnoto el Banbary ...!
Fery Fadly Jauhari Penyair asal Sumenep. Kini tinggal di Surabaya. Buku Puisinya akan terbit dalam waktu dekat.

Tidak ada komentar: