Membaca “Anak-anak Pangaro” dari Polo

Jumat, Juli 22, 2016

Sudah hampir setahun aku membeli buku ini, tetapi baru kamis 21/7/16 kemarin aku membacanya. Dulu sewaktu aku mau pulang ke rumah, dengan niatan membawakan hadiah buku kepada adikku, aku membeli buku ini. Namun ketika aku mampir di rumah kemarin, ternyata buku ini masih dalam kondisi seperti semula, terbungkus rapi. Tanpa pikir panjang ketika aku mau kembali ke Surabaya, aku masukkan buku ini ke dalam tas. Lagian tas tidak ada isinya, hanya dua kaos oblong dan beberapa kitab. Masih muat kalau hanya satu eksemplar buku. Untuk itu, kubawa buku ini, siapa tahu nanti ada kesempatan dan bisa membaca di dalam bus.

Wal-hashil, ternyata aku ketinggalan bus yang biasa kutumpangi, maksudnya adalah bus dengan nama perusahaan yang seperti biasanya. Sementara itu ada sebuah bus yang juga mau berangkat, bus semacam itu belum pernah kulihat sebelumnya mangkal dan mengangkut penumpang di terminal Sumenep. Aku buru-buru naik karena bus itu sudah menyalakan mesin dan siap berangkat. Setelah aku masuk, ternyata di dalamnya cukup mewah, tidak seperti bus-bus yang biasa mengangkut penumpang di daerah ini. Kalau biasanya busnya tidak pakai AC—jangankan AC, mesinnya saja terkadang kasar—bus yang kutumpangi kali ini ber-AC dan dilengkapi dengan toilet. “Alhamdulillah, dari Sumenep ke Surabaya busnya tidak yang itu-itu saja”, pikirku.

Untuk itu, aku mencoba membuka-buka tas dan aku ingat bahwa dalam tas ada buku “Anak-Anak Pangaro”. Aku buka sampulnya dan mencoba membaca pengantarnya. Eh, kok ada beberapa nama yang disebutkan di dalam pengantar itu, dan nama-nama itu yang aku tahu adalah beberapa nama tokoh di Sumenep. Lalu aku berhenti membaca pengantar buku dan mencari profil penulis di bagian akhir buku. Ternyata penulis yang namanya begitu asing di telingaku adalah orang madura asli. Atau bahkan madura tulen barangkali. Tetapi coba perhatikan nama ini secara seksama, “Nun Urnoto el Banbary” tidak ada bau-bau maduranya kan? hehe, itu menurutku.

Tetapi memang benar, nama itu belum pernah aku tahu sebelumnya. Mungkin karena aku jarang baca buku kali ya, hehe. Sungguhpun begitu, aku bangga, ternyata buku yang baru sempat kubaca sekarang ini ditulis oleh taretan thibi’ deri madhure polo atau kepulauan. Isinya pun sarat dengan pesan-pesan moral, utamanya agar mencintai alam dan lingkungan. Dalam hal ini, dilakukan oleh anak-anak sekolahan dalam upaya pemulihan, penghijauan dan penyelematan pulau dari kebobrokan moral, kekeringan dan merevolusi budaya. Mator sakalangkong kak Nun Urnoto el Banbary ...!


Fery Fadly Jauhari Penyair asal Sumenep. Kini tinggal di Surabaya. Buku Puisinya akan terbit dalam waktu dekat.  



Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.