Soal Pilihan

Rabu, Oktober 19, 2016


Bismillahirrohmanirrohim

Sebuah cerita di awal pancaroba yang kini semakin tak menentu.


Senja mengurung rasa murung. Ia menjadi kisah dalam episode terkungkung. Tak bebas saat ingin berlari, karena tubuhnya bagai kura-kura berpunggung tempurung. Jiwanya sesak, raganya sempit serasa terikat dalam karung. Biarkanlah, ia lepas karena tak layak manusia tertindas, sementara ia ingin menikmati segarnya udara di luar kurung.



Gairah menjalani hidup adalah sebuah anugerah. Memilih perjalanan adalah hak tiap manusia yang sah karena takdir sudah tertulis sebelum kita membuah. Manusia biarlah menjadi manusia, ia memiliki akal yang tak dimiliki oleh kumpulan rubah. Tiap kesungguhannya akan menjadi peubah. Usaha dan doanya tak akan luput tersaksikan oleh para malaikat yang menjadi pelayan setia Sang Maha Tunggal, Alloh ta'ala.


Mendekat menjadi sesuatu yang lekat. Ia menjadi hasil panen yang sangat pekat. Ya, mempersempit jarak pada Dia yang selalu ingat. Sungguh, akan merindu jika rasa hangat itu hilang walau sesaat karena ia tersimpan di dalam hati yang kapan saja kondisinya bisa di atas, di bawah, melengkung, merapuh, membulat, bahkan memadat. Kehilangan perasaan dekat dan taat akan menyedihkan jika benar-benar terbuat. Mungkin begitulah, Dia, Alloh menganugerahkan iman ini untuk sungguh-sungguh menjadi sebuah nikmat.


Menjadi rasa gelisah yang menggelisah ketika keseharian kita sedikit saja melebar dari nilai ibadah. Ketika banyak pertimbangan membuat sedekah semakin susah. Ketika berbuat baik tidak lagi mudah. Ketika amanah justru membuat gundah. Ketika langkah terasa berat menuju baitulah. Maka kualitas dan kuantitas iman tidak lagi berjumlah, mungkin ia justru menjadi getah yang melimpah, bukan lagi ketabahan yang berbuah. Karena memang menjadi makhluk yang "indah" penuh cinta membutuhkan sikap sabar dan tabah.


Sungguh, menjadi pribadi yang senantiasa membersamai Alloh atau mengambil jarak dengan-Nya adalah pilihan masing-masing insan. Tidak ada paksaan. Menjadi sadar atas peringatan atau pura-pura pingsan itulah yang membedakan.


Selamat memilih!

Pandu T. Amukti Doktor Hewan lulusan Universitas Airlangga yang kini mempraktikkan ilmunya di Kabupaten Bondowoso. Co-Founder KURMAfoundation 



Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.