Soal Pilihan
Sebuah cerita di awal pancaroba yang kini
semakin tak menentu.
Senja mengurung rasa murung. Ia menjadi kisah
dalam episode terkungkung. Tak bebas saat ingin berlari, karena tubuhnya bagai
kura-kura berpunggung tempurung. Jiwanya sesak, raganya sempit serasa terikat
dalam karung. Biarkanlah, ia lepas karena tak layak manusia tertindas,
sementara ia ingin menikmati segarnya udara di luar kurung.
Gairah menjalani hidup adalah sebuah
anugerah. Memilih perjalanan adalah hak tiap manusia yang sah karena takdir
sudah tertulis sebelum kita membuah. Manusia biarlah menjadi manusia, ia
memiliki akal yang tak dimiliki oleh kumpulan rubah. Tiap kesungguhannya akan
menjadi peubah. Usaha dan doanya tak akan luput tersaksikan oleh para malaikat
yang menjadi pelayan setia Sang Maha Tunggal, Alloh ta'ala.
Mendekat menjadi sesuatu yang lekat. Ia
menjadi hasil panen yang sangat pekat. Ya, mempersempit jarak pada Dia yang
selalu ingat. Sungguh, akan merindu jika rasa hangat itu hilang walau sesaat
karena ia tersimpan di dalam hati yang kapan saja kondisinya bisa di atas, di
bawah, melengkung, merapuh, membulat, bahkan memadat. Kehilangan perasaan dekat
dan taat akan menyedihkan jika benar-benar terbuat. Mungkin begitulah, Dia,
Alloh menganugerahkan iman ini untuk sungguh-sungguh menjadi sebuah nikmat.
Menjadi rasa gelisah yang menggelisah ketika
keseharian kita sedikit saja melebar dari nilai ibadah. Ketika banyak
pertimbangan membuat sedekah semakin susah. Ketika berbuat baik tidak lagi
mudah. Ketika amanah justru membuat gundah. Ketika langkah terasa berat menuju
baitulah. Maka kualitas dan kuantitas iman tidak lagi berjumlah, mungkin ia
justru menjadi getah yang melimpah, bukan lagi ketabahan yang berbuah. Karena
memang menjadi makhluk yang "indah" penuh cinta membutuhkan sikap
sabar dan tabah.
Sungguh, menjadi pribadi yang senantiasa
membersamai Alloh atau mengambil jarak dengan-Nya adalah pilihan masing-masing
insan. Tidak ada paksaan. Menjadi sadar atas peringatan atau pura-pura pingsan
itulah yang membedakan.
Pandu T. Amukti Doktor Hewan lulusan Universitas Airlangga yang kini mempraktikkan ilmunya di Kabupaten Bondowoso. Co-Founder KURMAfoundation


Tidak ada komentar: