Merah Putih, Warisan dari Alloh

Minggu, September 04, 2016
إِنَّ اللهَ زَوَى لِي الْأَرْضَ فَرَأَيْتُ مَشَارِقَهَا وَمَغَارِبَهَا وَإِنَّ أُمَّتِي سَيَبْلُغُ مُلْكُهَا مَا زُوِيَ لِي مِنْهَا وَأُعْطِيتُ الْكَنْزَيْنِ الْأَحْمَرَ وَالْأَبْيَضَ وَإِنِّي سَأَلْتُ رَبِّي لِأُمَّتِي أَنْ لَا يُهْلِكَهَا بِسَنَةٍ عَامَّةٍ وَأَنْ لَا يُسَلِّطَ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ سِوَى أَنْفُسِهِمْ فَيَسْتَبِيحَ بَيْضَتَهُمْ وَإِنَّ رَبِّي قَالَ يَا مُحَمَّدُ إِنِّي إِذَا قَضَيْتُ قَضَاءً فَإِنَّهُ لَا يُرَدُّ وَإِنِّي أَعْطَيْتُكَ لِأُمَّتِكَ أَنْ لَا أُهْلِكَهُمْ بِسَنَةٍ عَامَّةٍ وَأَنْ لَا أُسَلِّطَ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ سِوَى أَنْفُسِهِمْ يَسْتَبِيحُ بَيْضَتَهُمْ وَلَوِ اجْتَمَعَ عَلَيْهِمْ مَنْ بِأَقْطَارِهَا أَوْ قَالَ مَنْ بَيْنَ أَقْطَارِهَا حَتَّى يَكُوْنَ بَعْضُهُمْ يُهْلِكُ بَعْضًا وَيَسْبِي بَعْضُهُمْ بَعْضًا.

Sesungguhnya Alloh melipat bumi untukku sehingga aku bisa melihat bagian timur dan baratnya. Dan sesungguhnya kekuasa’an ummatku akan mencapai apa yang telah dinampakkan kepadaku. Aku diberi dua harta simpananyang berwarna Merah dan putih. Dan sesungguhnya aku meminta Robbku untuk ummatku agar DIA tidak membinasakan mereka dengan kekeringan menyeluruh, agar DIA tidak memberi kuasa musuh untuk menguasai mereka selain diri mereka sendiri sehingga menyerang perkumpulan mereka. Dan sesungguhnya Robbku berfirman, “Hai Muhammad, sesungguhnya jika AKU menentukan takdir maka tidak bisa dirubah, sesungguhnya AKU memberikan umatmu agar mereka tidak dibinasakan oleh kekeringan menyeluruh dan AKU tidak akan memberi kuasa musuh untuk menyerang mereka selain dari diri mereka sendiri lalu mereka menyerang perkumpulan mereka, walaupun musuh mengepung mereka dari segala penjurunya, hingga akhirnya sebagian dari mereka (umatmu) membinasakan sebagian lainnya dan saling menawan satu sama lain.



Pemahaman Hadis

Zawâ artinya melipat. Hadis di atas menerangkan bahwa suatu ketika, Alloh swt. pernah melipat bumi, atau menjadikan bumi terlihat kecil dalam pandangan Rosululloh saw., sehingga beliau mampu melihat seluruh penjuru bumi meliputi bagian timur dan baratnya.


A’thânil kanzaini artinya Alloh telah memberiku (Rosululloh saw.) dua harta simpanan, atau dua perbendahara’an. Kanzaini berasal dari isim mufrod kanzun. Lafadz kanzun secara umum berarti harta yang masih tersimpan dan belum terlihat jelas bagaimana bentuk aslinya. Namun suatu sa’at nanti, bentuk asli dari harta yang tersimpan tersebut akan tampak jelas. Dan dua perbendahara’an yang diberikan kepada Rosululloh saw. tersebut seperti demikian adanya. Yakni belum terlihat ketika beliau saw. masih hidup di dunia, dan baru terlihat selang waktu beberapa dekade pasca Rosululloh saw. diangkat olehNYA ke Rofiqul A’la. Lantas, apakah yang dimaksud dengan dua perbendahara’an tersebut?

Dua perbendahara’an itu telah disebutkan indikasinya oleh Alloh swt. Yakni bersifat Al-Ahmaro wal-Abyadlo, artinya yang berwarna merah dan putih. Kekuasa’an terbesar umat Rosululloh saw. berada pada dua perbendahara’an yang berwarna merah dan putih tersebut. Hal tersebut menunjukkan bahwa dua perbendahara’an tersebut merupakan suatu wilayah yang dikuasai oleh umat beliau saw. Dari sini akan muncul pertanya’an, wilayah negara mana yang mayoritas penduduknya merupakan pemeluk agama Islam dan memiliki ciri berwarna merah dan putih, jika bukan Indonesia? Wallohu a’lam.

Perubahan Perilaku
1.      Pahami hadis melalui ilmu nahwu-shorof, dan makna per-kata.
2.      Miliki hobi membaca buku-buku sejarah Negara Bangsa Indonesia.
3.      Bersyukur karena ditakdirkanNYA menjadi rakyat Negara Bangsa Indonesia.

Risalah Luthfiah
Indonesia ditakdirkan oleh Alloh sebagai negara dengan jumlah penduduk muslim terbanyak di dunia dan memiliki bendera berwarna merah putih. Dua anugerah tersebut memiliki sejarah panjang. Terjadinya eksodus besar-besaran dari masyarakat Jawa kuno yang berpegang teguh pada ajaran bahwa Tuhan itu “Tan keno kinoyo ngopo” (Tak dapat diserupakan dengan apapun) berbondong-bondong masuk Islam, tidak terjadi dalam tempo yang singkat. Sejarah mencatat bahwa ada tiga gelombang dakwah Walisongo yang masuk ke Indonesia. Dan pada gelombang yang ke-tiga itulah, Masyarakat Jawa Kuno baru dapat menerima ajaran Islam, setelah Sunan Kalijogo membacakan ayat “Laisa kamitslihi syai`un” yang singkron dengan ajaran “Tan keno kinoyo ngopo.”

Bendera Merah Putih yang telah ditetapkan oleh founding fathers sebagai Bendera Bangsa Indonesia juga memiliki sejarah yang luar biasa. Ada banyak sejarah yang mengungkap tentang pemilihan warna merah putih tersebut sebagai Bendera Bangsa yang tak mungkin kita bahas keseluruhannya dalam artikel singkat ini. Salah satunya adalah sejarah yang ada relevansinya dengan hadis di atas.

Ir. Soekarno sebagai Presiden pertama Bangsa Indonesia tercatat telah mendapat gelar Doktor Honoris Causa sebanyak 26 gelar dari seluruh penjuru dunia. Diantaranya adalah gelar Doktor HC dari Universitas Kairo, Mesir dalam ilmu Filsafat, dan Gelar Doktor Tauhid dari ITB. Dengan pengetahuannya yang luas, meliputi ilmu agama dan politik, ditambah hobi membaca yang telah ada semenjak beliau masih kecil, menjadikan beliau seorang yang memiliki dasar atas segala hal yang beliau lakukan. Termasuk dalam menentukan bendera Merah Putih sebagai bendera kebangsa’an.

Secara samar dan tertata rapi, beliau menyetting Negeri ini untuk menjadi Negeri yang Islami. Hal tersebut dapat kita lihat dari teks pembuka’an UUD 1945 yang beliau tulis, penempatan tanggal 17 Agustus 1945 sebagai hari Proklamasi Kemerdeka’an Indonesia, dan penyusunan Pancasila. Dan alasan kenapa beliau menetapkan Bendera Merah Putih sebagai Bendera Kebangsa’an, terlepas bahwa bendera merah putih itu telah digunakan sebagai simbol Keraja’an Mapahit, adalah karena beliau pernah membaca hadis di atas. Kecinta’an beliau terhadap hadis-hadis Rosululloh saw. sangat besar. Sehingga pernah dalam suatu kesempatan, beliau meminta Presiden Uni Soviet yang merupakan seorang komunis, untuk mencari makam Imam Bukhori r.hu., yang berada di Negara Uzbekistan. Dan setelah ditemukannya makan tersebut, beliau langsung menziarohi maqbaroh itu. Wallohu a’lam.
____________________________________________________________________________
*Hadis diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Imam Muslim, terdapat dalam kitab Jami’ul Ahadis, bab Innal Musyaddidata ‘Alal Hamzah, juz VIII, halaman 64, hadis nomor 6867. Dalam Kitab Sunan at-Tirmidzi, bab Su`alun Nabiyyi saw., juz IV, halaman 472, hadis nomor 2176. Dalam Kitab Sohih Ibnu Hibban, bab Fadlul Ummati, juz XVI, halaman 220, hadis nomor 7238.



Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.