Ngaji Bughyatul Mustarsyidin

Sabtu, September 03, 2016

Pagi ini, ba’da subuh di Pesujudan Nuswantoro Ribath TeeBee Indonesia (PENUs RTI) Suroboyo, kami para mukimer (Santri Mukim) dan jama’ah, mengikuti kajian saudara kami, Gus Syafiq. Ia membahas tentang afdhaliyah seorang alim dan hakikiat ilmunya. Dengan topik pembahasan dari kitab yang diampu olehnya, yaitu Kitab Bughyatul Mustarsyidin karya al-Habib Abdur Rohman bin Muhammad bin Husain bin Umar al-Masyhur ridwanulloh.



Saya mengikutinya dengan sedikit liyèr liyèr. Namun sekali waktu ia bertanya tentang arti kata dari kitab yang dibacanya kepada saya. Saya paham kalau sebenarnya ia tahu artinya, tetapi mungkin karena melihat saya yang mengangguk-angguk dengan mata menyipit, ia membangunkan alam bawah sadar saya dengan memanggil nama saya. Ketika saya dengarkan dengan sekasama, ada satu kata yang membuatku terbelalak dan tercerahkan sehingga memaksa saya untuk mendengarkan kata selanjutnya. Dan benar, saya dengarkan dengan seksama walaupu tidak tahu pasti seperti apa bentuk tulisannya. Satu kata yang ia tanyakan, namun  saya tidak tahu artinya. Saya buka kamus, ternyata dua rangkaian kata dalam kitab itu ada dalam kamus. Kata itu adalah (صَرِيْرُ قَلَمِ), bahkan sama persis yang tertulis di kamus sama persis dengan kata dalam kitab itu.


Karena saya masih belum punya kitabnya (tak lama lagi saya pasti memiliki kitab itu, bi`idznillâh lâ quwwata illa billâh, insyâ`a-llôh), saya pinjam kitabnya dan membaca lagi apa dibaca oleh Gus Syafiq tadi. Ini dia, ternyata kalimat itu diambil dari qoul seorang Syaikh,

قال الحسن البصري رحمه الله : صرير قلم العالم تسبيح، وكتابه العلم، والنظر فيه عبادة، ومداده كدم الشهيد، وإذا قام من قبره نظر إليه أهل الجمع، ويحشر مع الأنبياء، وتدارس العلم ساعة من الليل أفضل من إحيائه بغيره، ومدارسته أفضل من الذكر .

Artinya, “Suara goresan pena seorang alim adalah tasbih(nya). Kitabnya adalah ilmu. Memandang wajahnya merupakan suatu ibadah. Tintanya bagaikan darah seorang syahid. Tatkala dia bangkit dari kuburnya kelak, seluruh ahli kubur memerhatikannya. Besok di akhirot dia dikumpulkan bersama para nabi. Satu jam belajar suatu ilmu di waktu malamnya, lebih baik daripada bangkit(hidup)nya kembali tanpa belajar. Dan berada di tempat belajarnya (untuk belajar) itu lebih baik daripada berdzikir.”


Betapa mulyanya seorang ‘alim yang senantiasia terus-menerus belajar dan belajar, serta mau dan mampu terus menulis. Suara-suara dari goresan ujung penanya dengan lembaran-lembaran kertas atau apa pun yang dipakainya menulis, bagaikan tasbihnya kepada Alloh Azza waJalla. Maka, tak heran jika hal itu dinilai lebih baik daripada berdzikir, sampai ikan-ikan di lautan juga berdzikir memintakan ampun bagi mereka-mereka yang belajar ilmu, menulis, mencatat, merangkum dan lain-lain. Tinta-tinta yang dipakai oleh seorang ‘alim untuk menulis, bernilai sangat tinggi. Tidak hanya sebagai cairan hitam yang agak kental untuk menulis, tetapi tinta tersebut bagaikan tetesan darah dari seorang syuhada’.


Itu sebagian dari faedah ahli ilmu. Selain alat-alat tulis itu tadi, waktu dan tempat belajarnya juga sangat mulya. Jika satu jam saja dia belajar di waktu malam, itu sudah melebihi nilai sekali kehidupannya. Seandainya dia dihidupkan kembali setelah dia wafat, namun tidak diisi dengan belajar, seluruh hidupnya itu masih lebih berharga satu jam sebelumnya yang dia pakai untuk belajar. Dan dia duduk di sebuah tempat untuk belajar pun, lebih baik daripada dia berdzikir. Wallohu a’lam.


Sebab karomah yang ada padanya pula, orang-orang yang berada di dekatnya juga kecipratan kebaikan darinya. Bahkan memandang wajahnya merupakan sesuatu perbuatan yang bernilai ibadah. Alloh swt, para malaikat, serta seluruh makhluk memberi salam kepada seorang ‘alim, serti sabda Nabi saw. “Sesungguhnya Allah dan para Malaikat, serta semua makhluk di langit dan di bumi, sampai semut dalam lubangnya dan ikan (di lautan), sungguh benar-benar bershalawat (mendoakan kebaikan) bagi orang yang mengajarkan kebaikan (ilmu diniyah) kepada manusia.” (Hr.at-Tirmidzi r.hu)


Bahkan meskipun dia sudah berpindah dari alam dunia ke alam barzah, sejatinya dia masih hidup. Sebab buku-buku dan kitab-kitab yang disusunnya adalah ilmu. Dan ilmunya tersebut tidak akan pernah hilang dan akan menjadi jariah selama diturunkan kepada murid-muridnya. Baik dari contoh-contah, teladan serta kabaikan dari laku kesehariannya yang dipelajari oleh setiap manusia sezamannya atau orang-orang yang hidup jauh setelahnya. Atau karya-karyanya yang dibaca dan dipelajari sepanjang masa. Maka aliran kebaikan dan faedahnya akan terus mengalir deras dan bermuara kepadanya. Masyâ`a-lloh...!


Setelah itu, dia kembali kehadirot Alloh yang Kuasa dengan dikumpulkan bersama para Nabiyulloh. Yuhasysyaru ma’al anbiyâ`i.


Hakikat Ilmu

Dalam hal ini tentunya, ilmu yang dipelajari adalah ilmu yang mendukung keimanan kepada Alloh dan Rosulnya. Kenapa hanya ilmu yang mendukung keimanan kepada Alloh dan Rosulnya saja yang disandarkan pada al-‘âlim, mari pahami bersama ayat al-Qur’an di bawah ini,

يَرۡفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ دَرَجَٰتٖۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ خَبِيرٞ
“... niscaya Allah senantiasa dan terus-menerus meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan dengan beberapa derajat. Dan Alloh Mahamengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Qs.al-Mujadalah [58] : 11)


Banyak orang yang sering mengutip ayat ini untuk memotivasi diri dan orang lain agar semangat belajar, sebab mereka yang berilmu akan ditinggikan derajatnya. Apakah itu salah? Tidak! Tetapi akan menjadi kurang etis jika yang dibahas hanyalah “ilmu”nya saja. Atau kadangkala ada yang membahasnya secara terpisah antara iman (âmanû) dan ilmu (al-‘ilma). Jika kita cermati secara seksama, sebelum kata al-ladzîna ada huruf wawu (و) dimana wawu tersebut adalah kata penghubung atau yang di sebut huruh ‘athof. Huruf tersebut biasa diberi arti (dan), yakni kata setelah huruf ‘athof tersebut mengikuti kata yang sebelumnya, baik secara berbarengan atau menyusul.


Jika disederhakan, kira-kira makna dari ayat tersebut seperti ini, “Alloh akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan (juga) orang-orang yang ‘diberi’ ilmu”. Jadi ilmu dalam ayat di atas merupakan ikutan dari iman. Tidak serta-merta orang yang berilmu lalu dengan mudah diangkat beberapa derajatnya oleh Alloh tanpa ada nilai keimanan dalam ilmu tersebut. Begitu pula dengan âmanû, tidak serta-merta orang yang beriman (dalam ayat di atas) diangkat beberapa derajatnya. Dua kata itu berkaitan satu sama lain dalam hal peninggian darajat yang dimaksud.


Selain itu pula, ada lagi yang sering kali kurang dipahami. Kata ilmu (al-‘ilma) itu jatuh setelah fi’il majhul atau kata kerja pasif. Ûtû (أوتوا) adalah fi’il majhul yang artinya didatangkan atau diberikan. Yang berarti, manusia atau orang yang diangkat derajatnya adalah mereka yang didatangkan kepadanya atau dia yang diberi ilmu oleh Alloh swt. manusia tidak punya hak milik terhadap ilmu. Sejatinya ilmu itu hanya diberikan atau dititipkan oleh Alloh swt kepada manusia. Jadi, siapapun yang merasa berilmu, dia tidak biasa sewenag-wenang atas ilmunya di hadapan Alloh Robbul ‘âlamîn. Dia tidak bisa menyombongkan ilmunya, sebab ilmu itu hanya titipan bukan hak milik.


Lalu bagaimana kalau kita mau mendapatkan ilmu, apakah hanya menunggu diberikan? Tidak begitu. Bukan bererti pula kita pasif menunggu diberi ilmu. Kita senantiasa harus mencari dan berusaha sungguh-sungguh untuk mendapatkannya, hasilnya kita serahkan kepada yang Mahamemberi ilmu. Kanjeng Nabi Muhammad saw. telah banyak menerangkan tentang anjuran-anjuran belajar, mengajar atau mencari ilmu.


Pada hakikatnya, semua ilmu di dunia ini adalah ilmu Alloh. Para Nabi adalah pengemban amanah sebagai Nabi dan RosulNYA. Tentunya sangat mumpuni dalam berbagai ilmu. Entah ilmu alam, sosial dan lingkungan. Hanya saja yang beliau-beliau gunakan adalah sesuai dengan kapasitas yang dibutuhkan oleh masyarakat dan kaumnya. Utamanya adalah Nabi Muhammad saw sebagai gunangnya ilmu dan sayyidina ‘Ali kw. sebagai pintu dari gudang ilmu tersebut.


Apakah yang belajar ilmu-ilmu selain ilmu diniyah tidak termasuk dalam ayat di atas? Tentu saja masih saling terkait. Jika dengan ilmu yang ada padanya membuat dia semakin takut dan imannya kepada Alloh swt bertambah, maka lihatlah akhir dari ayat di atas, wa-llôhu bimâ ta’malûna khobîr.


Begitupun dengan orang-orang yang belajar ilmu diniyah, jika dengan ilmunya dia semakin andhan asor dan welas asih, serta semakin takut hanya kepada Alloh, maka insya`a-lloh dia termasuk dari yang diangkat derajatnya oleh Alloh swt. Tetapi meskipun ilmu yang dikuasai dan ndipelajari adalah ilmu diniyah, tetapi jika dengan hal itu dia semakin sombong dan takabbur, belum tentu dia dimulyakan oleh Alloh.


Intinya, semua ilmu akan dapat menjadi sarana diangkatnya derajat seseorang, baik di mata manusia atau di sisi Alloh Azza waJalla. Jika ilmunya hanya sebagai penunjang keimanannya saja, atau dengan ilmu tersebut imannya kepada Alloh semakin bertambah. Maka akan mulya di sisi Alloh dan makhlukNYA. Atau dia akan mulya di sisiNYA walau dalam pandangan makhluk dia terpinggirkan.


Sebaliknya, jika ilmunya tidak menunjang keimanan seseorang, atau bahkan dengan ilmunya dia semakin jauh dariNYA, bisa saja dia terhormat di hadapan makhluk, tapi tidak di sisi Alloh swt.  


Wallôhu a’lam bish-showâb. Inilah sekelumit lesatan pikiran ketika ngaji pagi tadi walau sambil ngantuk-ngantuk. Semoga berfaedah, shollû ‘alan nabî muhammad...!!!


Fery Fadly Jauhari Penyair asal Sumenep. Kini tinggal di Surabaya. Buku Puisinya akan terbit dalam waktu dekat.  



Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.