Ngaji Bughyatul Mustarsyidin
Pagi ini, ba’da subuh di Pesujudan Nuswantoro
Ribath TeeBee Indonesia (PENUs RTI) Suroboyo, kami para mukimer (Santri Mukim)
dan jama’ah, mengikuti kajian saudara kami, Gus Syafiq. Ia membahas
tentang afdhaliyah seorang alim dan hakikiat ilmunya. Dengan
topik pembahasan dari kitab yang diampu olehnya, yaitu Kitab Bughyatul
Mustarsyidin karya al-Habib Abdur Rohman bin Muhammad bin Husain bin Umar
al-Masyhur ridwanulloh.
Saya mengikutinya dengan sedikit liyèr liyèr.
Namun sekali waktu ia bertanya tentang arti kata dari kitab yang dibacanya
kepada saya. Saya paham kalau sebenarnya ia tahu artinya, tetapi mungkin karena
melihat saya yang mengangguk-angguk dengan mata menyipit, ia membangunkan alam
bawah sadar saya dengan memanggil nama saya. Ketika saya dengarkan dengan
sekasama, ada satu kata yang membuatku terbelalak dan tercerahkan sehingga memaksa
saya untuk mendengarkan kata selanjutnya. Dan benar, saya dengarkan dengan
seksama walaupu tidak tahu pasti seperti apa bentuk tulisannya. Satu kata
yang ia tanyakan, namun saya tidak tahu artinya. Saya buka kamus,
ternyata dua rangkaian kata dalam kitab itu ada dalam kamus. Kata itu
adalah (صَرِيْرُ قَلَمِ), bahkan sama persis yang
tertulis di kamus sama persis dengan kata dalam kitab itu.
Karena saya masih belum punya kitabnya (tak
lama lagi saya pasti memiliki kitab itu, bi`idznillâh lâ quwwata illa
billâh, insyâ`a-llôh), saya pinjam kitabnya dan membaca lagi apa dibaca
oleh Gus Syafiq tadi. Ini dia, ternyata kalimat itu diambil dari qoul seorang
Syaikh,
قال الحسن البصري رحمه الله : صرير قلم العالم
تسبيح، وكتابه العلم، والنظر فيه عبادة، ومداده كدم الشهيد، وإذا قام من قبره نظر
إليه أهل الجمع، ويحشر مع الأنبياء، وتدارس العلم ساعة من الليل أفضل من إحيائه
بغيره، ومدارسته أفضل من الذكر .
Artinya, “Suara goresan pena seorang
alim adalah tasbih(nya). Kitabnya adalah ilmu. Memandang wajahnya merupakan
suatu ibadah. Tintanya bagaikan darah seorang syahid. Tatkala dia bangkit dari
kuburnya kelak, seluruh ahli kubur memerhatikannya. Besok di akhirot dia
dikumpulkan bersama para nabi. Satu jam belajar suatu ilmu di waktu malamnya,
lebih baik daripada bangkit(hidup)nya kembali tanpa belajar. Dan berada di
tempat belajarnya (untuk belajar) itu lebih baik daripada berdzikir.”
Betapa mulyanya seorang ‘alim yang
senantiasia terus-menerus belajar dan belajar, serta mau dan mampu terus
menulis. Suara-suara dari goresan ujung penanya dengan lembaran-lembaran kertas
atau apa pun yang dipakainya menulis, bagaikan tasbihnya kepada Alloh Azza
waJalla. Maka, tak heran jika hal itu dinilai lebih baik daripada
berdzikir, sampai ikan-ikan di lautan juga berdzikir memintakan ampun bagi
mereka-mereka yang belajar ilmu, menulis, mencatat, merangkum dan lain-lain.
Tinta-tinta yang dipakai oleh seorang ‘alim untuk menulis, bernilai sangat
tinggi. Tidak hanya sebagai cairan hitam yang agak kental untuk menulis, tetapi
tinta tersebut bagaikan tetesan darah dari seorang syuhada’.
Itu sebagian dari faedah ahli ilmu. Selain
alat-alat tulis itu tadi, waktu dan tempat belajarnya juga sangat mulya. Jika
satu jam saja dia belajar di waktu malam, itu sudah melebihi nilai sekali
kehidupannya. Seandainya dia dihidupkan kembali setelah dia wafat, namun tidak
diisi dengan belajar, seluruh hidupnya itu masih lebih berharga satu jam
sebelumnya yang dia pakai untuk belajar. Dan dia duduk di sebuah tempat untuk
belajar pun, lebih baik daripada dia berdzikir. Wallohu a’lam.
Sebab karomah yang ada padanya pula,
orang-orang yang berada di dekatnya juga kecipratan kebaikan darinya. Bahkan
memandang wajahnya merupakan sesuatu perbuatan yang bernilai ibadah. Alloh swt,
para malaikat, serta seluruh makhluk memberi salam kepada seorang ‘alim,
serti sabda Nabi saw. “Sesungguhnya Allah dan para Malaikat, serta
semua makhluk di langit dan di bumi, sampai semut dalam lubangnya dan ikan (di
lautan), sungguh benar-benar bershalawat (mendoakan kebaikan) bagi orang yang mengajarkan
kebaikan (ilmu diniyah) kepada manusia.” (Hr.at-Tirmidzi r.hu)
Bahkan meskipun dia sudah berpindah dari alam
dunia ke alam barzah, sejatinya dia masih hidup. Sebab buku-buku dan
kitab-kitab yang disusunnya adalah ilmu. Dan ilmunya tersebut tidak akan pernah
hilang dan akan menjadi jariah selama diturunkan kepada murid-muridnya. Baik
dari contoh-contah, teladan serta kabaikan dari laku kesehariannya yang
dipelajari oleh setiap manusia sezamannya atau orang-orang yang hidup jauh
setelahnya. Atau karya-karyanya yang dibaca dan dipelajari sepanjang masa. Maka
aliran kebaikan dan faedahnya akan terus mengalir deras dan bermuara
kepadanya. Masyâ`a-lloh...!
Setelah itu, dia kembali kehadirot Alloh yang
Kuasa dengan dikumpulkan bersama para Nabiyulloh. Yuhasysyaru ma’al
anbiyâ`i.
Hakikat Ilmu
Dalam hal ini tentunya, ilmu yang dipelajari
adalah ilmu yang mendukung keimanan kepada Alloh dan Rosulnya. Kenapa hanya
ilmu yang mendukung keimanan kepada Alloh dan Rosulnya saja yang disandarkan
pada al-‘âlim, mari pahami bersama ayat al-Qur’an di bawah ini,
يَرۡفَعِ
ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ دَرَجَٰتٖۚ
وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ خَبِيرٞ
“... niscaya Allah senantiasa dan
terus-menerus meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang
yang diberi ilmu pengetahuan dengan beberapa derajat. Dan Alloh Mahamengetahui
apa yang kamu kerjakan.” (Qs.al-Mujadalah [58] : 11)
Banyak orang yang sering mengutip ayat ini
untuk memotivasi diri dan orang lain agar semangat belajar, sebab mereka yang
berilmu akan ditinggikan derajatnya. Apakah itu salah? Tidak! Tetapi akan
menjadi kurang etis jika yang dibahas hanyalah “ilmu”nya saja. Atau kadangkala
ada yang membahasnya secara terpisah antara iman (âmanû) dan ilmu (al-‘ilma).
Jika kita cermati secara seksama, sebelum kata al-ladzîna ada
huruf wawu (و) dimana wawu tersebut adalah kata
penghubung atau yang di sebut huruh ‘athof. Huruf tersebut biasa
diberi arti (dan), yakni kata setelah huruf ‘athof tersebut mengikuti kata yang
sebelumnya, baik secara berbarengan atau menyusul.
Jika disederhakan, kira-kira makna dari ayat
tersebut seperti ini, “Alloh akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman
dan (juga) orang-orang yang ‘diberi’ ilmu”. Jadi ilmu dalam ayat di atas
merupakan ikutan dari iman. Tidak serta-merta orang yang berilmu lalu dengan
mudah diangkat beberapa derajatnya oleh Alloh tanpa ada nilai keimanan dalam
ilmu tersebut. Begitu pula dengan âmanû, tidak serta-merta
orang yang beriman (dalam ayat di atas) diangkat beberapa derajatnya. Dua kata
itu berkaitan satu sama lain dalam hal peninggian darajat yang dimaksud.
Selain itu pula, ada lagi yang sering kali
kurang dipahami. Kata ilmu (al-‘ilma) itu jatuh setelah fi’il
majhul atau kata kerja pasif. Ûtû (أوتوا)
adalah fi’il majhul yang artinya didatangkan atau diberikan.
Yang berarti, manusia atau orang yang diangkat derajatnya adalah mereka yang
didatangkan kepadanya atau dia yang diberi ilmu oleh Alloh swt. manusia tidak
punya hak milik terhadap ilmu. Sejatinya ilmu itu hanya diberikan atau
dititipkan oleh Alloh swt kepada manusia. Jadi, siapapun yang merasa berilmu,
dia tidak biasa sewenag-wenang atas ilmunya di hadapan Alloh Robbul
‘âlamîn. Dia tidak bisa menyombongkan ilmunya, sebab ilmu itu hanya titipan
bukan hak milik.
Lalu bagaimana kalau kita mau mendapatkan
ilmu, apakah hanya menunggu diberikan? Tidak begitu. Bukan bererti pula kita
pasif menunggu diberi ilmu. Kita senantiasa harus mencari dan berusaha
sungguh-sungguh untuk mendapatkannya, hasilnya kita serahkan kepada yang
Mahamemberi ilmu. Kanjeng Nabi Muhammad saw. telah banyak menerangkan tentang
anjuran-anjuran belajar, mengajar atau mencari ilmu.
Pada hakikatnya, semua ilmu di dunia ini
adalah ilmu Alloh. Para Nabi adalah pengemban amanah sebagai Nabi dan RosulNYA.
Tentunya sangat mumpuni dalam berbagai ilmu. Entah ilmu alam, sosial dan
lingkungan. Hanya saja yang beliau-beliau gunakan adalah sesuai dengan
kapasitas yang dibutuhkan oleh masyarakat dan kaumnya. Utamanya adalah Nabi
Muhammad saw sebagai gunangnya ilmu dan sayyidina ‘Ali kw. sebagai pintu dari
gudang ilmu tersebut.
Apakah yang belajar ilmu-ilmu selain ilmu
diniyah tidak termasuk dalam ayat di atas? Tentu saja masih saling terkait.
Jika dengan ilmu yang ada padanya membuat dia semakin takut dan imannya kepada
Alloh swt bertambah, maka lihatlah akhir dari ayat di atas, wa-llôhu
bimâ ta’malûna khobîr.
Begitupun dengan orang-orang yang belajar
ilmu diniyah, jika dengan ilmunya dia semakin andhan asor dan welas
asih, serta semakin takut hanya kepada Alloh, maka insya`a-lloh dia
termasuk dari yang diangkat derajatnya oleh Alloh swt. Tetapi meskipun ilmu
yang dikuasai dan ndipelajari adalah ilmu diniyah, tetapi jika dengan hal itu
dia semakin sombong dan takabbur, belum tentu dia dimulyakan oleh Alloh.
Intinya, semua ilmu akan dapat menjadi sarana
diangkatnya derajat seseorang, baik di mata manusia atau di sisi Alloh Azza
waJalla. Jika ilmunya hanya sebagai penunjang keimanannya saja, atau dengan
ilmu tersebut imannya kepada Alloh semakin bertambah. Maka akan mulya di sisi
Alloh dan makhlukNYA. Atau dia akan mulya di sisiNYA walau dalam pandangan
makhluk dia terpinggirkan.
Sebaliknya, jika ilmunya tidak menunjang
keimanan seseorang, atau bahkan dengan ilmunya dia semakin jauh dariNYA, bisa
saja dia terhormat di hadapan makhluk, tapi tidak di sisi Alloh swt.
Wallôhu a’lam bish-showâb. Inilah sekelumit lesatan pikiran ketika
ngaji pagi tadi walau sambil ngantuk-ngantuk. Semoga berfaedah, shollû
‘alan nabî muhammad...!!!
Fery Fadly Jauhari Penyair asal Sumenep. Kini tinggal di Surabaya. Buku Puisinya akan terbit dalam waktu dekat.

Tidak ada komentar: