Alloh Tak Menyuruh Kita Membaca Buku
Cukup lama tidak dolan ke
toko buku, karena keseringan sambang ke loakan demi buku-buku bagus (dan
murah). Toko buku mayor itu, lingkungannya, suasananya, memang kerap tak cocok
dengan watak dan pawakan ndeso saya. Tak ada percakapan antar pembeli dan
penjual, tak ada tawar menawar. Kita cuma disuguhi buku-buku yang ditata
sedemikian rupa supaya menarik dan dibeli.
Buku-buku yang sedang laris
dipajang di tempat yang bisa dilihat oleh para calon pembeli yang baru masuk.
Ada; Fiersa Besari dengan semua novel-novelnya, Andrea Hirata dengan karya
terbarunya, Mark Manson dengan Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat, yang
banyak dibeli orang-orang stres, juga beberapa buku motivasi dengan judul-judul
memotivasi.
Untuk
beberapa waktu, cukup berkeliling melihat-lihat, karena memang tak punya
rencana membeli buku apa. Karya-karya orang-orang tua seperti Putu Wijaya,
almarhum Danarto, A. Mustofa Bisri, dicetak ulang kembali dengan penampakan
sampul yang lebih kekinian. Apa Seno Gumira Ajidarma, sudah termasuk tua?
Buku-bukunya juga dicetak ulang. Buku puisinya Sapardi Djoko Damono nampaknya
masih banyak diminati anak-anak melenial, ada banyak judul yang dipajang, sama
halnya dengan puisi-puisi almarhum WS. Rendra. Di deretan rak buku biografi,
ada satu buku puisi tebal dengan sampul merah-hitam terselip, karya almarhum
Sitor Situmorang. Rupa-rupanya itu antologi puisi miliknya dari jaman muda
sampai habis usia.
Hampir
semua judul buku Emha dicetak ulang juga, dipajang di rak khusus, sebab,
sebagaimana kata penulisnya, toko buku bingung untuk menaruh buku tulisannya di
kategori rak yang mana. Ada juga beberapa judul baru seperti tetralogi Daur dan
Markesot Belajar Mengaji, yang jug diambil dari rubrik Daur di caknun.com.
Demi etika
dan kesopanan, setelah berjalan kesana kemari melihat dan memegang buku-buku,
saya harus membeli satu. Tanpa pertimbangan yang macam-macam saya memilih satu
judul buku, "Sapiens" karya Yuval Noah Harari yang Yahudi itu. Iya,
Yahudi yang kafir itu.
Sebenarnya
ada satu sebab, kenapa buku ini yang saya pilih. Saya pernah melihat Shopia
Latjuba memposting foto koleksi buku-bukunya di Instagram, diantara foto
dirinya yang sedang yoga dan naik di kaki gunung Himalaya. Dengan alasan itu,
buku ini saya beli. Shopia Latjuba itu seumuran dengan ibu mertua saya, cantik,
hobi yoga dan pendukung Jokowi. Bukankah sebuah alasan yang bagus, saya membeli
buku yang sama dengan buku yang dibacanya?
Kata Eka
Kurniawan, ada beberapa negara yang sangat perhatian kepada penulis dan
mensubsidi buku-buku demi meningkatkan budaya membaca. Negara kita, menteri
pendidikannya, sering mengeluh tentang rendahnya minat baca penduduknya sambil
menunjuk statistik, entah bohongan entah betulan, tapi lupa bahwa pemerintahnya
menarik pajak yang tidak sedikit dari buku dan toko buku.
Membaca,
katanya sebuah kewajiban. "Iqro'!" Kata muballigh-muballigh yang
malas beli dan baca buku itu. Memang, Alloh nyuruh kita membaca. Tapi, membaca
buku? Tidak. Banyak orang, sibuk ngurusin hutang yang tak
lunas-lunas, cicilan motor, mobil dan rumah, serta sekolah anak. Itukan juga
termasuk kegiatan "membaca". Kalau baca buku diwajibkan, banyak orang
yang dosa nanti. Mewajibkan sesuatu yang tidak wajib, kata ulama-ulama'
betulan adalah perbuatan terlarang. Tapi, melihat postingan foto-foto Sophia
Latjuba yang sedang yoga di Instagram, tidak haram, kan?


Tidak ada komentar: