Alloh Tak Menyuruh Kita Membaca Buku

Rabu, Juli 31, 2019
Cukup lama tidak dolan ke toko buku, karena keseringan sambang ke loakan demi buku-buku bagus (dan murah). Toko buku mayor itu, lingkungannya, suasananya, memang kerap tak cocok dengan watak dan pawakan ndeso saya. Tak ada percakapan antar pembeli dan penjual, tak ada tawar menawar. Kita cuma disuguhi buku-buku yang ditata sedemikian rupa supaya menarik dan dibeli.


Buku-buku yang sedang laris dipajang di tempat yang bisa dilihat oleh para calon pembeli yang baru masuk. Ada; Fiersa Besari dengan semua novel-novelnya, Andrea Hirata dengan karya terbarunya, Mark Manson dengan Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat, yang banyak dibeli orang-orang stres, juga beberapa buku motivasi dengan judul-judul memotivasi.

Untuk beberapa waktu, cukup berkeliling melihat-lihat, karena memang tak punya rencana membeli buku apa. Karya-karya orang-orang tua seperti Putu Wijaya, almarhum Danarto, A. Mustofa Bisri, dicetak ulang kembali dengan penampakan sampul yang lebih kekinian. Apa Seno Gumira Ajidarma, sudah termasuk tua? Buku-bukunya juga dicetak ulang. Buku puisinya Sapardi Djoko Damono nampaknya masih banyak diminati anak-anak melenial, ada banyak judul yang dipajang, sama halnya dengan puisi-puisi almarhum WS. Rendra. Di deretan rak buku biografi, ada satu buku puisi tebal dengan sampul merah-hitam terselip, karya almarhum Sitor Situmorang. Rupa-rupanya itu antologi puisi miliknya dari jaman muda sampai habis usia.

Hampir semua judul buku Emha dicetak ulang juga, dipajang di rak khusus, sebab, sebagaimana kata penulisnya, toko buku bingung untuk menaruh buku tulisannya di kategori rak yang mana. Ada juga beberapa judul baru seperti tetralogi Daur dan Markesot Belajar Mengaji, yang jug diambil dari rubrik Daur di caknun.com. 

Demi etika dan kesopanan, setelah berjalan kesana kemari melihat dan memegang buku-buku, saya harus membeli satu. Tanpa pertimbangan yang macam-macam saya memilih satu judul buku, "Sapiens" karya Yuval Noah Harari yang Yahudi itu. Iya, Yahudi yang kafir itu. 

Sebenarnya ada satu sebab, kenapa buku ini yang saya pilih. Saya pernah melihat Shopia Latjuba memposting foto koleksi buku-bukunya di Instagram, diantara foto dirinya yang sedang yoga dan naik di kaki gunung Himalaya. Dengan alasan itu, buku ini saya beli. Shopia Latjuba itu seumuran dengan ibu mertua saya, cantik, hobi yoga dan pendukung Jokowi. Bukankah sebuah alasan yang bagus, saya membeli buku yang sama dengan buku yang dibacanya? 

Kata Eka Kurniawan, ada beberapa negara yang sangat perhatian kepada penulis dan mensubsidi buku-buku demi meningkatkan budaya membaca. Negara kita, menteri pendidikannya, sering mengeluh tentang rendahnya minat baca penduduknya sambil menunjuk statistik, entah bohongan entah betulan, tapi lupa bahwa pemerintahnya menarik pajak yang tidak sedikit dari buku dan toko buku. 

Membaca, katanya sebuah kewajiban. "Iqro'!" Kata muballigh-muballigh yang malas beli dan baca buku itu. Memang, Alloh nyuruh kita membaca. Tapi, membaca buku? Tidak. Banyak orang, sibuk ngurusin hutang yang tak lunas-lunas, cicilan motor, mobil dan rumah, serta sekolah anak. Itukan juga termasuk kegiatan "membaca". Kalau baca buku diwajibkan, banyak orang yang dosa nanti. Mewajibkan sesuatu yang tidak wajib, kata ulama-ulama' betulan adalah perbuatan terlarang. Tapi, melihat postingan foto-foto Sophia Latjuba yang sedang yoga di Instagram, tidak haram, kan? 



Syafiqurrohman Bos Buku Makaru Makara. Penulis website percik.id



Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.