Cerita Cinta

Minggu, Februari 09, 2020
Sudah berapa lama, entahlah, saya tak menulis lagi, walau sekadar cerita cinta. Kurang lebih sudah setengah tahun, mungkin juga sudah hampir setahun, saya tak memiliki alat tulis yang saya anggap cukup memadai untuk menulis.


Sebenarnya alasan seperti itu tidaklah pas dijadikan alibi untuk tidak menulis. Jika memang punya hobi menulis, ya tetap saja akan menulis walau berada dalam kondisi apapun. Apalagi cuma sekadar alat tulis modern semisal laptop yang tak ada. Alasan  yang cukup klise memang.

Mungkin kata yang paling pantas ialah “malas”. Tapi tidak malas-malas amat juga sih. Hanya saja sedikit tak memiliki “mood” untuk lebih serius menulis. Buktinya masih ada satu tulisan yang saya tulis tiap bulannya di majalah MAYAra, walau terkadang juga paling terlambat dari deadline yang telah ditentukan.

Cerita tentang tulisan di majalah tersebut, kadang kala saya harus “ditagih” sampai berkali-kali. Tak ubahnya seorang nasabah yang dikejar-kejar depkolektor untuk menagih hutang yang nunggak berbulan-bulan. Setelah banyak kali saya ditagih, baru saya setor tulisan singkat tersebut. Padahal tidak begitu sulit, wong tinggal menyarikan tulisan dari buku lain saja. Itu pun pendek sependek-pendeknya. Hanya dibatasi Max 300 karakter. Pendek, kan?

Tapi, sungguhpun begitu, saya haturkan terima kasih kepada saudaraku-saudara saya yang tak ada kata “putus asa” dalam mensupport, mendorong, membimbing dan bahkan “menendang” saya. Hehe. Terutama sama Lek Moti atau yang bernama lain Gus Yusuf. Eh, namanya Gus Yusuf sih, Lek Moti adalah nama lainnya.

Beliau sampai mencarikan solusi yang paling termurah untuk saya agar kembali menulis, (karena sangat murahnya sehingga saya katakan “paling termurah”). Maksudnya bukan solusinya yang murah apalagi murahan. Tetapi bajet yang harus saya keluarkan tak sampai membutuhkan 7 angka, 6 angka sudah cukup. Hehe.

Sabtu siang, 8/2/20, saya kembali lagi ke pondok setelah paginya ngaji Hikam. Sekitar jam 2 siang saya sampai pondok. Akhirnya ditemukan kesepakatan dengan perantara Lek Moti, bahwa alat tulis ini berganti hak pakainya ke “tangan” saya. Jadi, tak ada lagi alasan untuk tidak menulis. Kalau masih beralasan ya berarti memang benar-benar malas.

Inilah cerita cinta yang saya maksudkan. Cinta seorang saudara agar saudaranya kembali ke “habitat”nya. Agar saudaranya kembali memenuhi tugas pokok dari Gurunya. Agar saudaranya kembali belajar, kembali sinau, kembali menulis. Terlebih kembali mengungkapkan rasa cintanya lewat tulisan, sebab ia tahu bahwa saudaranya itu tak pandai mengungkapkan cinta dengan lisan.

Juga sama Mas Huda yang tiap bulan selalu setia “menagih” tulisan untu rubrik ASBAL, sampai-sampai batas terakhir lebih lima hari baru saya setor tulisan. Alasannya ya tak jauh-jauh beda dari alasan di atas. Matur nuwun taretan se gentheng. Pesanmu selalu tepat waktu dan terus istiqomah tiap bulan. Semoga termasuk dari “al-istiqomah khoirun min alfi karomah”.

Tak terkecuali teruntuk team yang lain, senyum, tanya, dan kerlingan mata seringkali saya tangkap. Saya simpan rapat dalam lemari besi yang berada di dada saya. Saking rapatnya, agak susah untuk dikeluarkan. Semoga setelah ini pintunya terbuka, hingga saya bisa mengeluarkan simpanan yang sudah cukup lama mengendap.

Yang pertama-tama, (sengaja saya tulis di bagian akhir, sebab biasanya yang diingat oleh penbaca adalah pesan di bagian akhirnya), yakni kepada Gurunda yang setiap kesempatan selalu melecutkan semangat, tapi sering pula saya lewatkan begitu saja. Maafkan saya meski tak cukup dengan hanya sekadar meminta maaf, namun harus dibuktikan dengan kesungguhan dalam berproses setelahnya. Juga kepada kanjeng Guru, kulo bingung nopo sing bade kawulo aturaken! Nyuwun pangapunten.



Fery Fadly Jauhari Penyair asal Sumenep. Kini tinggal di Surabaya. Buku Puisinya akan terbit dalam waktu dekat.  



Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.