Cerita Cinta
Sudah
berapa lama, entahlah, saya tak menulis lagi, walau sekadar cerita cinta. Kurang
lebih sudah setengah tahun, mungkin juga sudah hampir setahun, saya tak
memiliki alat tulis yang saya anggap cukup memadai untuk menulis.
Sebenarnya
alasan seperti itu tidaklah pas dijadikan alibi untuk tidak menulis. Jika
memang punya hobi menulis, ya tetap saja akan menulis walau berada dalam
kondisi apapun. Apalagi cuma sekadar alat tulis modern semisal laptop yang tak
ada. Alasan yang cukup klise memang.
Mungkin
kata yang paling pantas ialah “malas”. Tapi tidak malas-malas amat juga sih. Hanya
saja sedikit tak memiliki “mood” untuk lebih serius menulis. Buktinya masih ada
satu tulisan yang saya tulis tiap bulannya di majalah MAYAra, walau terkadang
juga paling terlambat dari deadline yang telah ditentukan.
Cerita
tentang tulisan di majalah tersebut, kadang kala saya harus “ditagih” sampai
berkali-kali. Tak ubahnya seorang nasabah yang dikejar-kejar depkolektor untuk
menagih hutang yang nunggak berbulan-bulan. Setelah banyak kali saya ditagih, baru
saya setor tulisan singkat tersebut. Padahal tidak begitu sulit, wong
tinggal menyarikan tulisan dari buku lain saja. Itu pun pendek
sependek-pendeknya. Hanya dibatasi Max 300 karakter. Pendek, kan?
Tapi,
sungguhpun begitu, saya haturkan terima kasih kepada saudaraku-saudara saya
yang tak ada kata “putus asa” dalam mensupport, mendorong, membimbing dan
bahkan “menendang” saya. Hehe. Terutama sama Lek Moti atau yang bernama lain Gus
Yusuf. Eh, namanya Gus Yusuf sih, Lek Moti adalah nama lainnya.
Beliau
sampai mencarikan solusi yang paling termurah untuk saya agar kembali menulis,
(karena sangat murahnya sehingga saya katakan “paling termurah”). Maksudnya
bukan solusinya yang murah apalagi murahan. Tetapi bajet yang harus saya
keluarkan tak sampai membutuhkan 7 angka, 6 angka sudah cukup. Hehe.
Sabtu
siang, 8/2/20, saya kembali lagi ke pondok setelah paginya ngaji Hikam. Sekitar
jam 2 siang saya sampai pondok. Akhirnya ditemukan kesepakatan dengan perantara
Lek Moti, bahwa alat tulis ini berganti hak pakainya ke “tangan” saya. Jadi,
tak ada lagi alasan untuk tidak menulis. Kalau masih beralasan ya berarti
memang benar-benar malas.
Inilah
cerita cinta yang saya maksudkan. Cinta seorang saudara agar saudaranya kembali
ke “habitat”nya. Agar saudaranya kembali memenuhi tugas pokok dari Gurunya.
Agar saudaranya kembali belajar, kembali sinau, kembali menulis. Terlebih
kembali mengungkapkan rasa cintanya lewat tulisan, sebab ia tahu bahwa
saudaranya itu tak pandai mengungkapkan cinta dengan lisan.
Juga
sama Mas Huda yang tiap bulan selalu setia “menagih” tulisan untu rubrik ASBAL,
sampai-sampai batas terakhir lebih lima hari baru saya setor tulisan. Alasannya
ya tak jauh-jauh beda dari alasan di atas. Matur nuwun taretan se gentheng.
Pesanmu selalu tepat waktu dan terus istiqomah tiap bulan. Semoga termasuk dari
“al-istiqomah khoirun min alfi karomah”.
Tak
terkecuali teruntuk team yang lain, senyum, tanya, dan kerlingan mata
seringkali saya tangkap. Saya simpan rapat dalam lemari besi yang berada di
dada saya. Saking rapatnya, agak susah untuk dikeluarkan. Semoga setelah ini
pintunya terbuka, hingga saya bisa mengeluarkan simpanan yang sudah cukup lama
mengendap.
Yang
pertama-tama, (sengaja saya tulis di bagian akhir, sebab biasanya yang diingat
oleh penbaca adalah pesan di bagian akhirnya), yakni kepada Gurunda yang setiap
kesempatan selalu melecutkan semangat, tapi sering pula saya lewatkan begitu
saja. Maafkan saya meski tak cukup dengan hanya sekadar meminta maaf, namun
harus dibuktikan dengan kesungguhan dalam berproses setelahnya. Juga kepada
kanjeng Guru, kulo bingung nopo sing bade kawulo aturaken! Nyuwun
pangapunten.
Fery Fadly Jauhari Penyair asal Sumenep. Kini tinggal di Surabaya. Buku Puisinya akan terbit dalam waktu dekat.

Tidak ada komentar: