Memanusiakan Manusia
Judul di atas adalah bahasa yang seringkali diucapkan oleh Romo Guru kami, Siddi DaLuthfi, baik secara lisan atau dalam tulisan-tulisan beliau yang tersebar dalam banyak buku-buku beliau. Yakni, menurut penerjemahan saya yang sederhana dan mungkin sangat jauh dari maksud sebenarnya, adalah kekuatan dan kecerdasan seoarang manusia yang hidup di dunia ini, yang mana harus mampu memosisikan dirinya sebagai manusia yang bisa berlaku arif lagi bijaksana terhadap orang lain.
Jika seorang manusia sudah diberi kemampuan untuk bisa memosisikan diri sebagai manusia yang bisa berbuat sesuai fitrahnya, berarti ia telah lulus menjadi manusia seutuhnya. Dalam bahasa yang lain, bisa dikatakan “menempatkan segala sesuatu pada posisi dan sesuai pada porsinya”. Hal tersebut adalah sebuah kepribadian yang sangat mulia. Ia adalah Human Elyon, (judul buku beliau).
Dimana kehidupan sekarang ini lebih sering penuh dengan kepura-pura-an. Lebih banyak penuh kepalasuan. Terlebih lagi banyak yang lebih mementingkan dirinya sendiri, tanpa peduli apa dampaknya kepada orang lain.
Dalam hal “Memanusiakan Manusia” ini, ada sebuah falsafah yang mungkin bisa dikatan sejalan dengan apa yang disampaikan Romo Guru kami tersebut. Yakni “Si Tou Timou Tumou Tou” sebuah filsafat hidup masyarakat Minahasa yang dipopularkan oleh Sam Ratulangi, yang sekaligus menjadi 'motto' Provinsi Sulawesi Utara.
Yang berarti, maaf kalau kurang benar, "Manusia Hidup untuk Memanusiakan Orang Lain" atau "Orang Hidup untuk Menghidupkan Orang lain". Jika dalam ungkapan bahasa Manado sering dikatakan "Baku Beking Pande" yang secara harfiah berarti “Saling menambah pintar dengan orang lain”. (Disarikan dari buku : Asal-usul Kota-kota di Indonesia Tempo DoeLoe, Zaenuddin HM.)
Artinya, seorang manusia benar-benar sah menjadi manusia manakala ia mampu berbauat sebaik mungkin, tidak hanya untuk dirinya sendiri tetapi lebih untuk kebaikan orang lain. Khoirunnas anfa’uhum linnas.
Kita hidup bersama-sama dengan orang lain. Saling berhubungan dengan orang lain. Saling bersilaturrohim. Tak lain adalah untuk saling mengambil ibroh, saling menambah ilmu, “baku Beking Pande”. Selain itu juga saling mengambil manfaat, tetapi bukan sebaliknya, yakni saling memanfaatkan. Dan yang terpenting dengan hubungan sesama manusia adalah saling menambah keyakinan kepada Alloh swt.
Akhir-akhir ini, Romo Guru dalam berbagai kajian sering pula menyampaikan “nek kon pengen mulyo, mulyakno wong liyo”, “jika kamu ingin hidup mulia, maka mulyakan orang lain dulu”. Dalam hal yang lebih spesifik beliau juga menyampaikan, “jika kamu ingin kaya, kayakan orang lain lebih dulu”.
Menurut tangkapan saya, hal itu masih dalam kerangka “Memanusiakan Manusia”. Dimana kita diajarkan untuk peduli terhadap orang lain. Kita harus tanggap, dan cekatan. Apa yang harus kita lakukan jika melihat sebuah peristiwa di masyarakat kita. Kita tak boleh acuh-tak acuh manakala kita harus turun tangan untuk kebaikan orang lain.
Di samping itu, Romo guru juga mengutus beberapa santri untuk ikut Diklatsar Banser, yang salah satu tujuannya agar kita tanggap lingkungan. Membaca setiap peristiwa yang terjadi dengan cermat dan cepat, dan mengambil keputusan yang akurat, sehingga tindakan setelahnya juga tepat.
Sebagai kata pamungkas, saya kutipkan nasehat sekaligus falsafah jawa. Nasehat tersebut dulu sering saya baca ketika mau naik ke kamar, karena tulisan itu di tata rapi dalam pigora di dinding astana pondok, sebelah pintu menuju kamar santri. Begini bunyinya,
Wenehono teken wong kang wuto
Wenehono mangan wong kang keluwen
Wenehono klambi wong kang ora nyandang
Wenehono ngombe wong kang ngelak
Wenehono nasehat wong kang sasar
Fery Fadly Jauhari Penyair asal Sumenep. Kini tinggal di Surabaya. Buku Puisinya akan terbit dalam waktu dekat.

Tidak ada komentar: