Tasbihnya Suara Pena
اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ
بِكَ مِنَ الْكَسَلِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ
الْهَرَمِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْبُخْل
“Ya Alloh sungguh aku berlindung kepadaMU dari rasa malas, aku
berlindung kepadaMU dari sikap pengecut, aku aku berlindung kepadaMU dari
pikun, dan aku berlindung kepadaMU dari sifat pelit.”
Semoga setelah membaca doa ini, saya benar-benar
terhindar dari rasa malas. Tentu harus dibarengi dengan ghiroh yang kuat dari
dalam diri untuk “melawan” rasa malas tersebut. Jika tidak, nggeh podo mawon,
ndungo nggak ndungo yo podo ae.
Saya baru menyadari titah para guru, kenapa saya
harus kembali menulis? Setelah saya buka kembali lembaran-lembaran yang dulu
pernah saya simpan rapat, saya mulai “tersadarkan”. Bahwa untuk menulis
dibutuhkan kesungguhan, keuletan, dan niat yang bulat. Sebab, tak mungkin
ujug-ujug mampu menulis, ia harus melewati tahapan-tahapan yang musti dilalui.
Tak mungkin tidak, ia harus “membaca”, harus belajar yang yang sungguh-sungguh,
dan harus melatih jiwa dan raganya untuk menjadikan tulisannya sebagai sarana
mendekatkan diri kepada Alloh. Masih ingat pesan Guru kami, mungkin dengan
karya tulis tersebut bisa menjadi pintu amal jariah kita di hadapan Alloh.
Setelah saya buka kembali lembaran-lembaran
tersebut, saya menemukan sebuah tulisan saya yang dulu pernah dibuat setelah
ngaji kitab Bughyatul Musytarsyidin bersama Kang Syafiq. Lalu saya menemukan
sebuah maqolah di dalam tulisan tersebut,
قال الحسن البصري رحمه
الله : صرير قلم العالم تسبيح، وكتابه العلم، والنظر فيه عبادة، ومداده كدم
الشهيد، وإذا قام من قبره نظر إليه أهل الجمع، ويحشر مع الأنبياء، وتدارس العلم
ساعة من الليل أفضل من إحيائه بغيره، ومدارسته أفضل من الذكر .
Artinya,
“Suara goresan pena seorang alim adalah tasbih(nya). Kitabnya adalah ilmu.
Memandang wajahnya merupakan suatu ibadah. Tintanya bagaikan darah seorang
syahid. Tatkala dia bangkit dari kuburnya kelak, seluruh ahli kubur
memerhatikannya. Besok di akhirot dia dikumpulkan bersama para nabi. Satu jam
belajar suatu ilmu di waktu malamnya, lebih baik daripada bangkit(hidup)nya
kembali tanpa belajar. Dan berada di tempat belajarnya (untuk belajar) itu
lebih baik daripada berdzikir.”
Saya
resapi kembali maqolah tersebut, dan sungguh mencoba mengingat kembali seberapa
banyak dan seringnya guru kami menganjurkan kami menulis. Tak
tanggung-tanggung, menulis dijadikan sebuah keharusan bagi para santri dan
menjadi syarat kelak ketika menghadap Alloh swt.
Bagaimana
yang Anda rasakan, setelah membaca dan merenungi maqolah dari Hasan al-Bashri ridwanulloh
alaih di atas?
Subhanallohi
mil`al mizan,
wa
muntahal ilmi,
wa
mablaghorridho,
wa
zinatal ‘arsy.
Fery Fadly Jauhari Penyair asal Sumenep. Kini tinggal di Surabaya. Buku Puisinya akan terbit dalam waktu dekat.

Tidak ada komentar: