Tasbihnya Suara Pena

Selasa, Februari 11, 2020
Sudah sering saya mendapat “peringatan” untuk menulis, utamanya dari guru kami. Tapi sesering itu pula saya masih cengangas-cengenges. Tapi bukan berarti tak mengindahkan titah beliau, hanya saja sebuah penyakit yang sejak dulu menyerang sering kambuh. Penyakit “malas” yang siap menyerang siapa saja. Jika tidak dilawan, siapa pun pasti kalah. Makanya Rosululloh mengajarkan doa khusus bagi umatnya agar terhindar dari rasa malas. Diantara redaksinya kurang lebih sebagai berikut :


اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْكَسَلِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَرَمِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْبُخْل
“Ya Alloh sungguh aku berlindung kepadaMU dari rasa malas, aku berlindung kepadaMU dari sikap pengecut, aku aku berlindung kepadaMU dari pikun, dan aku berlindung kepadaMU dari sifat pelit.”

Semoga setelah membaca doa ini, saya benar-benar terhindar dari rasa malas. Tentu harus dibarengi dengan ghiroh yang kuat dari dalam diri untuk “melawan” rasa malas tersebut. Jika tidak, nggeh podo mawon, ndungo nggak ndungo yo podo ae.

Saya baru menyadari titah para guru, kenapa saya harus kembali menulis? Setelah saya buka kembali lembaran-lembaran yang dulu pernah saya simpan rapat, saya mulai “tersadarkan”. Bahwa untuk menulis dibutuhkan kesungguhan, keuletan, dan niat yang bulat. Sebab, tak mungkin ujug-ujug mampu menulis, ia harus melewati tahapan-tahapan yang musti dilalui. Tak mungkin tidak, ia harus “membaca”, harus belajar yang yang sungguh-sungguh, dan harus melatih jiwa dan raganya untuk menjadikan tulisannya sebagai sarana mendekatkan diri kepada Alloh. Masih ingat pesan Guru kami, mungkin dengan karya tulis tersebut bisa menjadi pintu amal jariah kita di hadapan Alloh. 

Setelah saya buka kembali lembaran-lembaran tersebut, saya menemukan sebuah tulisan saya yang dulu pernah dibuat setelah ngaji kitab Bughyatul Musytarsyidin bersama Kang Syafiq. Lalu saya menemukan sebuah maqolah di dalam tulisan tersebut,   

قال الحسن البصري رحمه الله : صرير قلم العالم تسبيح، وكتابه العلم، والنظر فيه عبادة، ومداده كدم الشهيد، وإذا قام من قبره نظر إليه أهل الجمع، ويحشر مع الأنبياء، وتدارس العلم ساعة من الليل أفضل من إحيائه بغيره، ومدارسته أفضل من الذكر .
Artinya, “Suara goresan pena seorang alim adalah tasbih(nya). Kitabnya adalah ilmu. Memandang wajahnya merupakan suatu ibadah. Tintanya bagaikan darah seorang syahid. Tatkala dia bangkit dari kuburnya kelak, seluruh ahli kubur memerhatikannya. Besok di akhirot dia dikumpulkan bersama para nabi. Satu jam belajar suatu ilmu di waktu malamnya, lebih baik daripada bangkit(hidup)nya kembali tanpa belajar. Dan berada di tempat belajarnya (untuk belajar) itu lebih baik daripada berdzikir.”

Saya resapi kembali maqolah tersebut, dan sungguh mencoba mengingat kembali seberapa banyak dan seringnya guru kami menganjurkan kami menulis. Tak tanggung-tanggung, menulis dijadikan sebuah keharusan bagi para santri dan menjadi syarat kelak ketika menghadap Alloh swt.

Bagaimana yang Anda rasakan, setelah membaca dan merenungi maqolah dari Hasan al-Bashri ridwanulloh alaih di atas?

Subhanallohi mil`al mizan,
wa muntahal ilmi,
wa mablaghorridho,
wa zinatal ‘arsy.


Fery Fadly Jauhari Penyair asal Sumenep. Kini tinggal di Surabaya. Buku Puisinya akan terbit dalam waktu dekat.  



Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.