Menyikapi Covid-19 dengan Andap Asor & Welas Asih

Kamis, Maret 19, 2020
Di tengah kondisi yang sedang hingar-bingar dengan berbagai fitnah ini, marilah kita berusaha sekuat tenaga untuk menjaga diri, keluarga, tetangga, sanak-saudara dan handai taulan. Menjaga diri dari fitnah dan isu-isu terkini yang berkaitan dengan covid-19, serta jangan sampai kita semua terjerumus dalam golongan orang-orang yang menyebarkan isu-isu yang semakin membuat carut-marut suasana kehidupan.

Jaga lisan kita dalam bercakap-cakap. Jaga hati kita dari penyakit iri, dengki, hasat dan ujub. Jaga pikiran kita dari pikiran-pikiran buruk yang menyesatkan. Pun pula jaga kesehatan tubuh kita dari berbagai penyakit. Dan yang tak kalah pentingnya adalah menjaga jari-jemari kita dalam menyebarkan berita-berita di media sosial.

Kita harus menyikapi berbagai hal yang terjadi dengan terus berbaik sangka kepada Alloh, bahwa semua yang telah terjadi, yang sedang terjadi hari ini, dan yang akan terjadi esok sampai datangnya hari kiamat serta kehidupan setelah kematian adalah qudrot dan irodat Alloh robbul’alamin, Tuhan semesta alam. Semua merupakan kehendak dan takdir Alloh Jalla Jalaluh.

Untuk itu, terkait covid-19 ini jangan membuat kita takut, panik, dan semacamnya. Tetapi juga jangan terlalu mengentengkan apalagi menyepelekan, sebab menyepelekan juga merupakan sifat orang-orang yang sombong.

Inilah sebenar-benarnya penyakit yang paling membahayakan, yakni sifat sombong. Sifat yang apabila ada dalam hati seorang muslim, akan menghalangi dia dengan surga. Maka, marilah kita “Menyikapi Covid-19 dengan Andap Asor & Welas Asih”.

Jangan tunjukkan sikap menyombongkan diri ketika ada orang lain yang berusaha mengantisipasi dan waspada terhadap pandemi ini. Lalu berasumsi bahwa dia yang dalam posisi waspada, ditafsirkan dengan tidak takut kepada Alloh, seolah-olah kitalah yang paling dekat dengan Alloh. Ingat, bahwa hal itu merupakan sifat dasar dari munculnya syahwat samar.

Sebaliknya, kita juga bersikap waspada dengan sewajar-wajarnya, jangan berlebihan. Yakini bahwa semua itu adalah sudah menjadi ketetapan Alloh, dan tak perlu bingung melakukan ini-itu diluar kendali qudrot “kemanusiaan” kita.

Kita harus tetap andap asor dan welas asih, hormatilah setiap keyakinan daripada orang lain, sama seperti kita menghargai keyakinan kita sendiri. Jangan memaksakan keyakinan kita, harus pula diyakini oleh orang lain. Sebab semua manusia diberi kebebasan dalam cara berpikir masing-masing untuk mengelola secara kreatif keyakinannya sendiri.
Kewaspadaan terhadap pandemi covid-19 ini, bukan berarti harus diasumsikan bahwa ia “mengalahkan rasa takut kepada Alloh”. Semua ada kadarnya masing-masing. Justru, dengan sikap waspada sesuai kadarnya,menunjukkan bahwa kita adalah “manusia”. Kita butuh ikhtiar, baik ikhtiar yang berupa doa dan ikhtiariyah yang sifatnya dhohir atau lahiriyah yang biasa diterjemahkan dengan usaha.

Sebagai seorang mukmin-muslim, ikhtiar kita harus seimbang sebagaimana kemampuan masing-masing dari kita. Setelah ikhtiyah lahir / ikhtiar medis sudah kita lakukan secara massal, semisal menjaga kebersihan lingkungan, melakukan pola hidup sehat, dan lain sebaginya. Kita juga perlu melakukan ikhtiar bathin, sebagaimana yang telah didawuhkan oleh eyang guru kami, Mbah Musthofa Bisri

"Menghadapi Covid-19, ikhtiar lahir sudah dilakukan secara massal (dan bahkan mirip 'kepanikan umum'). Tapi, sebagai hamba-hamba beriman, kita tidak boleh melupakan ikhtiar batin, mendekat serta memohon kepada Tuhan kita dan Tuhannya segala virus," dawuh beliau.

“Ikhtiar bathin yang bisa dilakukan oleh umat Islam di antaranya dengan menyempurnakan wudhu. Selain itu bacaan-bacaan doa juga bisa dirutinkan di antaranya dengan membaca kalimat,

بسم الله لا يضر مع اسمه شئ في الأرض ولا في السماء وهو السميع العليم

"Bismillãhi lã yadhurru ma'asmiHi syai-un fil ardhi walã fissamã-i waHuwas-Samȋ'ul 'Alȋm,” setiap habis Subuh dan Maghrib; juga jika mau keluar rumah.

يا سلام
يا حفيظ
يا مانع يا ضآرّ

Bacaan yang lain di antaranya dengan mewiridkan asma Alloh,
Masing-masing minimal 20 kali setiap habis salat.”

Beliau juga mengingatkan untuk senantiasa membaca sholawat Nabi di sela-sela waktu longgar dengan berbagai jenis shalawat yang disukai atau dihafal. Dan jangan lupa Berdoa:
اللهم إنا نسألك العفو والعافية والمعافاة الدائمة في الدين والدنيا والآخرة

Allahumma innã nas'aluKa al-'afwa wal-'ãfiata wal mu'ãfata fiddiini waddunyã wal ãkhirah. Wawallãhu Musta'ãn


Fery Fadly Jauhari Penyair asal Sumenep. Kini tinggal di Surabaya. Buku Puisinya akan terbit dalam waktu dekat.  



Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.