Sindir Menyindir Antar Kaum Dewasa; Adalah ke-Unik-an Yang Bikin Nafsu
Saya tahu Anda juga suka sindir-sindiran dengan
sahabat, teman, tetangga, atau yang berperan sebagai “lawan” dalam serial
konflik kejiwaan Anda di dalam drama kehidupan ini.
Entah mereka Anda anggap telah “mengusik”
kehidupan pribadi Anda. Atau secara tidak sandar Anda-lah yang suka ikut campur
urusan pribadi orang lain. Sehingga ia juga menjadikan Anda sebagai “rival”.
Sampai-sampai, hal remeh-temeh pun ikut
terbawa-bawa dalam topik-topik sindiran yang mungkin sebenarnya tidak ada
sangkut-pautnya dengan “konflik batin” yang sedang terjadi pada diri Anda.
Hanya saja karena sudah terbawa “nafsu”, ada sedikit ucapan atau perbuatan yang
dikira sindiran, maka alis matanya sudah hampir menempel jadi satu.
“Penyakit” saling sindir ini pun tanpa
terkecuali mengidap orang-orang yang notabeni berpendidikan cukup tinggi,
tokoh, agamawan, dan hampir semua kalangan. Apalagi saat ini jamannya medsos,
uploud status yang ber”bau” sindiran seringkali menjadi bahan utama. Sambil
diracik dengan bumbu keilmuan di bidangnya masing-masing.
Ada yang kemudian bergaya menjadi ahli ilmu
sosial, hingga sindirannya dikaitkan dengan ilmu-ilmu sosial. Ada yang menjadi
ahli agama, sampai-sampai kutip dalil ini-dalil itu untuk menyindir temannya
yang lagi “bersebrangan” dengan dirinya.
Ada yang kemudian menjadi orang yang sok
“bijak”, lalu menghukumi saudaranya yang lagi menjadi “tandingan”nya itu
sebagai orang yang tidak bijaksana, orang yang tidak baik akhlaknya, bahkan
di-cap sebagai orang yang “muna”, bahasa kerennya “munafik”. Dia lupa bahwa dia
sedang tak sadar kalau dirinya berandai-andai sebagai orang yang lebih baik
darinya.
Sebagai contoh kasus, beberapa hari ini kita
disuguhi berita terkait konflik NU-Muhammadiyah di Jogja, tepatnya di Masjid
Gedhe Kauman. Sudah tahun kan apa konfliknya? Saya tidak mau membahas apa
konfliknya, tetapi buntut “unik” setelahnya yang bermunculan di berbagai
beranda medsos.
Baik dari kubu NU atau Muhammadiyah yang
sama-sama saling sindir, sampai membawa-bawa nama-nama wilayah, sekolah, rumah
sakit, dan banyak lagi. Dan yang viral terkait pernyataan @caknanto tentang
sikap “Tepo Sliro” yang belum jelas pernyataan itu dari beliau atau tidak.
Sebab setelahnya, ada bantahan yang tersebar bahwa “Tepo Sliro” itu tidak
diutarakan oleh beliau, “ini juga belum jelas apakah dari Cak Nanto atau tidak”.
Kemudian Gus Yakut juga mengomentarinya
dengan sindiran-sindiran. Beberapa tokoh lain pun ikut-ikutan saling sindir. Di
kalangan bawah pun tak kalah sengitnya dengan mengatakan akan memboikot segala
macam yang berkaitan dengan Muhammadiyah. Mulai dari tidak menyekolahkan
anak-anaknya di sekolah Muhammadiyah dan lain-lain.
Nah, bagaimana dengan Anda? Sudah, lupakan
tentang konflik NU-Muhammadiyah tadi, itui Cuma sekadar contoh. Selamanya
NU-Muhammadiyah tetap saudara seiman, sebangsa, setanah-air, dan bahkan
seperguruan (tunggal guru).
Sekarang kembali kepada Anda, sudah pasti
Anda punya rival dalam konflik batin Anda. Sudahlah ngaku aja, hehe. Bukankah
rival Anda itu sudah menambah tensi nafsu Anda, sehingga secara otomatis juga
menaikkan daya tahan tubuh Anda? Iya, kan? Anda pasti berusaha menaikkan
performa. Berusaha menaikkan derajatnya. Menambah kebaikkan Anda, walau
terkadang menganggap diri Anda lebih baik. Padahal ya belum tentu juga.
Anda tidak usah berpikir kalau kondisi
seperti itu juga terjadi pada saya. Lalu Anda menghakimi saya seolah-olah Anda
lebih baik dari saya, hehe. Tidak perlu mengeluarkan energi tambahan untuk
memikirkan tentang saya, sebab saya juga kadang-kala suka menyindir orang yang
saya anggap tidak sejalan dengan saya. Karena itu yang bikin nafsu. Hehe.
Fery Fadly Jauhari Penyair asal Sumenep. Kini tinggal di Surabaya. Buku Puisinya akan terbit dalam waktu dekat.

Tidak ada komentar: