Hikmah Diam di Rumah

Senin, Mei 25, 2020

Satu catetan penting yang bisa kita ambil hikmahnya di hari raya Idul Fitri kali ini. Yakni, tidak kemana-mana atau di rumah saja. Tentunya bagi wilayah-wilayah yang dampaknya cukup signifikan, misal di Surabaya ini.

Ya walaupun tidak sepenuhnya orang-orang tetap di rumah, masih lumayan juga yang unjung-unjung di moment Idul Fitri ini. Alasannya sih beragam. Ada yang memang butuh untuk keluar rumah. Ada pula yang merasa kesepian di rumah, masak hari raya setahun sekali saja Ndak boleh keluar.

Tetapi itupun dilakukan hanya sebatas area Surabaya saja. Ya masih wajar lah, toh juga sesuai protokol kesehatan (kecuali yang tidak). Masih sama-sama wilayah Surabaya.

Namun, apakah benar tidak ada yang pergi ke luar kota meski hanya kota- kota terdekat? Jawabannya, masih ada juga yang bepergian ke luar kota. Tetapi jumlahnya mungkin sangat sedikit.

Lalu hikmahnya dimana dengan kita tidak pergi kemana-mana?
Pertama, bisa jadi lebih dekat dengan keluarga. Terutama kedekatan dalam hal Ubudiyah.

Banyak dari teman-teman penulis, khususnya yang berusaha sholat jamaah di rumah masing-masing. Yang selama ini bisa jadi sholatnya sendiri-sendiri.

Dimulai dari sholat tarawih di rumah bersama anak, istri dan orang-orang yang tinggal dalam satu rumah. Dilanjut dengan sholat Idul Fitri juga berusaha dilakukan berjamaah bersama keluarga.

Hikmah lain dari prosesi sholat jamaah keluarga tersebut, adalah melatih keikhlasan kita. Bila mungkin selama kita sholat jamaah di masjid (kecuali yang tidak terbiasa) rasa ikhlasnya tidak sampai 60-70%, jamaah di rumah bisa jadi meningkatkan kadar keikhlasan. Jika tidak sampai 100%, paling tidak sudah lebih 75%.

Kenapa begitu? Bilamana kita jamaah di masjid, mungkin masih ada rasa tidak enak dengan jamaah yang lain jika tidak kelihatan di masjid. Atau dengan alasan mungkin daripada nganggur di rumah. Dan yang lebih parah lagi biar kelihatan sebagai orang yang ahli ibadah, na'udzu billah.

Nah, moment sholat di rumah ini bisa benar-benar melatih keikhlasan, dengan tetap sholat jamaah tanpa mengharap "pujian" dari orang lain. Ya, memang kadangkala masih suka dipotret dan diupload di media sosia. Tetapi meskipun begitu semoga tidak termasuk orang-orang pamer.

Kedua, rumah kita menjadi tercahayai dengan cahaya sholat kita, cahaya tilawah al-Qur'an kita dan amal-amal Sholeh lainnya.

Ketiga, khususnya di suasana hari raya seperti ini, bisa mengurangi pengeluaran yang tidak buruh-buruh banget dikeluarkan.

Keempat, bisa mengenal lebih dalam kepribadian masing-masing. Terutama terhadap anak-anak kita yang mungkin selama ini hanya seolah-olah sudah "pasrah" kepada lembaga pendidikan. Situasi seperti ini, kita diperlihatkan langsung setiap hari bagaimana polah tingkah anak-anak kita. Utamanya hal pendidikannya.

Selanjutnya, silahkan Anda renungkan sendiri hikmah-hikmah yang Anda alami. Tentu sangat banyak dan saya pribadi tidak akan mampu menghitung banyaknya hikmah yang bertaburan atas setiap peristiwa yang terjadi sekarang ini.

Syukur-syukur, jika Anda mau menuangkannya dalam bentuk tulisan agar menjadi kenang-kenangan terindah untuk anak-cucu ya kelak.

Jika tulisan Anda sudah jadi, silahkan hubungi nomer ini 0877-5101-5999 Atau Anda mau belajar menulis, silahkan saja di Call.

Fery Fadly Jauhari Penyair asal Sumenep. Kini tinggal di Surabaya. Buku Puisinya akan terbit dalam waktu dekat.  



Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.