Hikmah Diam di Rumah
Satu catetan penting yang bisa kita ambil hikmahnya di
hari raya Idul Fitri kali ini. Yakni, tidak kemana-mana atau di rumah saja.
Tentunya bagi wilayah-wilayah yang dampaknya cukup signifikan, misal di
Surabaya ini.
Ya walaupun tidak sepenuhnya orang-orang tetap di rumah,
masih lumayan juga yang unjung-unjung di moment Idul Fitri ini. Alasannya sih
beragam. Ada yang memang butuh untuk keluar rumah. Ada pula yang merasa
kesepian di rumah, masak hari raya setahun sekali saja Ndak boleh keluar.
Tetapi itupun dilakukan hanya sebatas area Surabaya saja.
Ya masih wajar lah, toh juga sesuai protokol kesehatan (kecuali yang tidak).
Masih sama-sama wilayah Surabaya.
Namun, apakah benar tidak ada yang pergi ke luar kota
meski hanya kota- kota terdekat? Jawabannya, masih ada juga yang bepergian ke
luar kota. Tetapi jumlahnya mungkin sangat sedikit.
Lalu hikmahnya dimana dengan kita tidak pergi
kemana-mana?
Pertama, bisa jadi lebih dekat dengan keluarga. Terutama
kedekatan dalam hal Ubudiyah.
Banyak dari teman-teman penulis, khususnya yang berusaha
sholat jamaah di rumah masing-masing. Yang selama ini bisa jadi sholatnya
sendiri-sendiri.
Dimulai dari sholat tarawih di rumah bersama anak, istri
dan orang-orang yang tinggal dalam satu rumah. Dilanjut dengan sholat Idul
Fitri juga berusaha dilakukan berjamaah bersama keluarga.
Hikmah lain dari prosesi sholat jamaah keluarga tersebut,
adalah melatih keikhlasan kita. Bila mungkin selama kita sholat jamaah di
masjid (kecuali yang tidak terbiasa) rasa ikhlasnya tidak sampai 60-70%, jamaah
di rumah bisa jadi meningkatkan kadar keikhlasan. Jika tidak sampai 100%,
paling tidak sudah lebih 75%.
Kenapa begitu? Bilamana kita jamaah di masjid, mungkin
masih ada rasa tidak enak dengan jamaah yang lain jika tidak kelihatan di
masjid. Atau dengan alasan mungkin daripada nganggur di rumah. Dan yang lebih
parah lagi biar kelihatan sebagai orang yang ahli ibadah, na'udzu billah.
Nah, moment sholat di rumah ini bisa benar-benar melatih
keikhlasan, dengan tetap sholat jamaah tanpa mengharap "pujian" dari
orang lain. Ya, memang kadangkala masih suka dipotret dan diupload di media
sosia. Tetapi meskipun begitu semoga tidak termasuk orang-orang pamer.
Kedua, rumah kita menjadi tercahayai dengan cahaya sholat
kita, cahaya tilawah al-Qur'an kita dan amal-amal Sholeh lainnya.
Ketiga, khususnya di suasana hari raya seperti ini, bisa
mengurangi pengeluaran yang tidak buruh-buruh banget dikeluarkan.
Keempat, bisa mengenal lebih dalam kepribadian
masing-masing. Terutama terhadap anak-anak kita yang mungkin selama ini hanya
seolah-olah sudah "pasrah" kepada lembaga pendidikan. Situasi seperti
ini, kita diperlihatkan langsung setiap hari bagaimana polah tingkah anak-anak
kita. Utamanya hal pendidikannya.
Selanjutnya, silahkan Anda renungkan sendiri
hikmah-hikmah yang Anda alami. Tentu sangat banyak dan saya pribadi tidak akan
mampu menghitung banyaknya hikmah yang bertaburan atas setiap peristiwa yang
terjadi sekarang ini.
Syukur-syukur, jika Anda mau menuangkannya dalam bentuk
tulisan agar menjadi kenang-kenangan terindah untuk anak-cucu ya kelak.
Jika tulisan Anda sudah jadi, silahkan hubungi nomer ini 0877-5101-5999
Atau Anda mau belajar menulis, silahkan saja di Call.
Fery Fadly Jauhari Penyair asal Sumenep. Kini tinggal di Surabaya. Buku Puisinya akan terbit dalam waktu dekat.

Tidak ada komentar: