Jangan Lelah Menasehati Diri
Sudah menjadi mafhum dan menjadi sebuah khazanah umum,
bahwa setiap orang memiliki pandangan, pemikiran dan pendapatnya
sendiri-sendiri, sesuai kapasitas dan kapabilitasnya di dunia ini.
Bahkan seringkali terjadi pula ada yang melebihi
keduanya. Sehingga terkesan melampaui batas kemampuannya.
Sementara
kecenderungan manusia, dimana hal ini juga sudah menjadi fenomena yang lumrah,
adalah memiliki "pendapat" dan "pandanga" mengenai setiap
perkara yang terjadi. Lebih-lebih yang terjadi terhadap orang lain, lumrahnya
memang mengundang ragam pendapat dan muncul otomatis untaian-untaian nasehat
untuk mereka.
Yang dalam hal ini oleh guru kami lebih tepatnya
dibahasakan dengan "berasusmsi". Setiap orang memiliki asumsi. Tentu
namanya asumsi tergantung bagaimana setiap personal melatih dan
"memeragakan" asumsinya di kehidupan dunia ini. Sudah seauai standart
sunatulloh atau cenderung mengandai-andai.
Di sinilah terkadang manusia terkecoh oleh asumsinya
sendiri. Sebab seringkali mereka lebih pandai memberikan pendapat dan bahkan
memberikan nasehat untuk orang lain di luar dirinya. Lalu pada dirinya sendiri
kadang-kala terabaikan.
Bisa saja terjadi pula, bilamana ia mendapatkan nasehat
dari orang lain, asumsi peribadinya masih mempertahakan bahwa ia dalam posisi
yang "benar" menurutnya.
Sebagai manusia pembelajar yang terus berusaha untuk
belajar dan belajar, sejatinya memiliki sifat & sikap muhasabah alannafs
sekaligus ibda' binafsih.
Yakni memiliki sikap mental untuk selalu siap untuk
introspeksi diri yang sekaligus dikombinasikan dengan sikap memulai sesuatu hal
dari diri sendiri, sebelum melanjutkannya kepada siapa pun di luar dirinya.
Baik terkait dengan ilmu pengetahuan yang didapatkan dari
istiqomahnya belajar dan semacamnya, atau dari setiap pengalaman hidup yang
menjadi pendorong pembelajaran dalam kehidupannya.
Terlebih lagi bilamana ia telah diberi amanah oleh Alloh
untuk, semisal, menjadi penganjur agama, guru, pendakwah, khotib, motifator,
dan sebagainya, untuk memberikan sumbangsih pemikiran ataupun menyampaikan
pendapat atau pembelajaran kepada orang lain.
Oleh karenanya, untuk kita semua, khususnya untuk
penulis, jangan lah kita lelah untuk mengingatkan dan memberikan nasehat untuk
diri sendiri terlebih dahulu sebelum melanjutkannya kepada orang lain.
Entah itu kepada anak, istri, kekuluarga dan orang-orang
di sekitar kita. Akan lebih baik jika kita mampu menasehati diri sendiri
terlebih dahulu, secara istiqomah dan mudawamah.
Fery Fadly Jauhari Penyair asal Sumenep. Kini tinggal di Surabaya. Buku Puisinya akan terbit dalam waktu dekat.

Tidak ada komentar: