Jangan Lelah Menasehati Diri

Kamis, Agustus 27, 2020

Sudah menjadi mafhum dan menjadi sebuah khazanah umum, bahwa setiap orang memiliki pandangan, pemikiran dan pendapatnya sendiri-sendiri, sesuai kapasitas dan kapabilitasnya di dunia ini.

Bahkan seringkali terjadi pula ada yang melebihi keduanya. Sehingga terkesan melampaui batas kemampuannya.

 Sementara kecenderungan manusia, dimana hal ini juga sudah menjadi fenomena yang lumrah, adalah memiliki "pendapat" dan "pandanga" mengenai setiap perkara yang terjadi. Lebih-lebih yang terjadi terhadap orang lain, lumrahnya memang mengundang ragam pendapat dan muncul otomatis untaian-untaian nasehat untuk mereka.

Yang dalam hal ini oleh guru kami lebih tepatnya dibahasakan dengan "berasusmsi". Setiap orang memiliki asumsi. Tentu namanya asumsi tergantung bagaimana setiap personal melatih dan "memeragakan" asumsinya di kehidupan dunia ini. Sudah seauai standart sunatulloh atau cenderung mengandai-andai.

Di sinilah terkadang manusia terkecoh oleh asumsinya sendiri. Sebab seringkali mereka lebih pandai memberikan pendapat dan bahkan memberikan nasehat untuk orang lain di luar dirinya. Lalu pada dirinya sendiri kadang-kala terabaikan.

Bisa saja terjadi pula, bilamana ia mendapatkan nasehat dari orang lain, asumsi peribadinya masih mempertahakan bahwa ia dalam posisi yang "benar" menurutnya.

Sebagai manusia pembelajar yang terus berusaha untuk belajar dan belajar, sejatinya memiliki sifat & sikap muhasabah alannafs sekaligus ibda' binafsih.

Yakni memiliki sikap mental untuk selalu siap untuk introspeksi diri yang sekaligus dikombinasikan dengan sikap memulai sesuatu hal dari diri sendiri, sebelum melanjutkannya kepada siapa pun di luar dirinya.

Baik terkait dengan ilmu pengetahuan yang didapatkan dari istiqomahnya belajar dan semacamnya, atau dari setiap pengalaman hidup yang menjadi pendorong pembelajaran dalam kehidupannya.

Terlebih lagi bilamana ia telah diberi amanah oleh Alloh untuk, semisal, menjadi penganjur agama, guru, pendakwah, khotib, motifator, dan sebagainya, untuk memberikan sumbangsih pemikiran ataupun menyampaikan pendapat atau pembelajaran kepada orang lain.

Oleh karenanya, untuk kita semua, khususnya untuk penulis, jangan lah kita lelah untuk mengingatkan dan memberikan nasehat untuk diri sendiri terlebih dahulu sebelum melanjutkannya kepada orang lain.

Entah itu kepada anak, istri, kekuluarga dan orang-orang di sekitar kita. Akan lebih baik jika kita mampu menasehati diri sendiri terlebih dahulu, secara istiqomah dan mudawamah.

Fery Fadly Jauhari Penyair asal Sumenep. Kini tinggal di Surabaya. Buku Puisinya akan terbit dalam waktu dekat.  

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.