Alloh Mahabaik

Kamis, Agustus 27, 2020

Marilah kita terus senantiasa tingkatkan iman dan takwa kita kepada Alloh swt. dengan selalu berusaha berbuat baik kepada semua makhluk Alloh.

Kepada hewan, tumbuhan, air, tanah dan semua makhluk Alloh di dunia ini. Tak ada alasan untuk tidak berbuat baik kepada mereka, dan tak perlu mencari-cari alasan untuk tidak berbuat arif lagi bijaksana kepada mereka.

Apalagi kepada sesama manusia, lebih-lebih dengan kaum muslimin yang merupakan saudara kita di dunia sampai akhirot. Terutama pula, selalu berbuat baik kepada keluarga sesuai qudrot dan irodat kejadian kita, entah sebagai suami, sebagai anak dan sebagai orang tua.

Begitu pula berbuat baiklah selalu kepada tetangga dan masyarakat sekitar kita. Siapapun mereka, apapun predikat atau kedudukan mereka, tetaplah berbuat baik selalu. Bukan diniatkan untuk mencari muka di depan banyak orang, tetapi semata-mata untuk menjalankan perintah Alloh dan Rosululloh Muhammad saw. untuk selalu berbuat baik dan menghormati tetangga.

Yang harus kita sadari, bahwa Alloh itu Maha Indah dan DIA menyukai keindahan, maka berindah-indahlah dengan sesama, tetangga dan masyarakat. Alloh pun Mahabaik, dan Rosululloh adalah seorang yang sangat kampiun teladan dalam kebaikan, maka siapa lagi yang mau kita contoh kalau bukan Rosululloh saw. untuk selalu berbuat baik dengan sesama manusia.

Suatu ketika Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq r.hu kedatangan tamu agung, yakni Rosululloh shollallohu alih alaihi sholatulloh. Ketika dalam asyiknya mengobrol, ada seorang tamu tak diundang datang, seorang arab badui, ia datang dengan sumpah serapah dan umpatan-umpatan kasar yang ditujukan kepada sayyidina Abu Bakar. Namun Abu Bakar tidak menggubrisnya, asyik saja beliau terus mengobrol dengan Rosululloh. Seketika itu pula dari wajah Rosululloh, terhaturkan senyum yang begitu indah untuk Abu Bakar.

Kali kedua, merasa tak berhasil, sang arab badui semakin kasar dan kotor makiaannya terhadap Abu bakar. Sungguhpun begitu kasar dan sarkastik, hati Abu Bakar tetap tangguh, kokoh dan tetap sabar, beliau masih asyik dengan Rosululloh. Sungguh sangat tak terbayangkan, begitu indahnya senyum rosululloh ketika itu, bukan hanya dari mulut dan wajahnya, tetapi seluruh tubuh Rosululloh mencarkan senyum yang begitu indah, sejuk dan merona.

Di lain pihak, si pengganggu tadi semakin gusar dan semakin kesal, merasa caciannya kepada sang Sahabat nabi itu tak berhasil. Maka, ia pun semakin melontarkan makian dan pisuan yang semakin tak beradab. Dan sayang sungguh sayang, kali ini Abu Bakar tak mampu menahan amarahnya, ia membalas orang arab badui yang mencacinya itu. Entah karena memang sudah tak mampu mengendalikan amarahnya atau kerena tak terima ada orang marah-marah di depan Rosululloh.

Lalu, seketika itu pula Rosululloh bangkit dan meninggalkan Abu Bakar. Sekejab, Abu Bakar tertegun, menyesal dan sadar atas kesalahannya, maka beliau pun mengejar Rosululloh. Seraya berkata,

“Wahai Rosululloh, jika aku berbuat salah mohon jelaskan dan maafkanlah kesalahanku, jangan biarkan aku dalam kebingungan.”

Rosululloh menjawab, “Ketika orang itu datang mencelamu dan kamu tidak menanggapinya, aku tersenyum sebab banyak malaikat yang mendatangimu dan akan membelamu di hadapan Alloh. begitupun untuk yang kedua, orang itu terus mencacimu, dan kau tetap membiarkannya, para malaikat semakin banyak yang berkumpul mengelilingimu. Oleh karenanya aku semakin tersenyum.

Namun selanjutnya, kamu menanggapi dan bahkan membalas makiannya, tahukah apa yang terjadi? Malaikat-malaikat itu pergi meninggalkanmu, digantikan oleh iblis yang datang meyertaimu untuk semakin memanas-manasimu. Karena itulah aku tidak ingin berdekatan dengannya, dan tak memberikan salam kepadamu.

Lalu bagaimana sikap kita, marilah semampu dan sekuat tenaga serta pikiran kita untuk selalu berbuat baik dan mintalah kepada Alloh agar dimampukan dan dikuatkan untuk sesalu berbuat baik terhadap siapa saja dan terhadap apa saja. Walaupun itu terhadap orang yang sangat buruk peranaginya terhadap kita.

Mari kita renungi dan teladani, dawuh Rosululloh saw.

صِلْ مَنْ قَطَعَكَ وَ أَحْسِنْ إِلَى مَنْ أسَاءَ إِلَيْكَ وَ قُلِ الْحَقَّ وَلَوْ عَلَى نَفْسِكَ

“Sambunglah persaudaraan dengan orang yang memutuskannya denganmu, berbuat baiklah terhadap orang yang berbuat buruk kepadamu, dan katakanlah yang haq walaupun atas dirimu sendiri.” (Hr. Ibnu An-Najjar)

Mengutip hadis di atas, Syekh Nawawi al-Bantani menjelaskan tentang sifat ihsan, dalam kitab tafsirnya, yakni
 
Yang artinya, “bukanlah disebut Ihsan ketika kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepadamu, itu namanya berbalasan. Sesungguhnya yang dikatakan ihsan bilamana kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat jelek kepadamu.” (Syekh Nawawi Banten, Tafsîr Maroh Labîd, juz I)

Oleh karena itulah, mari kita jangan ragu untuk berbuat baik, karena Alloh Maha baik kepada siapapun, walaupun kepada orang yang menduakanNYA. Mari berbuat baik walaupun kepada orang yang mebenci kita, karena Rosululloh mengajarkan dan mencontohkannya pula, ketika beliau dicaci-maki oleh seorang pengemis buta di emperan pasar, beliau tetap mau menyuapinya walau yang disuapi terus mencaci bahkan di depan beliau sendiri.

Yang terakhir, berani mengatakan yang haq / benar walaupun kepada dirimu  sendiri. Inilah yang tersulit, ketika kita diperintahkan untuk menyampaikan kebaikan walaupun itu pahit, insyaAlloh itu masih mudah. Tetapi ketika disuruh mendakwahkan kebaikan kepada diri sendiri, pahitnya terasa sangat lebih pahit dari semua yang pahit di dunia ini. Sebab lawannya tak tanggung-tanggung, lawannya adalah diri kita sendiri, ke-aku-an, ego kita, dan nafsu kita sendiri.

Di sinilah kita perlu latihan sepanjang masa, sampai malaikat maut menjemput kita. Sebab orang-orang terlatih sekalipun akan jungkir balik dan jumpalitan, karena musuhnya adalah nafsunya sendiri. Maka Rosululloh benar-benar mewasiatkan, pada waktu itu kepada pada sahabat pasca perang badar, dan kepada kita umatnya secara umum, bahwa jihadul akbar adalah jihad melawan hawa nafsu.




Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.