Alloh Mahabaik
Marilah kita terus senantiasa tingkatkan iman dan takwa
kita kepada Alloh swt. dengan selalu berusaha berbuat baik kepada semua makhluk
Alloh.
Kepada hewan, tumbuhan, air, tanah dan semua makhluk
Alloh di dunia ini. Tak ada alasan untuk tidak berbuat baik kepada mereka, dan
tak perlu mencari-cari alasan untuk tidak berbuat arif lagi bijaksana kepada
mereka.
Apalagi kepada sesama manusia, lebih-lebih dengan kaum
muslimin yang merupakan saudara kita di dunia sampai akhirot. Terutama pula,
selalu berbuat baik kepada keluarga sesuai qudrot dan irodat kejadian kita,
entah sebagai suami, sebagai anak dan sebagai orang tua.
Begitu pula berbuat baiklah selalu kepada tetangga dan
masyarakat sekitar kita. Siapapun mereka, apapun predikat atau kedudukan
mereka, tetaplah berbuat baik selalu. Bukan diniatkan untuk mencari muka di
depan banyak orang, tetapi semata-mata untuk menjalankan perintah Alloh dan
Rosululloh Muhammad saw. untuk selalu berbuat baik dan menghormati tetangga.
Yang harus kita sadari, bahwa Alloh itu Maha Indah dan
DIA menyukai keindahan, maka berindah-indahlah dengan sesama, tetangga dan
masyarakat. Alloh pun Mahabaik, dan Rosululloh adalah seorang yang sangat
kampiun teladan dalam kebaikan, maka siapa lagi yang mau kita contoh kalau
bukan Rosululloh saw. untuk selalu berbuat baik dengan sesama manusia.
Suatu ketika Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq r.hu
kedatangan tamu agung, yakni Rosululloh shollallohu alih alaihi sholatulloh.
Ketika dalam asyiknya mengobrol, ada seorang tamu tak diundang datang, seorang
arab badui, ia datang dengan sumpah serapah dan umpatan-umpatan kasar yang
ditujukan kepada sayyidina Abu Bakar. Namun Abu Bakar tidak menggubrisnya,
asyik saja beliau terus mengobrol dengan Rosululloh. Seketika itu pula dari
wajah Rosululloh, terhaturkan senyum yang begitu indah untuk Abu Bakar.
Kali kedua, merasa tak berhasil, sang arab badui semakin
kasar dan kotor makiaannya terhadap Abu bakar. Sungguhpun begitu kasar dan
sarkastik, hati Abu Bakar tetap tangguh, kokoh dan tetap sabar, beliau masih
asyik dengan Rosululloh. Sungguh sangat tak terbayangkan, begitu indahnya
senyum rosululloh ketika itu, bukan hanya dari mulut dan wajahnya, tetapi
seluruh tubuh Rosululloh mencarkan senyum yang begitu indah, sejuk dan merona.
Di lain pihak, si pengganggu tadi semakin gusar dan
semakin kesal, merasa caciannya kepada sang Sahabat nabi itu tak berhasil.
Maka, ia pun semakin melontarkan makian dan pisuan yang semakin tak beradab.
Dan sayang sungguh sayang, kali ini Abu Bakar tak mampu menahan amarahnya, ia
membalas orang arab badui yang mencacinya itu. Entah karena memang sudah tak
mampu mengendalikan amarahnya atau kerena tak terima ada orang marah-marah di
depan Rosululloh.
Lalu, seketika itu pula Rosululloh bangkit dan
meninggalkan Abu Bakar. Sekejab, Abu Bakar tertegun, menyesal dan sadar atas
kesalahannya, maka beliau pun mengejar Rosululloh. Seraya berkata,
“Wahai Rosululloh, jika aku berbuat salah mohon jelaskan
dan maafkanlah kesalahanku, jangan biarkan aku dalam kebingungan.”
Rosululloh menjawab, “Ketika orang itu datang mencelamu
dan kamu tidak menanggapinya, aku tersenyum sebab banyak malaikat yang mendatangimu
dan akan membelamu di hadapan Alloh. begitupun untuk yang kedua, orang itu
terus mencacimu, dan kau tetap membiarkannya, para malaikat semakin banyak yang
berkumpul mengelilingimu. Oleh karenanya aku semakin tersenyum.
Namun selanjutnya, kamu menanggapi dan bahkan membalas
makiannya, tahukah apa yang terjadi? Malaikat-malaikat itu pergi
meninggalkanmu, digantikan oleh iblis yang datang meyertaimu untuk semakin
memanas-manasimu. Karena itulah aku tidak ingin berdekatan dengannya, dan tak
memberikan salam kepadamu.
Lalu bagaimana sikap kita, marilah semampu dan sekuat
tenaga serta pikiran kita untuk selalu berbuat baik dan mintalah kepada Alloh
agar dimampukan dan dikuatkan untuk sesalu berbuat baik terhadap siapa saja dan
terhadap apa saja. Walaupun itu terhadap orang yang sangat buruk peranaginya
terhadap kita.
Mari kita renungi dan teladani, dawuh Rosululloh saw.
صِلْ مَنْ
قَطَعَكَ وَ أَحْسِنْ إِلَى مَنْ أسَاءَ إِلَيْكَ وَ قُلِ الْحَقَّ وَلَوْ عَلَى
نَفْسِكَ
“Sambunglah persaudaraan dengan orang yang memutuskannya
denganmu, berbuat baiklah terhadap orang yang berbuat buruk kepadamu, dan
katakanlah yang haq walaupun atas dirimu sendiri.” (Hr. Ibnu An-Najjar)
Mengutip hadis di atas, Syekh Nawawi al-Bantani
menjelaskan tentang sifat ihsan, dalam kitab tafsirnya, yakni
Yang artinya, “bukanlah disebut Ihsan ketika kamu berbuat
baik kepada orang yang berbuat baik kepadamu, itu namanya berbalasan.
Sesungguhnya yang dikatakan ihsan bilamana kamu berbuat baik kepada orang yang
berbuat jelek kepadamu.” (Syekh Nawawi Banten, Tafsîr Maroh Labîd, juz I)
Oleh karena itulah, mari kita jangan ragu untuk berbuat
baik, karena Alloh Maha baik kepada siapapun, walaupun kepada orang yang
menduakanNYA. Mari berbuat baik walaupun kepada orang yang mebenci kita, karena
Rosululloh mengajarkan dan mencontohkannya pula, ketika beliau dicaci-maki oleh
seorang pengemis buta di emperan pasar, beliau tetap mau menyuapinya walau yang
disuapi terus mencaci bahkan di depan beliau sendiri.
Yang terakhir, berani mengatakan yang haq / benar
walaupun kepada dirimu sendiri. Inilah
yang tersulit, ketika kita diperintahkan untuk menyampaikan kebaikan walaupun
itu pahit, insyaAlloh itu masih mudah. Tetapi ketika disuruh mendakwahkan
kebaikan kepada diri sendiri, pahitnya terasa sangat lebih pahit dari semua yang
pahit di dunia ini. Sebab lawannya tak tanggung-tanggung, lawannya adalah diri
kita sendiri, ke-aku-an, ego kita, dan nafsu kita sendiri.
Di sinilah kita perlu latihan sepanjang masa, sampai
malaikat maut menjemput kita. Sebab orang-orang terlatih sekalipun akan jungkir
balik dan jumpalitan, karena musuhnya adalah nafsunya sendiri. Maka Rosululloh
benar-benar mewasiatkan, pada waktu itu kepada pada sahabat pasca perang badar,
dan kepada kita umatnya secara umum, bahwa jihadul akbar adalah jihad melawan
hawa nafsu.

Tidak ada komentar: