Jahiliyyah Milenial
Betapa
jahilnya orang-orang beragama pada akhir jaman ini. Betapa tidak?! Mereka
sering mengucapkan apa-apa yang tidak dipahaminya, seringkali malah tidak ada
pada dirinya apa-apa yang digembar-gembor di bubirnya.
Misalnya,
yang sekarang ini, atau semenjak pandemi covid19 mampir di Indonesia. “Mereka”
secara lantang teriak, “Takutlah kepada Alloh. Jangan takut kepada corona!”
Alfaqir
malah geli melihat orang-orang yang berpenampilan agamis, namun otaknya otak
udang.
“Mereka”
tidak paham bagaimana semestinya memosikan Gusti Alloh dalam hatinya di
kehidupan ini.
“Mereka”
juga tidak paham bagaimana seharusnya memosisikan agama kesayangan kita pada
porsi yang tepat dalam kepribadiannya.
Akibatnya,
“mereka” menjadi bahan canda tawa para musuh agama yang sejak awal memang tidak
ridlo terhadap dinul Islam.
Silakan
tes pada “mereka” yang hobinya teriak, “Takutlah hanya kepada Alloh”. Lalu,
ajak ke kebun binatang. “Mereka” masukkan kandang harimau, atau kandang singa, atau
kandang ular kobra. Apakah “mereka” masih takut dengan Gusti Alloh? Atau,
justru lari tunggang langgang???
Buktinya,
“mereka” sangat ketakutan jika tidak punya uang, ketakutan jika tidak dapat
makan, ketakutan pabriknya tutup, ketakutan semua santri pada pulang, ketakutan
tidak ada yang mengundang ceramah, takut tidak ada yang mengundang khutbah
Jum’at, ketakutan bukunya tidak laku, ketakutan selamanya menjomblo; dan masih
banyak lagi yang sejatinya “mereka” memiliki selera takut pada selain DIA Alloh.
Namun,
“mereka” gayanya seperti para waliyulloh dan para nabiyulloh yang iman dan
keyakinannya sudah pada puncak takutnya hanya dengan Gusti Alloh.
Perlu
dipahami, anjuran pemerintah yang sah, atau ajakan para ulama’ pewaris nabi.
Semata memenuhi maqoshidusy syari’ah. Bahwa, salah satu tujuan agama
Islam adalah untuk menjaga keberlangsungan hidup di kehidupan umat manusia.
Jadi,
kalau “sementara” ini, karena tidak ada yang tahu entah sampai kapan pandemi
covid19 berakhir. Maka, kita diajak supaya disiplin terhadap S.O.P yang sungguh
bijak, seperti:
*
Tidak mudik.
*
Pakai masker.
*
Cuci tangan.
*
Jaga jarak.
*
Tidak berkumpul.
*
Menjadikan rumah baitî jannatî.
*
Istiqomah memohon kepada Gusti Alloh.
Coba
perhatikan “mereka” yang sok agamis malah tidak mau mendisiplinkan diri.
Justru, “mereka” menyengaja atau abai
terhadap kebijakan tersebut.
Inilah
bukti jika selama ini “pendidikan keluarga” di bangsa Indonesia “gagal”.
Apalagi pendidikan nasional jelas gagalnya.
Proses
pendidikan di negeri kita tidak melahirkan orang arif. Namun, melahirkan orang
pandai secara akademis yang “miskin” akhlak adab sebagai bekal kehidupan di
dunia dan bekal setelah kematiannya.
Tidak
mengherankan jika bangsa Indonesia sulit didisiplinkan, salah satu ciri
masyarakat jahiliyyah adalah tidak disiplin. Jika mau memahami qur’an dan
hadis, sejatinya kedua pusaka Kanjeng Nabi saw. itu, mengubah manusia menjadi
disiplin di segala hal.
Jika
realitasnya kaum beragama tidak disiplin berarti “gagal” “pendidikan agama” di
negeri ini. Yang berarti pula, “gagal” pendidikan keluarga.
Bukti
“mereka” tidak paham agama adalah “mereka” mokong sebab mengikuti egois dan
syahwat samar “mereka”. Disangka jika masa pandemi covid19 tetap solat di
masjid adalah baik lagi benar. Dan, masih banyak contoh yang lain yang tidak
baik untuk alfaqir sampaikan di sini.
Jelas,
“mereka” itu kaum picik yang kerdil pemahaman agamanya.
Sekali
lagi, “mereka” tidak mau memahami maqoshidusy syari’ah.
Cobalah,
pahami qur’an kata demi kata, kalimat demi kalimat, surat demi surat; juga
asbabun nuzulnya. Pun pula, terhadap hadis Kanjeng Nabi saw., pahamai secara
utuh termasuk asbabul wurudnya.
Seyang,
“mereka” terjebak nalar pikir kaum jahiliyyah. Karena hidup di era milenial
maka sah jika dikatakan “jahiliyyah milenial”.
Kita
hidup dalam sebuah negara-bangsa yang dikaruniai nikmat lagi indah. Masak masih
mengufurinya melalui kemokongan karena tidak mematuhi “ulil amri”?
Pahami
terjemahan ayat ini, “Patuhlah kalian kepada Alloh, rosul, dan ulil amri di
antara kalian".
Boleh
jadi kalian secara lahir tampak “patuh” kepada Gusti Alloh. Namun, bagaimana
kepatuhan kalian kepada Kanjeng Nabi saw. dan ulil amri???!
Yang
Kanjeng Nabi saw. memerintah supaya patuh terhadap seorang pemimpin meski ia
berasal dari budak yang berkulit hitam.
Apabila
di masa-masa normal kita membedakan antara tempat ibadah dengan pasar. Justru
di masa-masa wabah seperti sekarang harus benar-benar dibedakan antara tempat
ibadah dengan pasar.
Sekarang
waktu yang tepat untuk menjadi muslim yang sabar, ridlo, dan murah-hati. Bukan
menjadi muslim yang mokong, pemarah, penerbar hoaks, dan membenci pemerintah
yang sah.
Pahami
secara benar, ibadah mahdloh kalian sekadar meninggikan derajat personal
kalian. Namun, dinul Islam yang menebarkan semangat rohmatal lil alamin. Selalu
memberikan keteladanan supaya setiap muslim memiliki derajat sosial yang tinggi
di sisi DIA Alloh.
Jadi,
kalau hidup kalian masih dalam lingkaran setan yang namanya “untung-rugi”
jangan berbicara yang muluk-muluk. Sembuhkan hati kalian dari perangai buruk
dikarenakan bercokolnya rasa hasud, benci, dendam, dan ujub. Dikarenakan,
“kalian” memiliki “syahwat beragama” yang terlampau besar.
Mari
kita bersyukur kepada Gusti Alloh, hadirnya pandemi covid19 menjadikan kita kembali
berkumpul di dalam keluarga. Seraya terus melakukan pendidikan keluarga hingga
benar-benar menjadi “Baitî Jannatî”.
Azzamnya,
pandemi covid19 berlalu keluarga kita menjadi kuat dalam hal kemandirian dan
kedaulatan keluarga. Khususnya, dalam bidang ekonomi, finansial, pendidikan,
informasi, dan agama.
Yang
selama ini, sedikit sekali yang mau secara sadar melakukan penguatan
“pendidikan keluarga” tersebut.
Kita
harus bersyukur dengan Gusti Alloh sebab hadirnya pandemi covid19. “Memaksa”
kita untuk segera memiliki “budaya disiplin” dan “budaya uzlah”. Yang keduanya
sangat penting guna mendewasakan mental dan nalar pikir supaya menjadi hamba
Alloh yang patuh dengan Alloh, Rosululloh, dan ulil amri.
Apabila
pandemi covid19 tidak menjadikan kita orang-orang yang sabar, ridlo, dan
murah-hati. Maka, melalui apalagi Gusti Alloh harus mendidik umat manusia
ini?!•


Alhamdulillah Mugi tansah saget Istiqomah belajar
BalasHapusAllahumma barokah
BalasHapus