Lebaran Aneka Rasa Jomblo Madura
Seberapa
besar dampak lebaran di rumah masing-masing tahun ini untuk kita. Tanpa
unjung-unjung ke tetangga tanpa silaturrahmi ke sanak famili. Bahkan sungkeman
kepada orang tua pun harus dilakukan secara virtual.
Tapi
tulisan saya kali ini tidak untuk membahas dampak secara umum. Yang menjadi
konsennya kali ini adalah bagaimana perasaan anak-anak muda di jaman now
yang terdampak lebaran di rumah saja.
Saya
sebagai anak Madura bagian timur, tentu ada banyak hal istimewa ketika tiba
waktu lebaran atau "tellasan" dalam bahasa Maduranya.
Lebih
khusus prihal istimewa itu dirasakan oleh anak-anak muda yang sudah memiliki
bhekal atau abhekalan. Yakni anak-anak muda yang sudah memiliki tunangan.
Tak
bisa dipungkiri, ini adalah sebuah kebiasaan penduduk Madura yang mungkin tak
tertulis dalam berbagai tulisan tentang adat-istiadat Madura. Bahkan orang tua,
khususnya yang punya anak laki-laki, akan memikirkan dan mencarikan calon
Bhekal untuk anaknya.
Sejak
usia kapan ABG Madura sudah berkeinginan untuk bertunangan? Saya akan
kemukakan, tapi dengan syarat tidak boleh dibully, hehe.
Kalau
diukur dalam usia sekolah, sejak duduk di bangku SMP adalah asyik-asyiknya anak
Madura membonceng tunangan. Tak jarang pula di waktu saya masih kecil dulu,
anak-anak di usi sekolah dasar sudah ada yang punya tunangan.
Apakah
itu termasuk saya? Tentu tidak lah, sejak saya masih dalam rahim ibu, saya
termasuk anak yang tidak suka dengan bertunangan di usia muda. Ya meski godaan
untuk hal tersebut, hehe.
Itulah
salah satu sebabnya kenapa saya setelah lulus dari pondok pesantren
"melarikan diri" ke Surabaya. Karena takut dipaksa bertunangan,
sementara saya tak mau itu. (Perlu diingat, sebagian besar anak Madura ketika
usia SMP/MTS melanjutkan pendidikannya di pondok pesantren)
Terkadang,
jika ada anak perempuan atau orang tua dari anak perempuan menolak sebuah
lamaran si calon laki-laki, hal tersebut akan menimbulkan satu sikap keengganan
ke depannya.
Oleh
karenanya terkadang meskipun anak perempuannya tidak "mau", orang tua
akan menerima lamaran itu. Toh nanti anaknya akan terbiasa dengan sendirinya.
Jika
pun lamaran tersebut tidak bisa diterima, si orang tua akan mencari celah yang
cukup berliku untuk menolaknya. Jangan sampai dikemudian hari terjadi
kesenjangan dalam dua keluarga tersebut.
Itulah
sekilas tentang per_bhekalan ala anak ABG Madura. Selanjutnya bagaimana
keistimewaan mereka ketika lebaran tiba?
Yang
paling mendasar adalah munculnya perasaan bahagia dalam dirinya, apalagi ketika
pasangan muda-mudi ini kehidupannya sama-sama di pesantren, yang tak pernah
bertemu satu sama lain.
Ketika
pulang ke rumah saat libur lebaran, ia bersalaman dengan orang tua dan sanak
famili. Tetapi yang ada di pikirannya adalah pintu rumah tunangannya. Di
sinilah awal munculnya hormon bahagi tersebut. Sebab, jangankan wajah si
tunangan, tekstur dan bentuk pintu rumahnya pun ia hafal. ;D
Kemudian
tiba saatnya lebaran, hormon bahagia itu muncul berlipat-lipat, lebih-lebih
mereka yang usia pertunangannya masih seumur jagung. Mereka akan unjung-unjung
dan bersilaturrahmi ke tetangga dan sanak famili dengan "membonceng"
tunangannya.
Sungguh
rasanya tak kalah dengan joinan satu batang rokok dan segelas minuman bersama
teman-teman sekelas. (Maaf, terpaksa contohnya itu karena tak ada pembanding
yang menyamai kebahagiaan tersebut).
Berbanding
terbalik dengan anak-anak Madura yang tak punya tunangan, kunjungan ke tetangga
masih dengan orang tuanya. Entah usianya sudah lumayan "tua" tapi
tetap masih sama orang tuanya.
Sebab
orang-orang yang dikunjungi akan meledeknya terus dengan mengatakan,
"sendirian aja kamu?" Padahal mereka tahu bahwa anak itu bareng sama
orang tuanya. Masih dibilang sendirian. Duh... Duh..
Ada
lagi yang blak-blakan nanya, mana bhekalnya? Bisa dibayangkan nggak gimana
perasaan anak itu? Ngenes tau..! Sebab itu yang saya alami. Hehehe.
Itulah
kenapa lebaran kali ini menjadi moment terindah untuk para Jombloer. Mereka tak
perlu unjung-unjung yang ujung-ujungnya pasti ditanya tentang tunangan.
Tetapi
Moment indah lebaran kali ini justru menjadi moment ngenesnya pemuda-pemudi
jaman now. Dimana silaturrahmi lebih banyak lewat media sosial. Tak terkecuali
pemuda-pemuda luar Madura juga merasakan hal ini.
Coba
bayangkan, pesan-pesan bergambar sekarang bertebaran di media sosial untuk
sekadar mengucapkan selamat hari raya idul Fitri. Ngenesnya ketika pesan gambar
tersebut adalah gambar pasangan.
Saya
jadi berpikir kilas balik ke jaman saya kecil dulu, bagaimana para Jombloer
tidak berani "keluar" untuk mengucapkan selamat lebaran karena ketika
difoto, di sampingnya tidak ada orang, alias fotonya sendirian. Ngenes kan...?!
Fery Fadly Jauhari Penyair asal Sumenep. Kini tinggal di Surabaya. Buku Puisinya akan terbit dalam waktu dekat.

Tidak ada komentar: