Lebaran Aneka Rasa Jomblo Madura

Selasa, Mei 26, 2020
Seberapa besar dampak lebaran di rumah masing-masing tahun ini untuk kita. Tanpa unjung-unjung ke tetangga tanpa silaturrahmi ke sanak famili. Bahkan sungkeman kepada orang tua pun harus dilakukan secara virtual.

Tapi tulisan saya kali ini tidak untuk membahas dampak secara umum. Yang menjadi konsennya kali ini adalah bagaimana perasaan anak-anak muda di jaman now yang terdampak lebaran di rumah saja.

Saya sebagai anak Madura bagian timur, tentu ada banyak hal istimewa ketika tiba waktu lebaran atau "tellasan" dalam bahasa Maduranya.

Lebih khusus prihal istimewa itu dirasakan oleh anak-anak muda yang sudah memiliki bhekal atau abhekalan. Yakni anak-anak muda yang sudah memiliki tunangan.

Tak bisa dipungkiri, ini adalah sebuah kebiasaan penduduk Madura yang mungkin tak tertulis dalam berbagai tulisan tentang adat-istiadat Madura. Bahkan orang tua, khususnya yang punya anak laki-laki, akan memikirkan dan mencarikan calon Bhekal untuk anaknya.

Sejak usia kapan ABG Madura sudah berkeinginan untuk bertunangan? Saya akan kemukakan, tapi dengan syarat tidak boleh dibully, hehe.

Kalau diukur dalam usia sekolah, sejak duduk di bangku SMP adalah asyik-asyiknya anak Madura membonceng tunangan. Tak jarang pula di waktu saya masih kecil dulu, anak-anak di usi sekolah dasar sudah ada yang punya tunangan.

Apakah itu termasuk saya? Tentu tidak lah, sejak saya masih dalam rahim ibu, saya termasuk anak yang tidak suka dengan bertunangan di usia muda. Ya meski godaan untuk hal tersebut, hehe.

Itulah salah satu sebabnya kenapa saya setelah lulus dari pondok pesantren "melarikan diri" ke Surabaya. Karena takut dipaksa bertunangan, sementara saya tak mau itu. (Perlu diingat, sebagian besar anak Madura ketika usia SMP/MTS melanjutkan pendidikannya di pondok pesantren)

Terkadang, jika ada anak perempuan atau orang tua dari anak perempuan menolak sebuah lamaran si calon laki-laki, hal tersebut akan menimbulkan satu sikap keengganan ke depannya.

Oleh karenanya terkadang meskipun anak perempuannya tidak "mau", orang tua akan menerima lamaran itu. Toh nanti anaknya akan terbiasa dengan sendirinya.

Jika pun lamaran tersebut tidak bisa diterima, si orang tua akan mencari celah yang cukup berliku untuk menolaknya. Jangan sampai dikemudian hari terjadi kesenjangan dalam dua keluarga tersebut.

Itulah sekilas tentang per_bhekalan ala anak ABG Madura. Selanjutnya bagaimana keistimewaan mereka ketika lebaran tiba?

Yang paling mendasar adalah munculnya perasaan bahagia dalam dirinya, apalagi ketika pasangan muda-mudi ini kehidupannya sama-sama di pesantren, yang tak pernah bertemu satu sama lain.

Ketika pulang ke rumah saat libur lebaran, ia bersalaman dengan orang tua dan sanak famili. Tetapi yang ada di pikirannya adalah pintu rumah tunangannya. Di sinilah awal munculnya hormon bahagi tersebut. Sebab, jangankan wajah si tunangan, tekstur dan bentuk pintu rumahnya pun ia hafal. ;D

Kemudian tiba saatnya lebaran, hormon bahagia itu muncul berlipat-lipat, lebih-lebih mereka yang usia pertunangannya masih seumur jagung. Mereka akan unjung-unjung dan bersilaturrahmi ke tetangga dan sanak famili dengan "membonceng" tunangannya.

Sungguh rasanya tak kalah dengan joinan satu batang rokok dan segelas minuman bersama teman-teman sekelas. (Maaf, terpaksa contohnya itu karena tak ada pembanding yang menyamai kebahagiaan tersebut).

Berbanding terbalik dengan anak-anak Madura yang tak punya tunangan, kunjungan ke tetangga masih dengan orang tuanya. Entah usianya sudah lumayan "tua" tapi tetap masih sama orang tuanya.

Sebab orang-orang yang dikunjungi akan meledeknya terus dengan mengatakan, "sendirian aja kamu?" Padahal mereka tahu bahwa anak itu bareng sama orang tuanya. Masih dibilang sendirian. Duh... Duh..

Ada lagi yang blak-blakan nanya, mana bhekalnya? Bisa dibayangkan nggak gimana perasaan anak itu? Ngenes tau..! Sebab itu yang saya alami. Hehehe.

Itulah kenapa lebaran kali ini menjadi moment terindah untuk para Jombloer. Mereka tak perlu unjung-unjung yang ujung-ujungnya pasti ditanya tentang tunangan.

Tetapi Moment indah lebaran kali ini justru menjadi moment ngenesnya pemuda-pemudi jaman now. Dimana silaturrahmi lebih banyak lewat media sosial. Tak terkecuali pemuda-pemuda luar Madura juga merasakan hal ini.

Coba bayangkan, pesan-pesan bergambar sekarang bertebaran di media sosial untuk sekadar mengucapkan selamat hari raya idul Fitri. Ngenesnya ketika pesan gambar tersebut adalah gambar pasangan.

Saya jadi berpikir kilas balik ke jaman saya kecil dulu, bagaimana para Jombloer tidak berani "keluar" untuk mengucapkan selamat lebaran karena ketika difoto, di sampingnya tidak ada orang, alias fotonya sendirian. Ngenes kan...?!

Fery Fadly Jauhari Penyair asal Sumenep. Kini tinggal di Surabaya. Buku Puisinya akan terbit dalam waktu dekat.  



Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.