Kapal Dan Jangkar

Kamis, Agustus 13, 2020

Jika Anda berjalan menyusuri pantai pasti akan menemui kapal atau perahu yang berjajar indah tertata rapi dengan bendera kesenangan si empunya.

Awan sedikit diselimuti mendung bersama riak gelombang tak begitu sangar. Dan terbentang pasir putih bertumpuk tak beraturan sedikit sampah berceceran. Serta dihiasi hewan-hewan kecil merangkak bernama jangkang.

Itulah pemandangan yang ada di pesisir pantai dimanapun Anda akan melihatnya. Didukung dengan perkampungan sedikit kumuh yang ada di pinggiran pantai. Dan disambut dengan ibu-ibu dengan pakaian sedikit porno dan kepulan asap ikan yang membuat bau harum menempel ke pakaian sampai tiba dirumah masing-masing.

 Orang mbelah itu sebutan nelayan di daerah penulis. Yang diartikan nelayan adalah  orang yang mata pencahariannya membelah laut alias menerobos laut untuk mencari ikan dengan menaiki kapal maupun perahu. Penulis memberi nama TNI alias Tentara Nelayan Indonesia.

Selain orang mbelah juga ada sebutan lain seperti miyang, anak laut bahkan ada yang memberi nama TNI yaitu tentara nelayan indonesia. Mendapatkan pangkat TNI tetapi syaratnya cukup satu dan tanpa ijasah dari sekolah yaitu tidak mabuk laut. 

Kapal adalah moda transportasi laut yang sudah ada sejak jaman dulu. Kapal bisa dimaknai alat untuk menangkap ikan yang jangkaunnya jauh. Dan ABKnya juga banyak. Mesinnya pun bervariasi. Mulai dari merk DongFeng hingga Fuso [mesin yang biasa dipakai truk-truk besar].

Disamping mesin yang menjadi andalan, KM [kapal mini] sekarang sudah ada 2 mesin  untuk pendorong kapal dan ditambah satu mesin lagi untuk gardan. Dan layar menjadi tambahan ketika mesin yang satunya mengalami kerusakan.

Pemilihan kayu yang sangat luar biasa bagus kualitasnya. Disamping itu harus tau umur kayu yang hendak dipakai untuk kapal. KM dan perahu sangatlah berbeda dalam tata fungsi dan kegunaannya.

Fungsi kapal adalah untuk mengangkut beban lebih banyak sedangkan perahu sangatlah terbatas. Anak buah kapal (ABK) lebih dari 20 orang tergantung besar kecilnya kapal, sedangkan ABK perahu cukup dengan 2 orang.

Kalau di jaman dahulu KM hanya membawa kompas sebagai penunjuk arah dan hanya mengandalkan rasi bintang dan dibantu dengan layar yang mengembang. Ketika malam gelap seorang nahkoda dapat mengetahui posisi dan arah perjalanan melalui rasi bintang tersebut sebelum alat navigasi elektronik ditemukan.

Bintang-bintang di tengah lautan sangat diperlukan ketika permukaan laut tidak ada yang dapat menjadi penunjuk arah. Ketika malam tiba tidak ada lagi daratan yang tampak, dan yang terlihat adalah kelap kelip bintang yang menghiasi langit.

Sungguh sangat luar biasa Alloh swt memberikan pembelajaran dengan bintang yang setia muncul dan tampak disaat dalam pelayaran di tengah samudera nan luas.

Berbeda dengan KM sekarang yang sudah dilengkapi dengan alat canggih seperti GPS. Termasuk di dalamnya dilengkapi berbagai alat elektronik yang serba canggih. Mulai dari VCD dan berbagai hiburanpun bisa dinikmati. Sehingga lebih mudah untuk memantau atau mencari keberadaan rumah ikan yang hendak dituju.

Keberadaan kapal tidak terlepas dengan adanya jangkar. Satu buah kapal paling tidak mempunyai 2 jangkar. Dan bisa lebih jikalau musim angin datang dan arus dibawah laut semakin deras. Jika tidak diperkuat dengan jangkar maka kapalpun akan hanyut terbawa arus bahkan tenggelam tak berbekas.

Ada kapal pasti ada nahkodanya. Dan ada kapal pasti ada jangkarnya. Ketika kapal selesai berlayar lalu bersandar pasti yang dibutuhkan adalah jangkar sebagai pengikat agar kapal tidak klarat ketika ombak mulai mengombang-ambingkan kapal.

Kapal ibarat tubuh kita, sedangkan jangkar adalah kekuatan iman kita. Walaupun kelihatan mewah, harga milyaran dan dilengkapi aksesoris mewah pula kalau tidak mempunyai iman maka akan terbawa arus yang terus menggerus.

Adalah fungsi tali untuk menghubungkan serta mengaitkan kapal dengan jangkar. Dengan adanya tali maka hubungan kapal dan  jangkar tidak bisa dipisahkan. Kapal tanpa jangkar bagaikan tubuh yang tidak punya kekuatan. Pasti terombang ambing oleh suasana. Tidak punya pendirian. Dan tidak punya tujuan hidup.

Sangatlah berbahaya jika tubuh kita tidak punya kekuatan alias lemah. Tidak punya Guru pendidik, lemah pendiriannya, anut grubyug dan tak tau arah jalannya. Dan akhirnya banyak kapal-kapal lain yang kena imbasnya. Alias nabrak sana nabrak sini dan akhirnya hancur berkeping-keping. Kalau istilah "wong mbelah" dalam bahasa jawa ora mupu karena sangking hancurnya.

Dan yang stres pasti yang punya kapal bahkan "tangisan cino". Karena seharusnya kapal untuk mencari ikan di laut dalam rangka  menyambung hidup malah hilang tiada berbekas alias "muspro".

Begitu pula adanya jangkar, pasti membutuhkan tali. Tidak ada gunanya jika jangkar dijatuhkan ke dalam laut tanpa seutas  tali. Maka akan sia-sia belaka fungsi jangkar tersebut. Begitu pula manusia, jika ingin imannya kuat sudah pasti harus ada yang menghubungkan. Yaitu Guru.

Diantara kapal dan jangkar ada benda yang jauh lebih manfaat yaitu tali. Tali adalah penghubung dan menyambungkan supaya tetap terjaga dalam menjalin hubungan kerja sama. Hubungan sampai ke akhirat kelak.

Itulah Guru, peran yang sangat penting untuk menumbuhkan kokohnnya iman. Sangatlah rugi jika hidup tidak punya "pegangan" berupa  tali untuk menghubungkan kepada Alloh azza wa jalla.

Terima kasih Guru, semoga kami tetap menjadi santri layaknya "kapal" yang selalu setia mengarungi samudera ilmu. Sehingga mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan barokah di kehidupan. Aamiin

Moch. Syuaib Arsalan Pelukis Kaligrafi.Vocalis Nasyid.  Memberikan ceramah di berbagai tempat di Surabaya



Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.