Kapal Dan Jangkar
Jika Anda berjalan menyusuri pantai pasti akan menemui
kapal atau perahu yang berjajar indah tertata rapi dengan bendera kesenangan si
empunya.
Awan sedikit diselimuti mendung bersama riak gelombang
tak begitu sangar. Dan terbentang pasir putih bertumpuk tak beraturan sedikit
sampah berceceran. Serta dihiasi hewan-hewan kecil merangkak bernama jangkang.
Itulah pemandangan yang ada di pesisir pantai dimanapun
Anda akan melihatnya. Didukung dengan perkampungan sedikit kumuh yang ada di
pinggiran pantai. Dan disambut dengan ibu-ibu dengan pakaian sedikit porno dan
kepulan asap ikan yang membuat bau harum menempel ke pakaian sampai tiba
dirumah masing-masing.
Orang mbelah itu
sebutan nelayan di daerah penulis. Yang diartikan nelayan adalah orang yang mata pencahariannya membelah laut
alias menerobos laut untuk mencari ikan dengan menaiki kapal maupun perahu.
Penulis memberi nama TNI alias Tentara Nelayan Indonesia.
Selain orang mbelah juga ada sebutan lain seperti miyang,
anak laut bahkan ada yang memberi nama TNI yaitu tentara nelayan indonesia.
Mendapatkan pangkat TNI tetapi syaratnya cukup satu dan tanpa ijasah dari
sekolah yaitu tidak mabuk laut.
Kapal adalah moda transportasi laut yang sudah ada sejak
jaman dulu. Kapal bisa dimaknai alat untuk menangkap ikan yang jangkaunnya
jauh. Dan ABKnya juga banyak. Mesinnya pun bervariasi. Mulai dari merk DongFeng
hingga Fuso [mesin yang biasa dipakai truk-truk besar].
Disamping mesin yang menjadi andalan, KM [kapal mini]
sekarang sudah ada 2 mesin untuk pendorong
kapal dan ditambah satu mesin lagi untuk gardan. Dan layar menjadi tambahan
ketika mesin yang satunya mengalami kerusakan.
Pemilihan kayu yang sangat luar biasa bagus kualitasnya.
Disamping itu harus tau umur kayu yang hendak dipakai untuk kapal. KM dan
perahu sangatlah berbeda dalam tata fungsi dan kegunaannya.
Fungsi kapal adalah untuk mengangkut beban lebih banyak
sedangkan perahu sangatlah terbatas. Anak buah kapal (ABK) lebih dari 20 orang
tergantung besar kecilnya kapal, sedangkan ABK perahu cukup dengan 2 orang.
Kalau di jaman dahulu KM hanya membawa kompas sebagai
penunjuk arah dan hanya mengandalkan rasi bintang dan dibantu dengan layar yang
mengembang. Ketika malam gelap seorang nahkoda dapat mengetahui posisi dan arah
perjalanan melalui rasi bintang tersebut sebelum alat navigasi elektronik
ditemukan.
Bintang-bintang di tengah lautan sangat diperlukan ketika
permukaan laut tidak ada yang dapat menjadi penunjuk arah. Ketika malam tiba
tidak ada lagi daratan yang tampak, dan yang terlihat adalah kelap kelip
bintang yang menghiasi langit.
Sungguh sangat luar biasa Alloh swt memberikan
pembelajaran dengan bintang yang setia muncul dan tampak disaat dalam pelayaran
di tengah samudera nan luas.
Berbeda dengan KM sekarang yang sudah dilengkapi dengan
alat canggih seperti GPS. Termasuk di dalamnya dilengkapi berbagai alat
elektronik yang serba canggih. Mulai dari VCD dan berbagai hiburanpun bisa
dinikmati. Sehingga lebih mudah untuk memantau atau mencari keberadaan rumah
ikan yang hendak dituju.
Keberadaan kapal tidak terlepas dengan adanya jangkar.
Satu buah kapal paling tidak mempunyai 2 jangkar. Dan bisa lebih jikalau musim
angin datang dan arus dibawah laut semakin deras. Jika tidak diperkuat dengan
jangkar maka kapalpun akan hanyut terbawa arus bahkan tenggelam tak berbekas.
Ada kapal pasti ada nahkodanya. Dan ada kapal pasti ada
jangkarnya. Ketika kapal selesai berlayar lalu bersandar pasti yang dibutuhkan
adalah jangkar sebagai pengikat agar kapal tidak klarat ketika ombak mulai
mengombang-ambingkan kapal.
Kapal ibarat tubuh kita, sedangkan jangkar adalah
kekuatan iman kita. Walaupun kelihatan mewah, harga milyaran dan dilengkapi
aksesoris mewah pula kalau tidak mempunyai iman maka akan terbawa arus yang
terus menggerus.
Adalah fungsi tali untuk menghubungkan serta mengaitkan
kapal dengan jangkar. Dengan adanya tali maka hubungan kapal dan jangkar tidak bisa dipisahkan. Kapal tanpa
jangkar bagaikan tubuh yang tidak punya kekuatan. Pasti terombang ambing oleh
suasana. Tidak punya pendirian. Dan tidak punya tujuan hidup.
Sangatlah berbahaya jika tubuh kita tidak punya kekuatan
alias lemah. Tidak punya Guru pendidik, lemah pendiriannya, anut grubyug dan
tak tau arah jalannya. Dan akhirnya banyak kapal-kapal lain yang kena imbasnya.
Alias nabrak sana nabrak sini dan akhirnya hancur berkeping-keping. Kalau
istilah "wong mbelah" dalam bahasa jawa ora mupu karena sangking
hancurnya.
Dan yang stres pasti yang punya kapal bahkan
"tangisan cino". Karena seharusnya kapal untuk mencari ikan di laut
dalam rangka menyambung hidup malah
hilang tiada berbekas alias "muspro".
Begitu pula adanya jangkar, pasti membutuhkan tali. Tidak
ada gunanya jika jangkar dijatuhkan ke dalam laut tanpa seutas tali. Maka akan sia-sia belaka fungsi jangkar
tersebut. Begitu pula manusia, jika ingin imannya kuat sudah pasti harus ada
yang menghubungkan. Yaitu Guru.
Diantara kapal dan jangkar ada benda yang jauh lebih
manfaat yaitu tali. Tali adalah penghubung dan menyambungkan supaya tetap
terjaga dalam menjalin hubungan kerja sama. Hubungan sampai ke akhirat kelak.
Itulah Guru, peran yang sangat penting untuk menumbuhkan
kokohnnya iman. Sangatlah rugi jika hidup tidak punya "pegangan"
berupa tali untuk menghubungkan kepada
Alloh azza wa jalla.
Terima kasih Guru, semoga kami tetap menjadi santri layaknya
"kapal" yang selalu setia mengarungi samudera ilmu. Sehingga
mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan barokah di kehidupan. Aamiin


Tidak ada komentar: