Keutamaaan Rosululloh saw. di Mata Sahabat Umar r.hu (3)

Selasa, November 24, 2020

Imam al-Gozali di dalam ihya’nya mengabadikan untaian mutiara yang keluar dari lisan sahabat Umar bin Khottob r.hu; saat Rosululloh saw. [orang yang paling dicintainya melebihi dirinya sendiri] pindah ke rofiqil a’la. Dengan nada penuh haru;

بِأَبِيْ أَنْتَ وَأُمِّي يَا رَسُوْلُ اللهِ لَئِنْ كَانَ سُلَيْمَانَ أَعْطَاهُ اللهُ الرِيْحَ غُدُوُهَا شَهْرٌ وَرَوَاحُهَا شَهْرٌ فَمَاذَا بِأَعْجَبَ مِنَ الْبُرَاقِ حِيْنَ سِرْتَ عَلَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ السَّابِعَةِ ثُمَّ صَلَّيْتَ الصُّبْحَ مِنْ لَيْلَتِكَ بِلْأَبْطَحِ صَلَّى اللهُ عَلَيْكَ

Ayah dan ibuku menjadi tebusannya ya Rosulullulloh saw. sungguh ALLOH swt. telah menganugerahi nabi Sulaiman angin. Angin yang bisa membawanya bepergian di waktu pagi sejauh perjalanan satu bulan, begitu pula ketika bepergian diwaktu sore sejauh perjalanan satu bulan. Namun hal itu tidak lebih menakjubkan jika dibanding dengan Buroq. Yang memperjalankan engkau di waktu malam hingga ke langit tingkat ketujuh dalam waktu semalam, kemudian engkau sholat subuh di tanah yang banyak batunya di malam yang sama. Semoga rohmat ta’dzim senantiasa tercurah kepada engkau ya Rosululloh saw.

 

Seperti kita ketahui bersama. Mukjizat nabi Sulaiman as. ialah dapat menundukkan angin. Sehingga kemana pergi beliau manaiki angin. Sebagaimana firman ALLOH swt.

 

فَسَخَّرۡنَا لَهُ ٱلرِّيحَ تَجۡرِي بِأَمۡرِهِۦ رُخَآءً حَيۡثُ أَصَابَ

“Kemudian Kami tundukkan kepadanya angin yang berhembus dengan baik menurut ke mana saja yang dikehendakinya.” [Qs. Shod[38]: 36]

Juga dalam firmanNYA;

وَلِسُلَيۡمَٰنَ ٱلرِّيحَ غُدُوُّهَا شَهۡرٞ وَرَوَاحُهَا شَهۡرٞۖ وَأَسَلۡنَا لَهُۥ عَيۡنَ ٱلۡقِطۡرِۖ وَمِنَ ٱلۡجِنِّ مَن يَعۡمَلُ بَيۡنَ يَدَيۡهِ بِإِذۡنِ رَبِّهِۦۖ وَمَن يَزِغۡ مِنۡهُمۡ عَنۡ أَمۡرِنَا نُذِقۡهُ مِنۡ عَذَابِ ٱلسَّعِيرِ

Dan Kami (tundukkan) angin bagi Sulaiman, yang perjalanannya di waktu pagi sama dengan perjalanan sebulan dan perjalanannya di waktu sore sama dengan perjalanan sebulan (pula) dan Kami alirkan cairan tembaga baginya. Dan sebahagian dari jin ada yang bekerja di hadapannya (di bawah kekuasaannya) dengan izin Tuhannya. Dan siapa yang menyimpang di antara mereka dari perintah Kami, Kami rasakan kepadanya azab neraka yang apinya menyala-nyala.” [Qs. saba’[34]: 12]

 

Menurut Dr. H.M. Amir HM. S.Ag di dalam bukunya “Kisah Nabi Sulaiman dalam Alquran” mengomentari ayat di atas menurut al-Maroghi yang dimaksud dengan guduwuha syahrun yaitu jalannya angin di waktu pagi sejauh perjalanan satu bulan. Sedangkan warowahuha syahrunyaitu jalannya angin di waktu sore sejauh perjalanan satu bulan.

 

Sehingga yang dimaksud ayat tersebut ialah ALLOH menundukkan untuk Nabi Sulaiman angin. Angin itu berhembus di waktu pagi sampai tengah hari sejauh perjalanan satu bulan dan angin berhembus di waktu sore yakni dari tengah hari hingga waktu maghrib juga sejauh perjalanan satu bulan.

 

Lebih lanjut al-Maroghi mengutip pendapat al-Hasan Basri mengatakan bahwa nabi Sulaiman as. Pergi menaiki tikarnya dari Damsyik, kemudian singgah di Istakhor untuk makan siang. Lalu meninggalkan Istakhor di waktu sore dan bermalam di Kabul. Antara Damsyik dan Istakhor sejauh perjalanan satu bulan, begitu pula antara Istakhor dan Kabul juga perjalanan satu bulan.

 

hal demikian adalah perjalanan yang luar biasa. Kemana pergi tinggal duduk diatas tikar lalu tikar itu diterbangkan angin. Sesuatu yang tidak bisa ditempuh oleh orang biasa kecuali manusia-manusia pilihan ALLOH swt. seperti nabi Sulaiman as. Yang sengaja dipilih ALLOH untuk menundukkan angin.

 

Namun hal itu menurut sahabat Umar r.hu tidak lebih manakjubbkan jika dibanding kendaraan Rosululloh saw. yaitu Buroq. Yang memerjalankan beliau di waktu malam; mulai dari Masjidil Harom ilal Masjidil Aqsho. Dari Masjidil Aqsho hingga langit ke tujuh. Dari langit ke tuju hingga Sidrotul Muntaha. Dan dari Sidrotul muntaha kembali lagi ke Bumi ditempuh hanya dalam waktu satu malam. Sehingga beliau bisa sholat subuh di malam yang sama. Sungguh kendaraan Rosululloh saw. jauh lebih menggawokkan jika dibanding dengan kendaraan yang dimiliki nabi Sulaiman as.


Shollallohu ‘alaika ya sayyidi ya Rosulalloh Muhammad ibnu Abdulloh

 

Mukhtarom Arsalan Pengasuh Ribath Ibadurrohman el-Luthfy, Benowo. Pernah menjadi mukimer Pondok Pesantren Tambak Bening



Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.